Tasawuf

Melawan Setan Yang Memperoleh Mandat Dari Allah

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Belajar menghadirkan Allah sebagaimana penulis kemukakan dalam catatan sebelum ini, kelihatannya sederhana dan semua menjadi selesai. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Malaikat dan setan adalah bagaikan dua sisi dari satu keping mata uang logam. Setan, hawa nafsu dan pesona dunia telah ditetapkan oleh Gusti Allah Yang Maha Kuasa menjadi penggoda manusia yang tiada kenal menyerah. Dalam cerita wayang, setan itu ditamzilkan dengan tokoh Rahwana atau Dasamuka, yang tidak bisa mati meskipun ia ditindih dengan gunung oleh Hanoman. Apabila ada tokoh lain yang iseng atau terpengaruh bujuk rayu Rahwana agar menggeser gunung yang menindihnya, maka Rahwana akan bangkit kembali.

Berbagai Surat antara lain Al A’raaf ayat 12 – 17 serta Al Isra’a ayat 61–65 telah menegaskan betapa mereka telah memiliki mandat dan kuasa dari Gusti Allah untuk menggoda kita. Lalu, bagaimana mungkin kita dapat melawan godaan mereka itu, jika kita tidak memiliki kekuatan yang minimal sepadan dengan kekuatan mandat yang dimiliki setan? Karena itu mandat harus dilawan dengan mandat. Maka kita pun harus naik banding memohon mandat dan kuasa dari Allah Swt. guna melawan, mematahkan serta menolak godaan setan. Salah satu doa atau permohonan perlindungan kepada Allah dari gangguan setan yang paling lazim dikenal adalah ta’awudz atau isti’adzab, sebagaimana diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad yang berbunyi sebagai berikut: a’udzubillahi minasy syaithanir rajim, artinya, aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. (Uraian yang lebih lengkap tentang hal ini bisa disimak di buku kami Bertasawuf di Zaman Edan, BukuRepublika,2016).

Oleh sebab itu wahai saudaraku,  janganlah heran jika kehidupan manusia bisa melengkung, belok seperti sabit, atau meliuk-meliuk, berkelak-kelok bagaikan keris yang berlekuk atau berluk. Suatu saat dituntun oleh malaikat, satu saat yang lain setan berusaha mengendalikan. Itulah sebabnya kemudian Sembilan Wali di Tanah Jawa menganjurkan membuat keris gaya Islam yang sederhana dan lurus seperti mata tombak, sebagai isyarat bahwa hidup haruslah sederhana dan mengikuti jalan yang lurus, yakni jalan dari orang-orang yang telah memperoleh nikmat dari Allah, dan bukan jalan dari orang-orang yang sesat dan dimurkai Allah.

Memang ada juga yang berkilah, meskipun berluk, toh pangkal dan ujung keris Jawa tetap satu garis lurus, artinya manusia tidaklah sempurna, hidupnya berkelak-kelok penuh godaan. Yang terpenting adalah akhir hidupnya harus kembali lurus, husnul khotimah. Tapi siapa yang bisa menjamin? Wallahu ’alam.

Demikianlah kenyataannya. Ada orang yang ditakdirkan hidup lurus sepanjang hayatnya. Namun sebagian besar termasuk penulis, sudah terlanjur berkelak-kelok. Orang seperti penulis ini mau tak mau harus senantiasa was-was namun penuh harap, senantiasa berdoa dan berusaha memperbaiki diri, agar Gusti Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Pengasih mengampuni dosa-dosa yang tak terhitung bagaikan buih di lautan, serta melimpahkan kasih sayang-Nya dengan anugerah husnul khotimahAamiin.

Untuk itu kita berterima kasih serta berhutang budi nan tak terhingga kepada banyak orang mulai dari kedua orang tua, saudara dan handai tolan, para guru baik yang memberikan pengajaran dan pendidikan secara langsung maupun tidak langsung, baik melalui sikap dan perilaku buruk yang sarat hikmah maupun teladan baik dan kasih sayangnya, ataupun melalui kisah kehidupan dan buku-buku karangannya, sehingga kita mempunyai optimisme serta semangat untuk mereguk air penyejuk ampunan-Nya.

Tanpa dorongan semangat dan optimisme, mana bisa orang awam, Jawa Abangan seperti kita ini belajar menghadirkan Allah, bertobat mengemis ampunan-Nya, menghiba-hiba memohon belas kasih sayang-Nya. Baru mempelajari dan menghayati tanda-tanda kekuasaan Allah melalui penciptaan alam semesta, melalui pergantian siang dan malam saja, rasanya tidak pernah tamat. Padahal betapa banyak ayat-ayat Quran yang menegaskan akan hal itu misalkan, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal (Ali Imran : 9dan bertaqwa” (Yunus : 6). Sedangkan Nabi Ibrahim pun masih memohon bukti nyata kekuasaan Tuhan guna mempertebal serta memperkokoh keyakinannya (Al Baqarah : 260). Demikian pula Nabi Musa, bahkan memohon agar Allah menampakkan diri kepadanya (Al-A’raaf : 143).

Bersyukur juga, kami menyadari kepengecutan dan kerendahan diri kami sehingga tak pernah terbersit sedikit pun keberanian untuk seperti Nabi Ibrahim dan Musa. Sungguh, sahaya telah puas dengan ajaran banyak ustadz yang antara lain mentamsilkan pencarian Allah dengan suatu lukisan indah dan sang pelukisnya, atau sebuah karya seni dengan sang pencipta karya seni tersebut.

Sahabat sekaligus saudara dan menantu Kanjeng Nabi Muhammad Saw, Ali bin Abi Thalib pernah ditanya oleh sahabatnya, Zi’lib Alyamaani, “Amirul Mukminin, apakah engkau pernah melihat Tuhanmu ?” Jawab beliau, “Bagaimana engkau melihatnya? Dia tidak bisa dilihat dengan pandangan mata, tetapi dijangkau oleh akal dengan hakikat keimanan”.

Sebuah karya seni yang merupakan benda mati saja ada penciptanya. Apalagi maha karya yang berupa makhluk hidup dan alam semesta? Pasti penciptanya jauh, jauh lebih dahsyat, jauh lebih hebat, jauh lebih kuasa dibanding manusia pencipta karya seni. Oleh karena itulah maka Al Imam Ibnu Athaillah Askandary dalam kitab Al Hikamnya yang sangat terkenal, berulangkali menganjurkan agar setiap melihat sesuatu lihatlah pula pada Sang Maha Pencipta. Jika menghadapi sesuatu ingatlah pada Sang Maha Sutradara. Jika mengerjakan sesuatu ingatlah pada Sang Maha Penentu, Sang Maha Kuasa.

Demikianlah sahabatku.

Guna menghadapi dan menangkal berbagai godaan setan yang memang telah memperoleh mandat dan kuasa dari Allah Yang Mahakuasa untuk menggoda kita, termasuk menggoda agar kita tak peduli terhadap kemungkaran yang ada di sekeliling kita, Kyai Mufasir dari Barubug, Ciomas, Banten, mengajarkan bagaimana kita harus senantiasa memohon mandat, memohon kuasa dan perlindungan dari Allah. Memohon perlindungan dari kejahatan dan bisikan setan yang biasa bersembunyi, yang membisikan kejahatan ke dalam dada manusia; setan dari golongan jin dan manusia. Maka sungguh tepatlah wejangan doa Kyai Mufasir  ini:

Duh Gusti, sungguh Paduka telah memberikan kuasa kepada setan untuk mengalahkan kami,

setan itu melihat kelemahan- kelemahan kami dari tempat di mana kami tidak melihat  dia.

Karena itu duh Gusti, putuskanlah harapan setan itu atas kami, sebagaimana telah Paduka putuskan harapannya dari rahmat Paduka.

Duh Gusti, putuskanlah harapan dia atas kami, atas hamba Paduka ini, sebagaimana telah Paduka putuskan pula harapannya untuk memperoleh ampunan Paduka.

Juga jauhkanlah dia dari kami.

Jauhkanlah dia dari hamba Paduka ini, sebagaimana telah Paduka jauhkan dia dari rahmat Paduka.

Sungguh Paduka Mahakuasa atas segala sesuatu. Amin.

 (Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda