Mutiara

Setelah Malam yang Cerah, Tibalah Petaka

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Sepertinya kita tidak takut dengan kemungkinan datangnya bencana yang dengan tiba-tiba bisa menjungkirbalikkan prestasi yang kita bangga-banggakan.

Katakan, akankah kami tunjukkan kepada kamu orang-orang yang paling rugi dalam pekerjaan?  Yaitu mereka yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia sementara mereka mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Itulah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka…..” (Q. 18:103-105)

Tersebutlah kisah dua sekawan yang selalu rutang-rantung dalam menempuh jalan hidup sufi, tapi yang seorang kemudian pergi; menghilang, entah ke mana, dan tahun demi tahun kemudian tidak pernah terdengar hal-ihwalnya. Adapun sahabatnya yang ditinggal, bertahun-tahun kemudian, terkena wajib militer. Dia harus ikut dalam bala tentara melawan angkatan perang Kerajaan Romawi.

Sekali, dalam sebuah pertempuran, seorang tentara musuh, berbaju zirah, dengan gagah maju ke hadapan pasukan muslim dan berteriak-teriak menantang duel. Seorang prajurit muslim melayani. Ia maju. Dan roboh. Yang kedua juga maju, dan roboh. Juga berikutnya.

Sekarang giliran ksatria sufi  yang menyibak ke depan. Bukan main. Baru kali ini ada perlawanan yang seru, sampai kemudian topeng si penantang terlepas.

“Ah,  kau rupanya!” teriak si sufi, kaget.

“Ya. Aku sudah murtad. Aku sudah menikah dengan wanita mereka. Sudah punya anak-anak.”

“Kau, yang menguasai pembacaan Alquran dengan berbagai qiraat?”

“Sekarang satu huruf pun aku tidak ingat lagi.”

“Untuk apa? Aku sudah memperoleh kekayaan. Sudah memperoleh kemasyhuran. Pergilah, atau kuhabisi kamu, seperti ketiga temanmu yang konyol itu.”

“Ketahulah, kamu sudah membunuh tiga orang muslim. Tidak akan kena  malu di kalangan kawan-kawanmu jika kau pergi dari sini. Enyahlah. Aku akan memberi tenggang waktu.”

Prajurit kafir yang bekas sufi itu mundur dan berbalik. Sufi itu mengikutinya. Tapi kemudian membunuhnya. Kata sang penutur,  yang mendengar kisah ini dari Manshur ibn Khalaf Al-Maghribi, “Sungguh ironis: setelah menempuh perjuangan dan latihan (riadhah) spritual yang cukup lama dan berat, orang itu akhirnya….. ”  Demikianlah.

Itu contoh kasus yang mungkin ekstrem, tapi sehubungan dengan peringatan ayat di atas, kita memang sering terlalu yakin dengan yang kita lakukan. Kritik atau  peringatan orang lain kita abaikan, dan tetap ingin merasa bahwa yang kita perbuat benar-benar kebaikan. Sepertinya kita tidak takut dengan kemungkinan datangnya bencana yang dengan tiba-tiba bisa menjungkirbalikkan “prestasi” yang kita bangga-banggakan. Kita seperti tidak lagi punya perasaan takut. “Dan jelaslah bagi mereka, dari Allah, sesuatu (azab) yang belum pernah mereka perkirakan (Q. 39:47). “

Bersyair Abu Ali Ad-Daqqaq:

Kaukira hari-hari penuh kebaikan jika kau baik

Tak pernah kau takut kepada takdir yang buruk

Malam memberikan ketenteraman kepadamu hingga kau terpedaya

Sesudah malam yang cerah, tibalah petaka.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda