Mutiara

Diselamatkan Cinta

Written by A.Suryana Sudrajat

Kata Nabi, Tuhan heran kepada pemuda yang tidak pernah jatuh cinta.

Tujuh golongan yang dilindungi Allah Swt pada hari yang tiada perlindungan selain lindungan-Nya. Mereka, demikian hadis, adalah pemimpin yang adil. Pemuda yang tumbuh dalam ibadah, laki-laki yang hatinya tergantung di masjid, dua laki-laki yang saling mencintai karena Allah—keduanya berkumpul dan berpisah karena itu. Golongan kelima, laki-laki yang diajak perempuan yang punya kedudukan lagi cantik dan berkata, “Aku takut kepada Allah rabbal-alamin”. Lalu, laki-laki yang mengeluarkan sedekah sedekah kemudian merahasiakan sehingga tangan kanannya tidak mengetahui yang dikeluarkan tangan kirinya. Terakhir, laki-laki yang menyebut Allah kala sendirian sampai menetaskan air mata.

Syahdan, inilah ihwal golongan yang kelima. Pada zaman baheula di kota Kufah, nun di Irak Timur Tengah sekarang tersebut seorang pemuda tampan lagi rajin beribadah. Laki-laki intelek yang gemar berijtihad ini suatu hari bertandang ke perkampungan Bani Nakha. Ia berpapasan dengan seorang gadis cantik dan langsung sirr. Meski hatinya menggebu-gebu ingin cepat memiliki sang gadis, ia tidak main tembak langsung. Dia memilih jalan memutar. Pertama ia singgah di tempat yang berdekatan dengan rumah sang gadis. Lalu mengirim utusan untuk menyampaikan lamarannya kepada bapak si gadis. Ternyata, kabar buruk yang kemudian ia terima: gadis sudah dilamar anak pamannya sendiri. Meski demikian, gadis itu tetap menyambut cintanya. Dan terbukti keduanya saling merindukan.

Lantaran tidak tahan, si gadis mengirim pesan lewat seorang utusan. Katanya, “Aku sudah mendengar betapa besar cintamu kepadaku. Aku pun sedih karenanya. Jika kamu mau, aku bisa menemuimu. Atau, aku bisa mengatur cara agar kamu bisa masuk ke dalam rumahku.” Melalui utusan itu pula si pemuda menjawab: “Dan tidakkah ada pilihan di antara kedua hal yang dicintai ini? Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar jika aku mendurhakai Tuhanku.

Ketika sampai perkataan itu kepada si gadis, ia menggerendeng, “Apakah dalam keadaan seperti ini dia masih takut kepada Allah ? Demi Allah, tak seorang pun yang lebih berhak atas demikian itu kecuali seorang saja, meskipun manusia bisa bersekutu dalam masalah ini.” Setelah peristiwa itu, dia meninggalkan segala urusan dunia dan fokusnya hanya pada ibadah semata. Meski demikian, ia tidak bisa memadamkan cinta dan kerinduannya kepada pemuda itu hingga akhirnya wafat dalam keadaan demikain.

Pemuda itu pun menziarahi kuburnya, menangis, dan berdoa untuknya. (Ebiet G. Ade menulis bait berikut untuk Camelia IV-nya yang baru wafat: Sorgalah di tanganmu/Tuhanlah di sisimu/ Kematian hanyalah tidur panjang/Maka mimpi indahlah engkau…). Suatu ketika, pemuda itu tak mampu menahan kantuknya dan dia pun tertidur di atas pusara. Lalu mimpi bertemu dengan gadis yang dicintainya itu—dalam rupa yang lebih menawan, kata Al-Mubarrid, si empunya cerita, sebagaimana dikisahkan ulang Ibnul Qaiyim, ulama salaf yang juga konsultan cinta itu. Sapanya:

“Bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu temukan setelah berpisah denganku?”

“Cinta yang manis. Cintamu adalah cinta yang menuntun kepada kebaikan dan kesantunan,”jawab si gadis.

“Sampai kapan kamu seperti ini?”

“Hingga mencapai kenikmatan dan kehidupan yang kekal di taman sorga yang abadi.”

“Panggil aku di sana karena aku tak dapat melupakanmu.”

“Demi Allah aku pun begitu. Aku sudah memohon kepada Pelindungku dan Pelindungmu afar menyatukan kita berdua. Maka tolonglah aku dengan sekuat tenaga.”

“Kapan aku bisa melihatmu lagi?”

“Tidak akan lama lagi”

Diceritakan, tujuh hari setelah mimpi yang mendebarkan itu, si pemuda pun mangkat.

Lain pemuda Kufah, lain pula cerita orang muda dari Madinah. Suatu malam Umar ibn Khattab meronda. Tiba-tiba ia mendengar seorang wanita bersenandung, “Adakah caraku untuk meminum arak atau jalanku yang menghantarkan diriku kepada Nashr ibn Hajjaj”?

“Tidak  akan pernah terjadi selagi Umar masih hidup,” gumam Amirul Mukminin.

Esok paginya Umar menyuruh mencari si Nashr. Eh, ternyata orangnya memang ganteng. Umar memintanya meninggalkan Madinah. Nashr pun pergi hingga sampai Basrah. Di dini ia menginap di rumah Mujasyi ibn Mas’ud, yang punya istri cantik. Gawat Nashr langsung tertarik, begitu juga istri Mujasyi. Kalau mereka berbincang, si istri ikut nimbrung. Suatu kali, Nashr menulis di atas tanah yang ditujukan kepada istri Mujasyi, yang segera dibalas: “Begitu pula aku.” Ini diketahui Mujasyi, tapi ia tidak ikut-ikutan menulis di atas tanah. Dipanggilnya seorang penulis dan disuruh membacakan: “Sesungguhnya aku masih mencintaimu. Andai  cinta itu ada di atasmu, dia akan memayungimu, dan jika di bawahmu, ia akan menyanggamu.”

Mengetahui hal itu, bukan main malunya Nashr. Ia pun segera meninggalkan rumah Mujasyi. Lama-lama badannya kurus dan lemah. Mujasyi rupanya tidak tega, ia meminya istrinya menemui Nashr.

“Pergilah dan rengkuhkan Nashr ke dalam dadamu dan berilah dia makanan dengan tanganmu sendiri,” kata Mujasti. Istrinya menolak. Tapi Nashr tetap memaksa sampai akhirnya bersedia. Benar, Nashr sembuh—dan meninggalkan Basrah.

Menurut Ibnul Qayyim, usaha semacam pelukan itu, masih dalam koridor yang dibolehkan. Hal ini, kata dia, serupa dengan pengobatan menggunakan khamr bagi orang yang membolehkannya, bahkan lebih ringan itu. Sebab meminum khamr termasuk dosa besar, sedangkan pelukan merupakan dosa kecil.

Rasulullah Saw bersabda: “Tuhanmu heran kepada pemuda yang tidak memiliki rasa cinta.”

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat
  • hamka