Mutiara

Perempuanlah yang Memilih

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Segi-segi kecantikan perempuan dalam teks keagamaan. Tentang Atikah yang digandrungi para sahabat.

Berhari-hari Abdullah dalam gundah. Selalu pikirannya kepada Atikah. Ia pun melakukan aksi duduk di tempat biasa dilampaui ayahnya. Ketika yang ditunggu akhirnya muncul, kontan Abdullah menangis—dan bersyair:

    Aku tak melihat sepertiku yang tega menceraikannya

    Tidak pula dirinya yang rela dicerai tanpa dosa

    Dia punya akhlak mulia dan kelembutan

    Akhlak yang lurus di dunia dan hari kemudian

Khalifah Abu Bakr lantaran suatu sebab minta putranya menceraikan putri Zaid itu. Abdullah pun tak kuasa menolak. Tapi, karena tak tega, orangtua itu pula yang minta orang tua itu rujuk.

Sangat boleh jadi Atikah cantik sehingga Abdullah ibn Abi Bakr tidak rela melepaskannya. Yang pasti, sepeninggal Abdullah, Atikah dinikahi Umar ibn  Khaththab. Ali ibn Abi Thalib yang hadir dalam pesta perkawinan berkata:

“Amirul Mukminin, apakah Anda mengizinkan aku melongokkan kepala, melihat pengantinmu, dan berbicara dengannya?”

“Boleh saja,” jawab Umar.

“Wahai wanita yang menempatkan dirinya di tempat yang tinggi. Aku bersumpah untuk tidak mengalihkan mataku darimu agar kulitku selalu menguning” Mendengar ucapan Ali, Atikah pun menangis.

“Abul Hasan, mengapa Anda berkata demikian? Tetntunya setiap wanita akan berbuat seperti itu.”

Umar terbunuh dan Zubair ibn Awwam yang kemudian mengawini Atikah. Pernah suatu malam Atikah minta izin suaminya pergi ke masjid. Zubair tidak begitu suka, tapi tidak ada alasan untuk mencegahnya dan memang ada larangan Rasulullah untuk mengahalang-halangi perempuan pergi ke masjid. Jadi terpaksalah Zubair memberi izin. Dan ketika Atikah melewati jalan yang gelap, Zubair mencoleknya. Sambil bertasbih Atikah terbirit-birit pulang. Tapi Zubair buru-buru mendahului.

Kok, kamu balik lagi?” tanya Zubair

“Dulu kami bisa pergi, dan orang-orang biasa saja. Sekarang tidak,” jawab Atikah, yang kemudian ngambek  tidak pergi ke masjid untuk salat.

Zubair tewas dalam pertempuran melawan pasukan Ali (lazim disebut Perang Unta karena Aisyah r.a mengomandoi pasukannya dari atas unta). Dan nasib Atikah tetap mujur dinikahi Ali Ibn Ali Thalib.  “Saya kira saya bisa menyebabkanmu terbunuh,” kata Atikah bercanda.

Kisah Atikah yang bersuamikan orang-orang hebat itu diangkat Ibnul  Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin (Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu). Guru Imam Ibnu Taimiyah ini memang dikenal sebagai ahli psikologi yang banyak menulis persoalan-persoalan cinta tidak terutama dari segi sensualitasnya, tapi lebih sublim.

Maka, di antara para sahabat, siapakah nanti yang bakal dipilih Atikah, perempuan yang akan menerima banyak syafaat dari para mantan suaminya di akhirat kelak? Inilah riwayat Thabrani yang bersumber pada Ummu Salamah, istri Nabi. Katanya :

“Ya Rasulullah, jelaskan padaku, ‘Di dalam surga ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik” (Q.S 55-70)

“Akhlaknya baik dan cantik jelita,” jawab Nabi.

“Lalu firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah kulit telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik’.” (Q.S 37-49).

“Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang terdapat di bagian dalam telur, dan terlindung kulit telur bagian luar, atau biasa disebut putih telur.”

“Bagaimana dengan ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya?’”.

Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah ketika mereka sudah tahu, lalu mereka dijadikan gadis-gadis penuh cinta, bergairah dan umurnya sebaya”

(Allah menyifati perempuan-perempuan penghuni surga sebagai gadis-gadis remaja. Gadis-gadis itu, kata Ibn Qayyim, payudaranya sudah tumbuh, sempurna, bentuknya bulat tidak menggelantung. Tapi mengapa harus gadis? Ini menurutnya pula untuk menunjukkan kenikmatan bercinta dengan perawan dibandingkan dengan janda. Ibnu Qayyim merujuk pertanyaan Aisyah r.a kepada Rasulullah Saw “Andaikan engkau melewati rerumputan yang pernah dijadikan tempat menggembala dan rerumputan yang belum pernah djadikan tempat menggembala, maka di manakah engkau akan menempatkan unta gembalaanmu?” Rasulullah menjawab “Di tempat yang belum dijadikan gembalaan.”)

“Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

“Wanita-wanita dunia.”

“Mengapa?

“Karena salat mereka, puasa, dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwana hijau, perhiasan kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata “Berbahagialah orang memiliki kami dan kami memilikinya”

“Rasulullah di antara kami ada wanita yang pernah menikah, dua, tiga, atau empat kali. Dia masuk surga. Siapakah di antara laki-laki itu yang menjadi suaminya di surga?”

“Perempuan yang memilih,” kata Nabi

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda