Tafsir

Perenungan dalam Keindahan (Bagian 2)

Keindahan bulan (P Alexandre/Unsplash)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

’’Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan (seluruh alam) ini dengan sia-sia.” Inilah doa yang  mengandung rahasia dan perintah pemanfaatan alam yang telah diciptakan Tuhan untuk kita.Sebab, ’’tidak  sia-sia’’ berarti punya tujuan.

Penciptaan langit dan bumi, dalam ayat di atas, bukan sasaran indera. Juga pergiliran malam dan siang. Kapal-kapal di lautan memang bisa di lihat, tapi yang juga diterAkan di situ bagai mana  kapal-kapal itu mengangkut ‘’barang-barang yang bermanfaat bagi manusia’’, dengan kata lain arti ekonomis perjalanan kapal-kapal itu. Seperti itu juga hujan dari langit bisa dilihat, juga dialami,  tapi bahwa hujan menghidupkan bumi sesudah matinya, dan dengan itu menyediakan makanan bagi segala makhluk hidup yang disebarkan Tuhan di situ, bukan masalah mata, melainkan otak. Tiupan angin juga bisa dirasakan, tetapi perkisaran angin-angin, yang berhubungan dengan musim maupun iklim, serta formasi dan jenis-jenis awan, adalah masalah ilmu alam. Begitulah, ini ayat keilmuan yang tak lagi bergerak pada tataran indera.

Herankah kita bahwa ayat-ayat  tersebut pertama (dari surah Al- Fathir), yang mengetengahkan panorama warna-warni di atas, diturunkan sewaktu Nabi s.a.w. masih di Mekah, sementara ayat kedua (dari surah Al-Baqarah) diwahyukan sesudah beliau di Madinah, seperti yang bisa anda dapat dalam kitab Quran, dituliskan di bagian atas pembukaan masing-masing surah? Dan herankah kita bila kata akhir ayat kedua ini (yang Madinah) adalah akal, yang berkonotasi ilmu, sementara dalam ayat-ayat pertama (yang Mekah) ‘’baru hanya’ ’pernyataan kebesaran Allah?

Itu tahap kedua. Untuk ayat yang ketiga, Al-Fakhrur  Razi (544-604 H.) punya penemuan menarik. Ia menunjuk hubungan ayat yang kedua ini, yang berasal sari surah Al-Bagarah, dengan ayat dari Surah Ali Imran: ’’Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi mereka yang mempunyai akal: mereka yang  menyebut nama Allah sambil berdiri, duduk, maupun berbaring, dan merenungkan penciptaan seluruh langit dan bumi: ’Tuhan kami,tidaklah engkau menciptakan ini degan sia-sia…’’’(Q.3:190-191).

Ayat ini hanya memuat  dua tanda (petunjuk) ketuhanan: penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam. Sedangkan ayat sebelumnya memuat enam tanda:penciptaan alam, pergantian siang dan malam, kapal di lautan, air hujan, angin dan awan. Maka berkatalah Razi, ’’Tidak boleh  tidak, orang yang menempuh jalan kepada Allah pertama kali akan membutuhkan banyak tanda, tetapi bila hati telah bersinar dengan cahaya makrifat Allah, jadilah kesibukannya dengan tanda-tanda itu justru penghalang bagi ketenggelamnya dalam makrifat Allah.’’ Karenanya, ia akan menuntut penyederhanaan tanda (Razi, At-Tafsirul Kabir,lX:139).

Razi melihat gerak maju-dari banyak tanda ke sedikit tanda-dalam konteks perjalanan mistis. Untuk menjelaskan jalan pikiran mufasir itu, kita bisa melihat gerak maju itu dari dua hal. Pertam, dari kenyatan menyerdahanakan tanda, yang disebut Razi, itu sebagai suatu perangkuman: sesuatu yang sudah dikuasai rinciannya tinggal diberikan garis besarnya. Dua tanda dalam ayat terakhir di atas (penciptaan alam dan pergiliran malam dan siamg ) sesudah mewakili semua yang tersebut terdahulu: penciptaan mewakili dunia benda, yang membentuk ruang, sementara malam dan siang mewakili waktu. jadi,ruang dan waktu. Tetapi gerak maju juga, sebagai tambah buat Razi, kita lihat dari kalimat doa pada ayat terakhir itu: ’’Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan (seluruh alam) ini dengan sia-sia.” Inilah doa yang  mengandung rahasia dan perintah pemanfaatan alam yang telah diciptakan Tuhan untuk kita.

Sebab, ’’tidak  sia-sia’’ berarti punya tujuan. Dan tujuan itu bisa kita dapatkan misalnya  dari ayat ini: “Tidakkah kalian lihat bahwa Allah menundukkan untuk kalian semua yang ada di seluruh langit  dan yang di bumi, dan melengkapkan atas kalian anugerah-Nya, yang lahir  maupun yang batin?’’ (Q. 45:13). Berarti, seluruh langit dan bumi ditundukkan Allah kepada kita. Itulah tujuannya. Dan itu berarti tugas pemanfaatan di pundak kita. Dan masalah pemanfaatan, lebih-lebih bila tidak hanya menyangkut bumi, melainkan seluruh semesta (dengan segala rahasianya), berarti Ilmu.

Itulah kiranya mengapa ayat ini patut didudukkan  pada anak tangga ketiga dari ayat-ayat sejenis yang memberikan dorongan keilmuan lewat penyadaran alam. Adapun landasan dari segi kronologi turun ayat: surah Ali Imran,yang mengandung ayat ini, diturunkan di Madinah  sesudah surah Al-Baqarah yang mengandung ayat yang sebelumnya (As-Suyuthi, Al-Itqan,1:10-11). Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (Sumber: Panjimas, Agustus 2003)

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda