Tasawuf

Tembang Dakwah (2): Dari Suluk Tasawuf Ke Suluk Wayang

Written by B.Wiwoho

Ada sejumlah cerita wayang khas Jawa yang diciptakan para wali untuk berdakwah. Yang paling terkenal adalah lakon Dewa Ruci, Jamus Kalimasada dan Petruk Jadi Ratu. Kisah Dewa Ruci adalah kisah seorang salik (dalam hal ini tokoh Bima) dalam menempuh jalan tasawuf

Jamus Kalimasada, mengisahkan tentang pusaka yang paling sakti tiada tara, yaitu “dua kalimat syahadat (kalimasada)”. Sedang Petruk Jadi Ratu, mengisahkan seorang rakyat jelata yang dengan menguasai pusaka jamus kalimasada, kemudian bisa menjadi Raja yang berkuasa dan kaya raya. Tetapi karena ia tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya dan pula tidak memiliki kapasitas yang memadai sebagai Raja, akhirnya kembali menjadi orang biasa lagi. Artinya, dua kalimat syahadat itu sangat penting, tapi tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus diamalkan dalam perilaku dan kehidupan yang tidak dikotori oleh kobaran hawa nafsu, sehingga menjadi amal saleh. Oleh sebab itu, meskipun kita sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, kita juga masih harus melengkapinya dengan menguasai serta mengendalikan hawa nafsu kita, agar hidup kita bisa selamat di dunia maupun di akhirat kelak.

Kisah Petruk Jadi Ratu juga dimaksudkan  buat mengingatkan umat Islam terutama para umaroh dan ulama agar sungguh-sungguh mengamalkan hakikat dua kalimat syahadat dalam kehidupan, bermasyarakat serta dalam tata pemerintahan, dan bukan hanya sekedar pemanis bibir. Jika tidak jangan kecewa apabila hamba sahaya, rakyat jelata seperti Petruk protes dan merebut kekuasaan.

Yang menarik dari seni pertunjukkan wayang tersebut, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus yang merupakan dalang wayang kulit versi Islam generasi pertama, menembangkan suluk sebagai pertanda untuk mengawali setiap babak pertunjukkan. Suluk yang ditembangkan, menggambarkan keadaan, suasana atau situasi dan kondisi dalam babak yang akan dimainkan. Dewasa ini kita mengenal puluhan jenis suluk dalam pertunjukkan wayang, yang tidak kita ketahui siapa penciptanya dan kapan diciptakan. Karena setiap dalang dimungkinkan untuk menciptakan sendiri suluk yang dikehendakinya. Misalkan, bila sang dalang ingin menggambarkan betapa adil bijaksananya seorang  pemimpin dalam hal ini raja, maka ia bisa melantunkan suluk sebagai berikut:

Oooooo, dene utamaning nata

berbudi bawa laksana

ooooooo, lire berbudi mangkana……” dan seterusnya.

(menggambarkan watak utama seorang raja, yaitu berbudi luhur yang diamalkan dalam kehidupannya. Adapun yang dimaksud dengan berbudi luhur yaitu…….dan seterusnya).

Dari suluk-suluk wayang yang tidak diketahui persis jumlahnya itu, ada sebuah suluk yang diyakini oleh para dalang dan penggemar cerita wayang sebagai suluk gubahan Sunan Kalijaga (tapi ada pula yang berpendapat karya Sunan Giri Perapen tahun 1618M, berdasarkan Kitab Musarar tentang Prabu Jayabaya), yaitu sebagai berikut:

“Oooooooooo

kali ilang kedunge

pasar ilang kumandange

wong wadon ilang wirange

wong jujur malah kojur

wong clutak tambah galak

Oooooo………….”

Artinya adalah:

–      Sungai sudah tidak berlubuk lagi (karena kerusakan alam yang mengakibatkan pendangkalan).

–      Pasar sudah kehilangan gaungnya (karena rakyat susah hidup dan menjadi miskin).

–      Kaum perempuan sudah tidak punya rasa malu (karena rusak moralnya).

–      Orang jujur justru celaka.

–      Orang serakah semakin menjadi-jadi (karena budi baik dikalahkan oleh kejahatan, ketidakadilan merajalela, tatanan hukum kacau balau).

Ada beberapa versi dari suluk ini, misalkan versi pesantren tradisional Jawa.

Setelah “wong wadon ilang wirange”, baris selanjutnya adalah:

–      wong lanang ilang wibawane (para pria hilang kewibawaannya).

–      mulo enggal-enggalo topo lelono njajah desa milang kori (maka segeralah pergi bertapa dengan cara berkelana ke desa-desa melewati tak terhitung jumlah pintu rumah).

–      Goleko wisik soko Sang Hyang Widhi/Ilahi (mencari petunjuk atau hidayah dari Tuhan Yang Maha Esa/Ilahi).

Dalam pentas wayang, suluk tersebut secara umum menggambarkan tatanan kehidupan masyarakat yang rusak karena buruknya kepemimpinan sang raja dan para punggawanya, yang biasanya disambung dengan babak berikutnya yang diawali dengan suluk yang menggambarkan kemarahan alam dengan datangnya berbagai bencana. Suluk ini oleh ulama pujangga Ronggowarsito pada pertengahan abad ke 19, juga dikutip guna menggambarkan tanda-tanda akan datangnya Zaman Kolobendu yang lebih dikenal sebagai Zaman Edan, yaitu zaman yang penuh dengan aneka kejahatan dan bencana. Sementara bagi kalangan santri, suluk ini dijadikan sebagai perintah berdakwah menyebarkan agama Islam dengan cara berkelana.

Suluk Sunan Kalijaga (atau mungkin Sunan Giri), kekasih Allah ini, yang diciptakan sekitar enam abad yang lalu, sungguh menarik, sarat makna dan sangat visioner, bahkan sesuai dengan gambaran  keadaan sekarang. Maka, rasanya perlu jadi bahan renungan kita semua dewasa ini.

Semoga.

 (Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda