Tasawuf

Metode Penyembuhan Sufi (Bagian 2)

Written by Panji Masyarakat

Meditasi merupakan jalan menuju kebebasan. Karena kehidupan kita selama ini selalu terbelenggu terutama oleh kata-kata kita dan perbuatan kita, bahkan oleh hati kita sendiri. Dan dengan meditasi kita akan terbebas dari belenggu-belenggu itu.

Meditasi memungkinkan kita berkelana dalam diri untuk mencari identitas sejati kita dan belajar masalah tujuan atau misi hidup kita. Jadi, sesungguhnya meditasi itu perenungan dalam menjelajahi diri. Bahkan dalam konsep tasawuf meditasi sering diartikan sebagai muhasabah. Muhasabah itu artinya intropeksi diri sendiri.

Di sini makna  meditasi itu adalah mempelajari dan mengendalikan  tubuh dan mental serta emosi kita pada satu titik. Barangkali pengalaman para orangtua kita bisa dijadikan cermin dalam hidup kita. Umumnya orangtua kita sering  melakukan salat tahaJud, bangun tengah malam dalam kondisi dan cuaca dingin ketika kita sedang lelap tidur. Mereka melakukannya dengan hati terdalam serta ikhlas. Perbuatan yang di kerjakan dengan ikhlas dan dari hati yang paling dalam itu disebut khusyuk. Nah khusyuk itulah yang disebut juga dengan konsentrasi dan meditasi.

Itu sebabnya, salah satu obat bagi orangtua untuk tidak pikun dalam usianya yang sudah lanjut adalah selalu mengerjakan salat tahajud. Kenapa tidak pikun? Karena mereka sering melakukan konsentrasi. Bagi banyak orang, melihat ke dalam diri itu baru hanya  pada saat mendapat tekanan yang berat. Misalnya kalau ada anggota keluarga kita yang sakit parah, atau teman dekat kita yang hilang dari kita, atau kita sendiri sakit, dan bermacam-macam musibah yang kita alami, kita biasanya baru khusyuk dan berkonsentrasi. Tentu saja yang demikian itu juga baik sekali. Tapi yang terbaik memeng ketika kita tidak sedang sakit.

Contoh lain yang nyata, di Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, yang dipimpin Abah Anom, diadakan meditasi yang terkenal. Di sana penderita sakit keras dan berat akibat narkoba dimandikan pada tengah malam, sekitar pukul jam 02, dengan air dingin (40 gayung) kemudian disuruh berzikir sekeras mungkin (zikir jawarih) yang bisa dijadikan metode penyembuhan. Kenapa demikian? Karena beban mental yang demikian berat dialami (biasanya mereka tidak lagi mengenal orangtuanya atau di mana rumahnya), dengan belajar zikir tadi, hilang dengan sendirinya.

Sebab itu, anjuran para sufi, mengatasi problema seperti tadi itu dilakuakan dengan zikir yang sangat keras, dengan teriak sekeras-kerasnya, sampai akhirnya mencapai titik jenuh, sampai penyembuhan total. Karena apa pun beban mental yang berat akan menjadi hilang karena konsentrasi pada satu titik, yaitu Allah SWT. Tidak seperti yang kena narkoba tadi, bagi kita yang tidak mengalaminya penyembuhan sufi seperti tadi sangat baik kita lakukan untuk meningkatkan kadar spiritual kita di hadapan Tuhan.

Karena pada mulanya kita itu bersih dan suci, seperti layaknya bayi yang baru lahir dalam keadaan fitrah. Karena itu sesungguhnya bukan saja orang yang sakit, tetapi kita wajib berusaha untuk peningkatan-peningkatan spiritual kita. Istilah para sufi: “Hasanatul abrar sayyi-atul muqorrabin,” artinya kebaikan yang dilakukan orang-orang salih masih merupakan kejelekan bagi mereka yang benar-benar dekat dengan Allah. Jadi kita menyadari bahwa pada diri kita ini ada kekurangan, dan kita mulai berproses.

Karena itu, meditasi merupakan jalan menuju kebebasan. Karena kehidupan kita selama ini selalu terbelenggu terutama oleh kata-kata kita dan perbuatan kita, bahkan oleh hati kita sendiri. Dan dengan meditasi kita akan terbebas dari belenggu-belenggu itu. Itulah yang juga dikembangkan oleh Socrates: Know yourself. Apalagi yang dikembangkan para sufi yang dikenal dengan idiom: “Man ’arafa nafsuhu faqad’arafa rabbahu”,  barang siapa mengenal dirinya maka ia telah mengenal Tuhannya. Karena itu kita mau sembuh dari penyakit yang kadang-kadang frekuensi emosi kita tinggi ketika kita marah, sembuh secara mental, sembuh secara spiritual dan sembuh dari segi fisik sekalipun. Kenapa begitu, karena fisik kita ini sering terganggu oleh mental spiritual tadi.   

Penulis: Prof. Dr. Zainun Kamal (Sumber: Panjimas, Agustus 2003)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda