Mutiara

Yang Mewarisi Ajaran, Tingkah Laku dan Perjuangan Nabi

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kiai pencinta buku dan ilmu ini  berdakwah melalui tembang syair. Apa rahasia keberhasilannya menurut Kiai Maimoen Zubair?

Kiai Haji Abdul Mujib Abbas adalah pengasuh Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Ia juga dikenal sebagai penulis buku-buku fikih dan ushul fikih yang hingga kini dipelajari di beberapa pesantren. Ia lahir di Sidiarjo pada 10 Oktober 1932  dari pasangan Kiai Abbas dan Nyai Khodijah. Ia mendapat pendidikan agama dari ayahnya terutama dalam pelajaran Alquran dan kitab kuning dasar, seperti Sullamut-Taufiq, Sullam, dan Safinah.

Pada  1950, Abdul Mujib nyantri di Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Jombang, di bawah asuhan Kiai Romli At-Tamimi, mursyid tarekat Qadiriah-Naqsabandiyah Jombang. Kemudian ia pindah ke Pesantren Bata-bata, Pamekasan,  di bawah asuhan K.H. Abdul Majid Hamid. Ketika mondok  di Bata-bata, ia dipercaya sang guru menjadi asisten dalam pengajian Kitab Jam’ul-Jawami’ dalam ilmu ushul fikih atau kitab Ihya’ Ulumiddin. Jika Abdul Majid berhalangan, ia pun menggantikan posisinya. Kiai Abdul Majid juga memberi tugas untuk mengajar para gus dan  lora (sebutan untuk putra-putri kiai).

Pada 1955, Mujib nyantri di Pesantren Sarang, Rembang, dan berguru pada K.H. Zubair Dahlan (ayah  K.H. Maimoen Zubair almarhum, antara lain pernah menjadi ketua Majelis Syura PPP ). Ia  juga ditunjuk menjadi lurah pondok. Selain mengaji kitab, hampir tiap hari sebelum salat subuh, ia mengambil air dari sumur untuk mengisi kolam pondok agar Kiai Zubair dan para santri  mudah mengambil air wudu.

Di Pesantren Sarang, Abdul  Mujib masih bisa menyempatkan waktunya untuk menulis. Syarah Jawahir al-Maknun, Syarah Waraqat, dan Al-Qawaidul-Fiqhiyah adalah tiga kitab karangannya  dalam ilmu fikih dan usul fikih yang ditulis selama nyantri di Sarang. Kitab-kitab itu kini menjadi bahan pelajaran para santri di beberapa pesantren.

Ia  kembali ke kampung halamanya untuk mengasuh Pesantren Al-Khoziny yang ditinggal wafat oleh ayahnya. Pesantren Al-Khoziny didirikan pada 1927  oleh K.H. Raden Khozin Khoiruddin. Nama Al-Khoziny diambil dari nama kiai pendiri. Setelah itu, pesantren diasuh oleh putra pendiri, K.H. Raden Mohammad Abbas Khozin, ayahanda Kiai Mujib.

Konon,  Pesantren Al-Khoziny pada mulanya cabang  Pesantren Al-Hamdaniyah Sidoarjo. Namun karena adanya perbedaan orientasi dan sistem pengajaran, maka masing-masing berdiri sendiri. Pesantren Al-Hamdaniyah cenderung bercorak salafi, dengan dominasi mengaji kitab berbahasa Arab, sementara Pesantren Al-Khoziny menggabungkan mengaji kitab dan sistem klasikal atau madrasah. Salah satu warisan Pesantren Al-Hamdaniyah masih tetap dilanjutkan di Pesantren Al-Khoziny, yakni pengajian kitab Tafsir Al-Jalalain.

Di tangan Kiai Mujib, Pesantren Al-Khoziny berkembang cukup pesat.  Selain peningkatan pengajian kitab, Kiai Mujib merintis berdirinya pendidikan formal hingga perguruan tinggi. Madrasah Tsanawiyah didirikan pada 1964, Madrasah Aliyah pada tahun 1970, dan Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 1975. Sementara untuk jenjang perguruan tinggi, awalnya berupa perguruan tinggi diniyah yang berdiri pada  1982, yang kemudian berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam dan Sekolah Tinggi Ilmu Alquran Al-Khoziny pada tahun 2000.

Kiai Mujib biasa mengajar santri maupun  masyarakat umum dengan cara nazhaman. Yakni mengajar dan berdakwah dengan nyanyian atau syair. Ia juga menerapkan cara riyadhah atau olah fisik dan mental yang ditujukan untuk kalangan santri dalam keseharian mereka. Kiai Mujib juga menerapkan aturan agar kalangan santri membiasakan diri salat berjamaah dan mengaji Alquran. Bahkan ketika sakit, Kiai Mujib tidak meninggalkan shalat berjamaah. Pada masa kepemimpinan ayahnya, Kiai Abbas, para santri yang tidak salat berjamaah akan mendapatkan sanksi batin, yakni sulit menerima ilmu yang disampaikan oleh sang kiai, walaupun santri yang melanggar itu mengikuti pengajian.

“Sebagai ulama pewaris Nabi (wiratsah nabawiyah), Kiai Mujib mewarisi apa yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yakni wiratsah ilmiyah (mewarisi ajaran Nabi), wiratsah amaliyah (mewarisi tingkah laku Nabi), wiratsah khuluqiyah (mewarisi akhlak dan kepribadian Nabi), dan wiratsah jihadiyah (mewarisi perjuangan Nabi),” kata  K.H. Abdullah Syamsul Arifin, salah seorang santrinya yang menjadi  pengasuh Pesantren Darul Arifin, Bangsalsari, Jember.

Salah seorang sahabatnya,  K.H. Maimoen Zubair, Pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, menyatakan  bahwa salah satu keberhasilan Kiai Mujib memimpin Pesantren Al-Khoziny adalah menjaga nilai tradisional. Kiai Mujib selalu merawat tradisi pesantren sejak awal hingga akhir kepemimpinannya. Ia terlibat langsung dalam pengajian kitab kuning dan selalu mendorong agar pengajian-pengajian serupa dilaksanakan dalam berbagai forum, baik di kalangan santri senior ataupun di lingkungan putra-putrinya.

Kecintaan Kiai Mujib terhadap buku dan ilmu sangat  besar. Meski sedang sakit, tangan beliau tidak pernah lepas dari kitab atau buku. Dalam kondisi yang lemah, Kiai Mujib tetap istiqamah membawakan pengajian kitab – walau dilakukan di kediamannya. Saat penglihatan mulai menurun, seorang santrinya diminta untuk membacakan kitab di hadapannya atau membelikan kitab yang hurufnya lebih tebal dan besar.

K.H. Abdul Mujib Abbas wafat pada  2010 dalam usia 78 tahun. Ia dimakamkan di lingkungan Pesantren Al-Khoziny. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya, K.H. R. Abdussalam

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda