Cakrawala

Dakwah dan Politik

Written by Panji Masyarakat

Politikdandakwahberangkatdariparadigmayang berbeda.  Bisakah seseorang menjadi politikus sekaligus pendakwah?

Hubungan dakwah dan politik sangat kompleks. Sebab, selain karena sasaran dakwah sangat beragam, paradigma keduanya pun sangat berbeda. Dakwah berangkat dari sikap ingin berbagi keselamatan, sementara politik berangkat dari ambisi memperoleh kekuasaan. Karena itu, agak sukar dipahami kalau kedua paradigma ini digabungkan oleh seseorang atau satu lembaga. Sukar digambarkan kalau ada seorang politikus sekaligus menjadi pendakwah atau sebaliknya.


Seorang politikus berusaha mempengaruhi orang lain untuk tujuan politik dan bahkan uumumya untuk ambisi politik pribadinya. Walaupun bisa saja program politik yang diperjuangkannya adalan untuk kepentingan umum. Sebab, dia akan menganggap “lawan” terhadap mereka yang tidak mendukungnya. Sebagai lawan politik, mereka adalah saingan yang harus dikalahkan.

Seorang pendakwah berusaha mengajak orang lain bukan untuk mengikuti dia, tetapi untuk mengikuti ajaran yang diyakininya akan menyelamatkan manusia. Dia tidak membenci mereka yang belum mau menerima ajakannya. Malahan dia merasa kasihan tyerhadap mereka dan akan selalu mendoakan mereka agar beroleh hidayah dari Tuhan.

Dalam konteks politik, seorang pendakwah merasa terpanggil bagaimana agar kehidupan politik berjalan tak lepas dari  nilai-nilai moral. Karena itu, sasaran dakwah adalah bagaimana melahirkan insan-insan politik yang mempunyai integritas moral, yang setia pada hati nurani, yang menghayati al-ahlak al-karimah. Bukankah nabi Muhammad sendiri bersabda bahwa beliau dutus hanya untuk menyempurnakan keluhuran akhlak manusia?

Kalau para politikus bersaing untuk merebut kekuasaan, maka yang mereka perebutkan adalah kesempatan untuk mewujudkan program mereka, yang secara padat diungkapkan sebagai membentuk masyarakat adil dan makmur. Pencapaian cita-cita tersebut tak bisa lain kecuali melalui sistem dan struktur politik yang efektif. Bagi para pendakwah, itu saja belum cukup. Yang didambakan adalah juga masyarakat yang bermoral.

Pembentukan masyarakat yang berakhlak atau bermoral itu memerlukan, antara lain, keteladanan dari para tokoh publik. Apalagi para tokoh agama. Tentu saja ini tak berarti bahwa dakwah hanya bersifat elitis, terbatas pada kelompok atas saja. Dakwah juga harus memasuki masyarakat l,uas, terutama untuk membangun sikap kritis mereka terhadap praktek tercela. Ini berarti, dakwah mestilah kontekstual. Pesan-pesan dakwah hendaknya mempunyai kaitan dengan problema yang dihadapi masyarakat.

Dalamkonteks ini, kita bisa menyebut salah satu contoh yang sudah membudaya dalam masyarakat kita, yang seharusnya menjadi perhatian para pendakwah dan mubalig. Yakni praktek suap dan sosgok atau yang sekarang popular dengan istilah KKN. Inilah yang membuat bangsa dan negara kita terperosok kedalam krisis yang sangat fatal. Padahal Nabi Muhammad pernah bersabda, Ar-rasyi wal-murtasy fin-nar. Artinya,”Baik yang menyogok ataupun yang disogok sama-sama dalam neraka.”

Praktik sogok menyogok merupakan kanker yang sangat merusak masyarakat kita. Ia membuat birokrasi kita kotor dengan segala dampaknya. Membebani masyarakat, merugikan negara, menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi, melahirkan politikus yang tidak mempunyai integritas moral, dan sebagainya. Anehnya, praktek semacam ini tak kurang juga dilakukan oleh mereka yang taat beribadah.

Kalau sasaran dakwah adalah ingin menyelamatkan manusia dari ancaman neraka, maka salah satu agenda yang paling mendesak saat ini adalah memberantas praktek semacam itu. Dakwah hendaknya menyadarkan masyarakat kita untuk tidak mau menyogok. Kalau ini bisa dilaksanakan, itu artinya dakwah telah memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap penyelamatan bangsa dari ancaman malapetaka.

Dengan menyatakan ini, saya ingin menekankan bahwa peranan yang dapat di mainkan para pendakwah tak kalah pentingnya dengan perjuangan dalam bidang politik. Mudah-mudahan.

Penulis: Dr Djohan Effendi, pernah menjabat Mensesneg pada era Presiden Abdurrahman Wahid. (Sumber: Panji Masyarakat, 7 Juli 1999)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda