Mutiara

Edward Said Cerita Lain dari Yerusalem

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Edward Said merupakan perpaduan antara pemikir dan aktivis. Pejuang Palestina ini  memandang bahwa seorang intelektual selain menyuarakan kebenaran, juga harus terlibat dalam memperjuangkan keadilan walaupu, untuk itu,  harus menanggung sejumlah risiko.

Misalkan Edward W. Said masih hidup hampir dipastikan akan meradang kepada Donald Trump yang, tempo hari,  mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Bagi Edward Said, Yerusalem menyimpan mimpi buruk. Sebab dia dan keluarganya  harus kehilangan rumah dan tanah yang dirampas oleh tentara Israel. Di kota suci tiga agama besar inilah Edward Said dilahirkan (1 November 1935), dan keluarga besarnya tinggal. Tepatnya di Talbiyah,   sebuah kawasan terpencil di Palestina Barat, yang waktu itu menjadi wilayah protektorat Inggris.

Semasa anak-anak ia dibawa pindah orangtuanya, Wadie Said, ke Mesir.. Di Kairo, keluarga Said tinggal di Zamalek, kawasan elit yang dikitari kebun. Ayahnya memang orang kaya: importir besar peralatan kantor, yang punya cabang usaha di hampir semua kota besar, dari Kairo sampai Beirut. Ayahnya  adalah pemegang paspor Amerika, bahkan ketika muda ikut bertempur dalam perang Dunia II. Kakeknya sendiri seorang saudagar Arab yang kaya di Yerusalem. Ketika Kaisar Jerman berkunjung ke kota suci ini, dialah yang menemani tamu agung ini berkeliling. Berbeda dari umumnya Kristen di Palestina yang Ortodoks, keluarga Said adalah penganut Kristen Anglikan. Hal ini menunjukkan bahwa Palestina, dari segi agama, merupakan masyarakat yang plural. Dengan kata lain, tindakan brutal tentara Israel kepada warga Palestina tidak hanya ditujukan kaum Muslim, tetapi kepada seluruh warga yang menentang tindakan agresi Israel.  

Boleh dikatakan, Edward Said adalah orang luar biasa. Doktor sastra komparatif lulusan Universitas Harvard dan kemudian menjadi guru besar di Universitas Columbia, New York, ini juga juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan Palestina. Ia pernah menjadi penulis pidato Yasser Arafat, meskipun ia mengancam pemimpinnya itu karena bersedia menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel di Oslo. Dan sejak bukunya yang cemerlang, Orientalism, diterbitkan pada tahun 1978, Edward Said menjadi ikon di dunia akademi dan di lingkungan cendekiawan dunia. Edward Said juga dikenal sebagai penulis yang subur, dan intelektual yang tanpa tedeng aling-aling menunjukkan keberpihakannya.

Sebagai seorang intelaktual keturunan Arab, Edward W. Said tidak luput dalam memberikan perhatiannya kepada permasalahan pencaplokan tanah leluhurnya oleh Israel. Konflik antara Israel dan Palestina yang sudah berlangsung lama membuat Said menjadi intelektual yang diakui sebagai seorang yang mendukung penentangan terhadap perampasan tersebut. Said dianggap oleh kaum zionis sebagai ‘profesor teroris’ oleh karena dukungannya kepada warga Palestina. Said menegaskan bahwa kaum intelektual Barat cenderung melihat Islam sebagai agama yang keras, fundamental, ekstrem dan antidialog. Padahal kaum intelektual tersebut tidak mengetahui apa-apa tentang Islam. Said mengeritik para pemikir  Judith Miller, Samuel P. Huntington, Martin Kramer, Daniel Pipes dan Barry Rubin yang menurutnya selalu menjadi propagandis di Barat bahwa Islam merupakan ancaman bagi peradabannya.

Edward Said, sebagai seorang intelektual,  selalu berusaha untuk selalu komprehensif dan proporsional. Pemikir besar ini sudah pergi ke alam baka dengan meninggalkan gagasan besar bagi kaum intelektual untuk tetap menjaga martabatnya serta memperjuangkan kebenaran sebagai suatu hal utama bagi masyarakat dunia. Sebab tugas intelektual menurut Said adalah mengatakan kebenaran walau harus menerima risiko pembuangan serta pengucilan di dalam pergaulan internasional. Said pun tdak sungkan-sungkan mengecam kebiasaan kaum intelektual yang mengetahui sebuah kebenaran tapi memilih ‘diam’ bahkan memilih untuk menjadi seseorang yang tidak terlalu politis karena khawatir akan muncul kontroversi sehingga akan menyulitkan kariernya.

Menurut Said, tujuan inteektual  adalah meningkatkan kebebasan dan pengetahuan manusia. Dia misalnya menyatakan, seorang intelektual tidaklah berada di menara gading. Sebaliknya, mereka terlibat langsung dalam soal-soal kemasyarakatan. Ia harus selalu sadar akan tugasnya untuk tidak membiarkan kebenaran diselewengkan atau menerima satu ide yang dapat menguasai seluruh kehidupan. Dalam hal ini seorang intelektual berperan sebagai benteng akal sehat yang kritis terhadap kekuasaan. Said mencela kaum cendekia yang suka bersolek dan memilih diam demi kehati-hatian. Cendekiawan itu, menurut Said, tidak bebas nilai atau netral. Sebaiknya seorang intelektual harus berpihak yakni terhadap kelompok lemah yang tertindas. Edward W. Said mengingatkan apabila kaum intelektual mengambil posisi kritis terhadap suatu otoritas maka intelektual itu akan menjadi kaum pinggiran kalau dilihat dari pemilikan, kuasa dan kehormatan

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda