Tasawuf

Tembang Dakwah: Dari Suluk Tasawuf Ke Suluk Wayang (1)

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Kata suluk, berasal dari bahasa Arab yang secara etimologis berarti cara atau jalan. Tapi bisa juga berarti kelakuan atau tingkah laku. Dalam tasawuf, suluk berarti jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Gusti Allah Swt. Menurut buku Ensiklopedi Islam yang diterbitkan PT.Ichtiar Baru Van Hoeve – Jakarta, istilah suluk digunakan untuk suatu kegiatan tertentu oleh seseorang agar ia dapat mencapai suatu ihwal (keadaan mental) atau makam tertentu.

Agama Islam disebarkan ke Indonesia terutama pulau Jawa oleh para ulama tasawuf melalui pendekatan budaya yang halus lagi indah, lembut menyusup ke relung hati dan kehidupan sehari-hari masyarakat tanpa menimbulkan gejolak. Para ulama awal yang kemudian oleh masyarakat Jawa disebut sebagai para wali itu, memiliki metode dakwah dan komunikasi yang bagus. Dengan metode itu meskipun bukan asli Jawa, dengan cepat mereka mempelajari dan menguasai tata nilai dan budaya Jawa, kemudian menyusup serta mengembangkannya  dengan corak dan tata nilai baru yang terus berkembang menjadi tata nilai dan budaya Jawa yang kita kenal sekarang.

Dalam tulisan berjudul “Ulama Samarkand Berdakwah ke Nusantara”, serta beberapa tulisan lain mengenai Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga misalkan “Tongggak-Tonggak Awal Tasawuf Jawa”,  telah saya uraikan bagaimana cara berdakwah Sunan Bonang yang didukung oleh muridnya, yaitu Sunan Kalijaga dan cucu muridnya yakni Sunan Muria.

Karena yang dihadapi adalah masyarakat yang memeluk Hindu – Budha atau Syiwa – Budha, mereka tidak langsung mengajarkan tata  cara peribadatan serta hukum-hukm agama, tetapi mulai dengan menyusupkan nilai-nilai keislaman ke dalam adat istiadat dan tata kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat Islam yang telah kafah lagi rasional dan tidak memahami metode komunikasi, cara itu tentu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin silsilah para nabi misalkan, disusupkan dan melebur dengan silsilah para dewa dalam kisah wayang Mahabarata karangan manusia, selanjutnya menurunkan suku Jawa. Tetapi suka tidak suka, nyatanya legenda itu bisa diterima dan dipercaya masyarakat pada masa itu, dan melalui itu pelan-pelan agama Islam masuk, menggeser nilai-nilai Syiwa – Budha.

Bersamaan dengan itu,  memahami keyakinan masyarakat yang juga percaya kepada hal-hal mistis dan supranatural, maka para wali mengajarkan hakekat tasawuf terlebih dulu baru menyusul syariat. Guna menarik perhatian masyarakat yang menyenangi seni budaya, mereka membaur, mempelajari serta mengembangkan perangkat-perangkat musik atau  instrumen gamelan Jawa dengan instrumen kempul Cina dan rebab Arab, aneka irama tembang dan komposisi musik gamelan yang sarat dengan estetika sufisme, menjadi orkestra polyfonik yang sangat meditatif dan kontemplatif, menggeser pelan-pelan nada-nada magis dalam metrum-metrum India.

Selanjutnya dakwah disampaikan dengan cara menembang, bersenandung merdu aneka irama, mulai dari irama ceria yang ditujukan sebagai pengiring permainan anak-anak, irama menggelora pengobar semangat sampai irama kidung yang sentimental menyertai ajaran-ajaran menyongsong kematian ke alam kelanggengan di haribaan Ilahi. Ajaran tembang-tembang islami itu diberi nama Suluk, sesuai tujuannya yaitu mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa.

Namun demikian, dalam mempelajari suluk-suluk tersebut, hendaknya kita tidak semata-mata menggunakan “kacamata” zaman sekarang, melainkan harus dengan mempelajari latarbelakang sejarah, kehidupan serta situasi dan kondisi masyarakat pada masa itu. Karena ajaran keislaman memang dimasukkan setapak demi setapak, setahap demi setahap, sehingga jangan kaget jika dalam suluk-suluk tertentu khususnya suluk-suluk ciptaan Sunan Kalijaga, kita menjumpai tata nilai dan akidah yang masih campur aduk.

Para wali pencipta aneka irama tembang dan komposisi musik gamelan tadi di dalam tata pemerintahan Kerajaan Islam Pertama di Jawa, yaitu Kesultanan Demak Bintoro, membentuk majelis ulama yang disebut Dewan  Wali, yang karena selalu berjumlah sembilan orang, maka masyarakat menyebutnya sebagai Wali Songo (Sembilan Wali).

Sejalan dengan pengembangan gamelan, Walisongo juga mengembangkan berbagai seni budaya dan tata kehidupan masyarakat, seperti seni ukir, seni busana dan adat-istiadat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari perkawinan, kehamilan, melahirkan, perkembangan pertumbuhan anak dari bayi sampai khitanan dan kematian, bahkan tata kota dengan sistem alun – alun dengan masjidnya,  mengembangkan model tata kota Majapahit dengan lapangan terbuka yang disebut wanguntur atau manguntur (Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian, Agus Aris Munandar, penerbit Komunitas Bambu 2008 halaman 131 dan seterusnya).Bedanya jika pada masa Majapahit bangunan-bangunan suci Syiwa – Budha berada di sisi timur lapangan, sedangkan di masa Demak, bangunan suci yaitu masjid berada di sisi barat. Ini dimaksudkan agar  jemaah terutama jemaah salat Jum’at yang tidak tertampung di masjid, bisa menyambung menggunakan lapangan yang kemudian disebut alun-alun.

Dalam hal seni pertunjukkan, mereka menggubah seni pertunjukkan yang sangat digemari masyarakat yaitu seni wayang beber. Seni wayang beber adalah seni pertunjukkan wayang yang mengisahkan cerita yang dilukiskan dalam selembar kain, sebagaimana lukisan cerita wayang Bali yang masih bisa dijumpai saat ini. Wayang beber dikembangkan menjadi wayang kulit yang melukiskan setiap tokoh seorang demi seorang, yang dari waktu ke waktu terus berkembang menjadi wayang kulit yang kita kenal sekarang.

Lakon atau kisah wayang diambil dari cerita induknya yakni Ramayana dan Mahabarata, tetapi oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus digubah menjadi bernuansa islami, bahkan Sunan Kalijaga menciptakan lakon-lakon sisipan yang dikenal sampai kini seperti  Dewa Ruci, Jamus Kalimasada dan Petruk Jadi Ratu. Kisah Dewa Ruci adalah kisah seorang salik (dalam hal ini tokoh Bima) dalam menempuh jalan tasawuf. 

 (Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”)

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda