Mutiara

Menag Pertama RI, Dari Soal Azan Sampai Kebatinan (1)

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Umat Islam di Indonesia sama dengan umat Islam di Maroko yang selalu mendengar suara adzan dari masjid dan rajin menjalankan ibadah. Karena  itu sulit ditaklukkan Belanda seperti di Aceh.

Haji Mohammad Rasjidi adalah menteri agama pertama Republik Indonesia. Ia lahir di Kotagede, Yogyakarta, pada 20 Mei 1915. dibesarkan di lingkungan yang kental dengan tradisi Jawa kuno. Tiap Kamis petang, apalagi Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon, ibunya selalu menyuruh membeli bunga untuk ditaruh di pojok rumah, di dekat pintu dan di kamar. Tidak lupa pula membakar kemenyan atau ratus, dan sebagainya.

Nama aslinya adalah Saridi atau Sari, kemudian diubah menjadi Rasjidi (berarti “yang bijaksana”) oleh gurunya, Syekh Ahmad Soorkati, karena dia sering salah menyebut namanya. Ia meresmikan perubahan namanya di Mekah dengan diberi tambahan awal “Mohammad”. Maka jadilah dia Haji Mohammad Rasjidi atau HM Rasjidi atau Prof. Dr. HM Rasjidi setelah menyandang dua gelar itu.

Saridi belajar di Sekolah Ongko Loro, lalu pindah ke sekolah Muhammadiyah. Di sini di samping diajarkan pelajaran umum, juga diajarkan soal-soal agama, cara sembahyang, dan mengaji Alquran. Sebelum ke Mesir ia belajar kepada Syekh Ahmad Soorkati di Lawang, Jawa Timur. Dalam masa persiapan, ia masuk ke Qism ‘Am. Atas saran seorang teman yang sama-sama berasal dari Kotagede, Kahar Mudzakkir (rektor pertama UII Yogyakarta yang November ini diangkat jadi Pahlawan Nasional), Rasjidi memilih Universitas Kairo dan masuk Fakultas Filsafat. Ia seangkatan dengan Mustapha ‘Abdul Raziq, salah seorang murid Muhammad Abduh, tokoh pembaru dari Mesir, yang pernah menjadi Rektor Universitas Al-Azhar. Selama di Kairo, ia juga berkenalan dengan Sayyid Quthb, seorang ideolog Ikhwanul Muslimin. Setelah tujuh tahun di Kairo, Rasjidi berhasil memperoleh ijazah Baccaloriac atau Sarjana Muda (BA). Rasjidi juga mendalami bahasa Inggris dan Prancis dan telah mampu menghapal Alquran hingga 30 juz.

Pada 1938, ia kembali ke Kotagede dan menikah di sana. Awalnya, baik orangtua maupun mertuanya menginginkan Rasjidi untuk mengelola usaha milik orangtuanya. Tetapi, ia merasa tak punya bakat dagang dan memilih menjadi guru di Madrasah Ma’ahad Al-Islami di Kotagede. Ia juga ikut mendirikan lembaga pendidikan setingkat universitas, Pesantren Luhur di Solo pada tahun 1939 . Tapi, ketika Jepang masuk pada tahun 1941, lembaga pendidikan yang dirintisnya itu berakhir. Lepas dari aktivitas mengajar, barulah ia masuk ke dunia politik. Ia bergabung dengan Partai Islam Indonesia (PII) yang dibentuk pada Kongres PII di Yogyakarta tahun 1940 dan terpilih sebagai anggota Komite Nasional. Kemudian ketika masuk zaman penjajahan Jepang, ia menjadi salah seorang anggota fungsional Masjumi. Selain di partai politik, Rasjidi juga pernah aktif di organisasi Muhammadiyah. Pada 3 Januari 1946 bertepatan dengan hijrahnya Pimpinan Pemerintah RI dari Jakarta ke Yogyakarta, Rasjidi berpidato di depan corong RRI Yogya dan mengumumkan, bahwa sejak tanggal itu resmi Republik Indonesia mempunyai Kementerian Agama. Dengan adanya Kementerian Agama, maka urusan-urusan keislaman yang selama ini terbengkalai dapat diurus sendiri. Pengadilan Agama, kas masjid, perjalanan haji, dan yang lainnya, bisa ditangani oleh orang Islam sendiri.

Rasjidi diangkat menjadi  Menteri Agama pada Kabinet Sjahrir II. Kabinet Sjahrir ini hanya berusia tujuh bulan kurang sepuluh hari, karena pada 2 Oktober 1946 Sjahrir harus mengembalikan mandatnya kepada Kepala Negara. Dalam Kabinet Sjahrir III yang dibentuk kemudian, Rasjidi tidak lagi ditunjuk sebagai Menteri Agama. Ia digantikan oleh Kyai Haji Faturrachman, seorang NU yang menjadi menantu tokoh Muhammadiyah, Haji Hisyam. Sementara H.M. Rasjidi ditetapkan sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Agama oleh Presiden Soekarno.

Dalam pidato pembukaannya sebagai Menteri Agama, Rasjidi mengingatkan hadirin pada suatu kejadian di mana Belanda mengalami kesulitan dalam menghadapi semangat perjuangan rakyat Aceh yang berasas Islam. Belanda kemudian memerintahkan seorang ahli, Dr. Christian Snouck Hurgronje untuk mengadakan penyelidikan. Kesimpulan yang mereka dapat adalah bahwa umat Islam di Indonesia sama dengan umat Islam di Maroko yang selalu mendengar suara adzan dari masjid dan rajin menjalankan ibadah.

Rasjidi juga mengangkat soal toleransi sesama umat beragama. Pada awal revolusi tidak sedikit terjadi perusakan gereja dan pendudukan gedung-gedung sekolah milik agama lain yang dilakukan umat Islam. Hal tersebut terjadi, karena dalam penafsirkan kitab-kitab fikih sebagian besar umat Islam sampai pada kesimpulan, bahwa semua itu adalah milik umat Islam. Mereka yang kurang memahami atau tidak mengerti perihal ketatanegaraan, bacaannya hanya kitab fikih, buku-buku yang ditulis pada masa Perang Salib. (Bersambung)

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda