Hamka

Antara Seni dan Tasawuf

Written by A.Suryana Sudrajat

Seni yang tinggi membawa seniman fana (hilang) ke dalam baqa. Dan  batas antara seorang seniman dengan seorang sufi  tipis sekali.

Pada tahun 1957 Buya Hamka melawat ke Bali. Di sana ia menyempatkan diri berkunjung ke studio Agus Djaya (nama lengkapnya Agoes Djajasoeminta), seorang pelukis kenamaan kelahiran Pandeglang, Banten,yang mukim di pulau dewata. Apalagi kalau bukan  untuk “menikmati lukisan-lukisan yang dipamerkan, di antaranya ada lukisan wanita telanjang,” kata Hamka.

Ziarah  Buya ternyata membuat si empunya studio grogi. Kata Buya,  “Pelukis tersebut meminta maaf, maaf saya Kyai tidaklah layak saya memperlihatkan lukisan ini kepada Kyai. Dengan senyum saya menjawab, disamping seorang kyai, saya ini pun seorang pecinta seni. Seni Anda tersalur kepada cat dan kuas, dan seniku pada lisan dan tulisan. Jika kulihat lukisan ini dari rasa seni, samalah untukku seperti melihat kembang mekar juga. Aku melihat indahnya, tapi tak akan aku cabut ia dari tangkainya. Keindahan kembang pun dipagari oleh Allah dengan duri atau miang. Apabila kupatahkan kembang itu dari tangkkainya, hendak kucari  ke mana keindahannya? Lalu kukupas kelopaknya sejurai demi sejurai , niscaya akan habislah ia berantakan ke muka bumi. Kurusakkan keindahan yang asli karena nafsu ingin tahu, padahal aku tak mampu menyusun balik.”

Buya melanjutkan: “Demikian jugalah kecantikan wanita. Aku kagum melihat keindahan bentuk badan yang Saudara lukiskan, campuran warna, tapi percayalah aku hanya menikmati keindahan lukisan dan tidak hendak memegang lukisan Saudara  dengan tanganku karena kalau terpegang sedikit saja oleh tanganku yang berlumur debu, rusaklah keindahan gambar Saudara. Melihat alam pun demikian pula, aku resapkan ke dalam hati keindahan alam sekeliling. Amat teratur, seragam, seimbang, tidak ada cacat lagi.  Demi aku termenung melihat keindahan itu maka terdengarlah di telingaku firman Allah: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang yang berbuat kebajikan.” (Quran Al-A’raf/7:6).

Bagaimana reaksi Agus Djaya setelah mendengar penjelasan yang lumayan panjang itu?  “Saudara Agus Djaya memegang erat tanganku dan air matanya menggelenggang,” kata Buya Hamka.

Seni yang sampai pada puncaknya, kata Hamka, ialah gabungan antara rasa keindahan (jamal) dan rasa kesempurnaan (kamal) dan rasa kemuliaan (jalal). Ia menegaskan, “Seni yang bernilai tinggi menyebabkan seniman lebur di bawah cerpu telapak kaki budi (etika) dengan kebenaran (al-haqq). Seni yang tinggi membawa seniman fana (hilang) ke dalam baqa.”

Dalam pandangan Buya, batas antara seorang seniman dengan seorang sufi amatlah tipis Kata dia, Junaid al-Baghdadi pernah ditanya ihwal perkataan sebagian orang yang menyatakan bahwa wanita adalah “tali setan” untuk memperdaya manusia. Junaid pun menggelengkan kepala dan berkata, “Biarlah orang mengatakan perempuan tali setan yang memperdaya manusia. Adapun bagiku kecantikan wanita adalah tali Allah, untuk memperteguh iman dan kepercayaanku kepada Allah.” Bagi Junaid, kata Hamka, rupanya kecantikan wanita adalah salah satu cabang keindahan, anugerah Ilahi. “Sama juga keindahan kembang yang mekar, indah dilihat tapi jangan diganggu. Jangan dirumpunkan rasa keindahan dari seni dengan syahwat hawa nafsu

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566
  • hamka