Tasawuf

Membangun Rasa Takut, Malu, Segan, Hormat Sekaligus Bermanja Kepada Allah

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Latihan menghadirkan Allah sebagaimana catatan sebelum ini, menurut ustadz Abah Endang Bukhari Ukhasyah dan ustadz Bedu Abdurahman, ada juga yang menyebut sebagai zikir kalbu yang tiada putus sehingga senantiasa memenuhi kalbu kita, Allahumma amin akan dapat membuat kita senantiasa ingat dan waspada. Akan selalu membuat mata hati kita terbuka, meski badan dalam keadaan tidur lelap sekalipun.

Lantaran Gusti Allah telah hadir dalam jiwa, pikiran dan diri kita, maka sebagai seorang hamba kita akan senantiasa takut, malu, segan dan hormat kepada Al Malik, Sang Maha Raja Di Raja. Ini akan membuat kita selalu hati-hati dan waspada. Membuat senantiasa patuh tidak berani semau gue, apalagi melanggar larangan-larangan-Nya. Tetapi kita juga tidak hanya sekedar takut. Karena kita mengetahui pula bahwa Ar-Rahman Ar-Rahim. Sang Kekasih Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, senantiasa mengawal kita, maka kita dapat bermanja-manja dengan-Nya. Kita berani dengan tegar mengarungi lautan kehidupan tanpa merasa takut dan tanpa perlu bergantung kepada siapapun kecuali kepada backing kita, kepada Sang Maha Kuasa yang kasih sayang-Nya kepada kita tiada terhingga.

Lantaran Allah telah hadir dalam diri kita, kita pun akan kena sawab aura kemulian-Nya. Memperoleh pancaran cahaya keilahiahan-Nya. Maka jika kita membaca atau melantunkan zikir kalimat Basmallah, dengan asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang misalnya, insya Allah kita pun akan memancarkan aura, pancaran cahaya kasih sayang kepada sesamanya. Kepada sesama ciptaan Allah, baik yang kelihatan maupun yang gaib, baik yang berupa manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, batu, gunung, sungai dan apa saja. Dan bukan sebaliknya, memancarkan hawa yang menyeramkan, hawa sial, apalagi hawa penghancuran dan pembunuhan. Naudzubillah.

Akan tetapi apakah sesamanya, semua hamba Allah menyenangi pancaran kasih sayang kita tadi? Tentu saja tidak. Bahkan terhadap para nabi dan rasul pun tidak. Ada saja yang senantiasa tidak menyenangi hal tersebut, yaitu para jin-setan. Mereka akan selalu mengobarkan perang perlawanan baik secara langsung maupun tidak. Bahkan mereka kemungkinan besar akan menggunakan orang-orang dekat kita, saudara kita, sahabat kita menjadi antek dan budaknya dalam melawan kita, untuk mengganggu kita.

Oleh karena itu, Sunan Kalijaga, salah seorang wali penyebar agama Islam di Jawa mengajarkan kepada kita untuk selalu sabar dan tawakal dengan senantiasa:

Memohon perlindungan kepada Allah,

Sang Maha Pencipta,

Sang pemilik gelar Maha Raja di Raja.

Yang menjadi sesembahan semua umat manusia.

Memohon perlindungan dari kejahatan dan bisikan setan yang biasa bersembunyi,

Yang membisikan kejahatan ke dalam dada manusia.

Memohon perlindungan dari kejahatan jin dan manusia.

Sebuah cara yang mudah dalam mengajarkan pemahaman serta pengamalan Surat An Naas. Subhanallah.

 (Seri Tulisan ”Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda