Tasawuf

Tiga Jenis Bersuci Menuju Sembah Jiwa Dan Raga

Ditulis oleh B.Wiwoho

Dalam melatih dan melakukan sembah kepada Tuhan, almarhumah ibu sebagaimana kebanyakan orang Jawa, mengajarkan untuk memulai dengan belajar bersuci secara lahiriah, yaitu mandi keramas dan berwudu.

Untuk berwudu, dahulu kala keluarga-keluarga Islam Jawa pada umumnya menyediakan padasan, yaitu sejenis gentong kecil yang terbuat dari tanah liat. Bagian atas yang terbuka diberi tutup, juga dari tanah liat, guna menjaga agar tidak ada kotoran yang masuk, sedangkan pada bagian bawahnya diberi lubang kecil, yang diberi sumbat buka tutup, sebagai pancuran keluarnya air wudu. Sayang sekali padasan seperti itu sekarang sudah sulit dijumpai, bahkan hampir tidak ada lagi karena disamping mudah pecah, para pengrajin tanah liat juga sudah lama tidak membuatnya. Padahal padasan memberikan makna dan kenangan indah bagi pendidikan keagamaan anak-anak kecil khususnya saya.

Dengan citra padasan, saya merasa air yang diwadahi secara khusus untuk berwudu adalah air yang harus dijaga kesuciannya dan dihayati supaya betul-betul dapat membersihkan jasmani dan rohani kita. Kami diajarkan untuk mengajak berbicara di dalam hati kepada air wudhu tersebut, tatkala menuangkan air dari sumur ke dalam padasan. Juga sewaktu hendak mulai berwudhu, menyertai bacaan basmallah. Di kemudian hari baru kami tahu betapa besar hikmah dari komunikasi dengan air tadi, setelah membaca berbagai kisah terutama dari buku The True Power of Water oleh Dr.Masaru Emoto, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan pengantar K.H. Abdullah Gymnastiar (MQ Publishing, 2006).

Mengenai mandi keramas, untuk kebutuhan sehari-hari kami menggunakan sampo biasa. Tetapi untuk menyongsong bulan Ramadhan dan berbagai laku puasa lainnya, ibu selalu membuat sendiri dari abu merang, yaitu abu dari tangkai padi  yang bulir-bulir gabahnya sudah dirontokkan. Abu tersebut direndam air sekedarnya, dan air rendaman itulah yang digunakan untuk mandi keramas. Bahan keramas seperti ini harus dibuat sendiri supaya kita betul-betul yakin akan kesuciannya.

Mandi keramas dengan air dari abu merang, biasanya dilakukan pada sore hari menjelang puasa keesokan harinya, di pelataran sumur yang terbuka dengan beratapkan langit, dan dimulai dengan doa agar semua anggota tubuh yang dikenai air keramas, menjadi suci serta selanjutnya senantiasa dijaga kesuciannya oleh Gusti Allah Yang Maha Suci, demikian pula kepala yang di dalamnya tersimpan otak manusia. Berdoa agar jasmani dan rohani kita disucikan. Selesai keramas, baru kita masuk ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu. Doa yang sama juga dipanjatkan dengan penghayatan bagian demi bagian tatkala kita wudhu.

Tentang bersuci, Kitab Centini menyatakan, kesempurnaan sembahyang ada tiga hal. Yang pertama, suci badannya. Kedua, suci mulut. Ketiga, suci hatinya.

Demikianlah, dengan memahami dan menghayati makna eling, makna bersuci serta makna empat tingkatan sembahyang, kami mulai dilatih untuk mengolah dan mengendalikan cipta, karsa dan rahsa (rasa) menuju salat daim, yaitu mengingat Gusti Allah secara terus menerus dengan segala kebesaran, kesucian, kekuasaan, perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya.

Tentu saja tidak semudah mengatakannya. Tapi itulah makna, pemahaman dan pengamalan eling dalam tasawuf Jawa. Sembah raga itu sama dengan tingkatan syariat. Sembah cipta adalah tarekat. Sembah jiwa itu hakikat, sedangkan sembah rahsa adalah makrifat. Namun ada sebagian orang yang menyederhanakan menjadi: “Orang harus bisa mengolah dan mengendalikan cipta, karsa dan rahsa, sementara raga tidak terlalu penting lagi.” Kemudian ada yang karena sudah merasa mencapai tingkat makrifat, maka syariat ditinggalkan. Padahal para ahli tasawuf telah mengibaratkan, syariat yang berisi hukum-hukum peribadatan adalah kapal atau kendaraan. Kapal ini tidak berarti apa-apa jika ia berada di daratan. Tetapi begitu berada di lautan, di atas air laut, ia menjadi memiliki makna. Meskipun demikian, apa guna sebuah kapal dengan lautannya bila tak ada tujuan yang hendak dicapai. Tujuan itu adalah mutiara kehidupan atau hakikat. Di lain pihak, bagaimana mungkin kita mencapai tujuan jika tidak ada kendaraan dan jalan untuk mencapainya. Apa pula artinya cipta, karsa dan rasa apabila tidak ada raga yang mewadahinya. Semuanya saling terkait, memerlukan serta melengkapi satu sama lain.

Subhaanallaah. 

(Seri Tulisan ”Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

Tentang Penulis

B.Wiwoho

Tinggalkan Komentar Anda