Aktualita

Prof Dr Bahtiar Effendy dan Panji Masyarakat

Foto : instagram Bahtiar Effendy
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Kepergian Prof. Dr. Bahtiar Effendy menuju kehidupan yang abadi, Kamis dini hari lalu, juga merupakan kehilangan yang besar bagi keluarga Panji Masyarakat. Dengan intensitas yang berbeda, mengikuti kiprah dan perannya di dunia akademik dan persyarikatan Muhammadiyah, perjalanan hidup Bahtiar tidak bisa dipisahkan dari perjalanan media yang didirikan Buya Hamka ini. Dari mulai sebagai penulis lepas sampai dia menjadi redaktur sebelum berangkat studi ke Amerika pada tahun 1986.

Boleh dikatakan, Panjimas adalah kawah candradimuka bagi calon cendekiawan muslim yang ingin mengasah ketajaman pena dan memperluas cakrawala pemikiran. Tak heran jika dari sini lahir intelektual-pembaharu seperti Prof. Dr. Nurcholish Madjid. Bahtiar gabung dengan Panjimas bersama para seniornya di IAIN Syarif Hidayatullah yang juga aktivis HMI Cabang Ciputat. Antara lain alm Iqbal Saimima, Komaruddin Hidayat, Fachry Ali, Azyumardi Azra. Melalui Panjimas, ia tidak hanya mempublikasikan artikelnya-artikelnya, terutama mengenai isu-isu intsrnasional yang menjadi tanggung jawabnya, tapi juga menjalin dan memperluas relasi dengan berbagai kalangan. Termasuk para cendekiawan dan aktivis muslim seperti Adi Sasono, Dawam Rahardjo, Malik Fadjar, Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Utomo Dananjaya, dan para birokrat seprti Marie Muhamnad, Saadillah Mursyid, serta politisi seperti Akbar Tandjung dari Golkar dan para politisi PPP. Dia juga bergaul akrab dengan tokoh-tokoh ormas Islam seperti Fahmi Saifuddin (NU) dan tentu saja tokoh-tokoh Muhammadiyah.

Meski berasal dari dan berlatar belakang NU, sebagaimana sobat karibnya Din Syamsuddin, Bahtiar kemudian memilih berkhidmat di Muhammadiyah sampai akhir hayatnya, sebagai salah satu ketua PP. Lagi-lagi meskipun aktivis HMI, ia bersama aktivis IMM, Din Syamsuddin dan Anwar Abbas, ia dikenal sangat dekat dengan alm. Lukman Harun. Lukman yang juga bagian tak terpisahkan dari Panji Masyarakat tidak saja dikenal sebagai salah seorang tokoh penting berdirinya Sekber Golkar, Parmusi dan KOKAM, juga tokoh Muhammadiyah dengan jaringan internasional yang sangat luas, di antaranya melalui World Conference on Religion and Peace (saat ini dilanjukan oleh Din Syamsuddin).

Seperti dikemukakan Prof Abdul Hakim Sydarnoto, koleganya di UIN Jakarta dan Muhammadiyah, “Barangkali tak berlebihan untuk disebut bahwa Bahtiarlah aktivis HMI Ciputat yang lebih lama secara institusional, terlibat aktif di Muhammadiyah dibandingkan dengan para seniornya, Komaruddin Hidayat, Azyumardi Azra dan Fachry Ali. Hingga wafatnya, Bahtiar tercatat sebagai salah seorang Ketua PP Muhammadiyah.”

Redaktur Ahli
Semasa kuliah di Ohio University dan Ohio State University (OSU), Bahtiar tetap aktìf mengirimkan tulisan-tulisannya untùk Panjimas. Pun ketika majalah ini diteruskan pengelolaannya dari alm Rusydi Hamka kepada Bambang Wiwoho dan kawan-kawan pada akhir 1996. Bahtiar bersama para senior Panjimas dan cendekiawan muslim lainnya seperti Bang Lukman Harun ikut merumuskan khittah Panjimas di bawah manajemen baru ini. Waktu itu dia memang sudah kembali ke Tanah Air. Kebetulan penulis dan alm. Syu’bah Asa yang mendapat tugas dari Pemimpin Umum Bambang Wuwoho untuk menyusun editorial policy yang menjadi panduan awak redaksi dan sikap Panjimas dalam menghadapi berbagai isu.

Bahtiar yang setelah kepulangannya dari Amerika dengan mengondol gelar Doktor Ilmu Politik dari OSU mengajar di UIN Jakarta sebagai PNS, kemudian menjadi Redaktur Ahli Panji Masyarakat. Dia melakukan wawancara dengan sejumlah tokoh dan tentu saja mengirimkan kolom-kolomnya. Tulisan-tulisannya di Panjimas, bersama artikel dari media lain, kemudian dibukukan oleh penerbit Mizan. Judulnya (Re) Politisasi Islam: Bisakah Islam berhenti dari politik?

Tentu amat disayangkan Panji Masyarakat harus menghentikan penerbitannya pada rahun 2001. Penulis sendiri, yang sesama alumni Pondok Pabelan dan orang yang dia ajak masuk Panji Masyarakat pada tahun 1986 yang waktu itu dipimpin Syafii Anwar, tetap menjalin kontak dengan Bahtiar, dan terlibat dalam sejumlah proyek penulisan. Dia juga diminta untuk menjadi redaktur ahli kembali ketika kami menerbitkan semacam neo-Panji Masyarakat dengan label Panjimas, sebagai media yang terbit tengah bulanan dan kemudian bulanan, yang lebih menekankan segi kedalaman analisis ketimbang kehangatan berita. Sayang media inipun harus tutup di tengah jalan.

Syahdan, pada pertengahan 2018 muncul gagasan untuk menerbitkan kembali Panji Masyarakat dalam versi online seperti yang sekarang. Dan lagi-lagi, meskipun di tengah-tengah sakitnya dan kesibukannya menyiapkan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan sebagai Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Bahtiar Effendy masih bersedia untuk menjadi bagian dari Redaksi Panji Masyarakat.

Selamat jalan, Mas Bahtiar. Gagasan-gagasan dan cita-cita Anda untuk kemajuan media yang menempatkan dirinya sebagai jembatan umat ini, akan terus kami usahakan dan wujudkan.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda