Cakrawala

Memaknai Ketuhanan Yang Maha Esa

Written by Panji Masyarakat

Tauhid membebaskan manusia dari perbudakan dan penjajahan oleh orang lain.  Manusia yang bertauhid tak akan mengizinkan dirinya untuk memperbudak dan menjajah, atau diperbudak atau dijajah orang lain.

Dalam wacana Islam, istilah Ketuhanan Yang Maha Esa disebut tauhidullah. Tauhidullah merupakan kaidah dasar integrasi umat (wahdatul ummah). Tauhidullah berarti suatau pengakuan bahwa Allah itu Esa, tak ada sekutu bagi-Nya. Mengesakan Allah berarti mengakui dengan sepenuh keyakinan bahwa hanya Allah sendiri yang menjadikan dan memelihara sekalian alam. Yang menghidupkan dan mematikan. Yang member rezeki kepada sekalian makhluk-Nya. Yang dapat memberikan manfaat dan mudarat.

Hanya Allah sendiri yang menentukan batasan-batasan dan ketentuan-ketentuan. Yang menetapkan peraturan-peraturan dan undang-undang. Hanya Allah sendiri yang berhak disembah dan dibadahi hamba-Nya. Konsekuensi logis dari konsep tauhidullah tadi, bahwa penghambaan anatara makhluk yang satu dengan yang lain tidak dimungkinkan.

Seorang manusia yang bertauhid akan mengikhlaskan seluruh hidup dan kehidupannya kepada Allah, menyucikan segala amaliah lahir dan batinnya dengan beribadah kepada Allah, dan hanya berbakti, menyembah, tunduk, patuh, dan cinta kepada-Nya. Tujuan hidupnya ialah Allah dan harapan yang dikejarnyaadalah keridhaan Allah.

Apabila tauhid telah tertanam kuat dalam hati seseorang dan telah berurat dan berakar dalam jiwanya, maka akan terbebaslah ia dari berbagai ikatan dan tekanan perhambaan, perbudakan, serta penjajahan. Baik oleh sesama manusia maupun oleh harta benda dunia dan hawa nafsunya.

Jiwa kemanusiaannya akan bebas untuk meningkat kepada derajat yang tinggi, mencapai kedudukannya yang mulia di sisi Allah. Dia hanyalah menghambakan diri kepada Allah semata. Segala yang selain Allah adalah hamba dan makhluk. Perhubungannya dengan Allah adalah langsung, tak terhalangoleh perantaraan pendeta atau dukun.

Tauhid membebaskan manusia dari perbudakan dan penjajahan oleh orang lain.  Manusia yang bertauhid tak akan mengizinkan dirinya untuk memperbudak dan menjajah, atau diperbudak atau dijajah orang lain. Setiap perbudakan dan penjajahan itu pada hakikatnya sama dengan mensyarikatkan Tuhan. Dia tidak akan menjadikan guru dan pemimpinnya sebagai Tuhan sehingga jiwanya tak beku dan bebas dari kultus pimpinan.

Tauhid juga membebaskan manusia dari perasaan takut. Orang yang bertauhid akan selalu berjihad memperjuangkan dan mempertahankan yang hak dengan penuh keberanian, meski harus mengorbankan jiwanya. Dia juga tak akan dapat dipaksa untuk tunduk kepada — dan menuruti — kebatilan. Persoalan hidup dan mati itu sepenuhnya diserahkan kepada Allah. Kematian dianggap sebagai peralihan dari kehidupan dunia ke kehidupan akhirat. Mati, pada hakikatnya, adalah kembali ke hadirat Allah, dan mati syahid merupakan kebaktian yang tinggi kepada-Nya.

Seorang yang bertauhid juga tak akan mengenal perasaan lemah, lesu, dan putus asa, serta pantang mundur dalam memperjuangkan kebenaran (agama) lantaran tertimpa bahaya atau melihat kekuatan kebatilan yang besar. Menang dan kalah, atau selamat dan celaka, sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah. Segala halangan dan rintangan dihadapi dengan penuh kesabaran dan ketabahan serta keyakinan akan pertolongan Allah.

Perasaan takut akan jatuh fakir dan miskin merupakan bisikan setan. Perasaan itu dapat menimbulkan berbagai  kecurangan dan kejahatan. Karena takut fakir dan miskin, orang dapat berbuat korupsi, menerima uang suap, berbuat tak jujur, menjadi pengecut, tak beranimenyatakan kebenaran lantaran takut kehilangan sumber penghasilannya, bahkan sampai berani empertukarkan yang hak dengan yang batil.

Tauhid membebaskan manusia dari perasaan takut jatuh fakir dan miskin dengan memberikan keyakinan bahwa Allah sendiri yang menanggung dan member rezeki sekalian makhluk-Nya. Manusia dibebaskan dari cinta keduniawian dengan memberikan kesadaran bahwa hanya Allah yang berhak dicintai dan disembah. Dunia ini tak lagi dipandang sebagai tujuan, tapi tempat berjuang dan beramal.

Tauhidullah menunjukan manusia dalam beberagamaan yang hak dengan akidah yang lurus  dan taat beribadah, dengan muamalah yang maju, dan dengan ahlak mulia. Substansi akidah disebut iman, substansi ibadah dan muamalah disebut islam, dan substansi akhlak mulia disebut ihsan. Kumulasi iman, islam dan ihsan disebut takwa. Implementasi ketakwaan mewujudkan kehidupan yang baik (hayyatan tayyibah), dengan pribadi yang tenang (muthmainnah), keluarga harmonis (sakinah), masyarakat marhamah, dan negara sebagai baldatun thayyibatun wa-rabun ghafur.     

Penulis: Prof. Dr. Endang Soetari, rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung 1995-2003 (Sumber : Panji Masyarakat, 21 Juli 1999  

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Hamka
  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566