Tasawuf

Metode Penyembuhan Sufi (Bagian 1)

Tarian sufi, menjadi salah satu metode penyembuhan
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Meditasi  dan konsentrasi itu dimaksudkan untuk mengembalikan energi yang hilang setelah banyak dipergunakan selama berhari-hari dalam aktivitas hidup kita.

Penyembuhan berhubungan dengan apa yang menyebabkan penyakit. Kita harus tahu dulu apa sesungguhnya penyakit yang ada pada kita. Kita tidak akan dapat menyembuhkan penyakit kita kalau kita tidak tahu apa penyakitnya. Dan tidak ada yang tahu penyakit kita kecuali dari kita sendiri. Itu sebabnya  ada sebuah ungkapan yang baik sekali untuk menjawab masalah penyembuhan, yaitu “know your self”,  kenalilah dirimu sendiri. Ini seingat saya paham dari Socrates yang sampai sekarang diabadikan di Athena  — kemudian diikuti orang Arab dengan kalimat “Ta’rif nafsak binafsik”,   artinya engkau mengenal dirimu dengan (perantaraan) dirimu.

Karena itu, seperti yang berkembang di kalangan sufi, ada ungkapan “barang siapa mengenal dirinya dia akan mengenal Tuhannya.” Di dalam Alquran juga diabadikan, “Wafi anfusikum,afala tubsihrun(dan dalam dirikamu sendiri, apakah kamu tidak merenungkan).” Dengan memahami diri sendiri kita akan mengenal siapa diri kita sebenarnya. Para filsuf biasa mengatakan, “Anda ini dari mana dan sedang di mana”,  dan kita sekarang sedang ada di mana dan sedang apa. Apakah kehadiran kita ini tanpa tujuan atau hanya  main-main saja kita hadir di sini. Dan setelah ini kita mau ke mana. Orang yang tidak parnah kenal dirinya tidak bisa memperbaikinya. Orang sering merusak dirinya disebabkan dia tidak parnah kenal dirinya itu siapa.

Metode penyembuhan sufi adalah konsentrasi dan meditasi. Dengan meditasi kita mengheningkan cipta sesaat, mencoba memutuskan diri kita dari alam materi yang ada di semesta ini. Konsemtrasi hanya pada satu titik (sumber, yaitu Allah). Orang yang sakit itu karena dia tidak parnah diam. Artinya, kalau kita selalu berbicara, ngomong terus-menerus tentang suatu masalah, pastilah kita akan lupa diri kita sendiri.

Maka dari itu, para pengamal tarekat mengatakan puasa itu bukan saja menahan makan dan minum, tetapi juga diam, dengan tidak  banyak bicara, apalagi membicarakan hal-hal yang tidak perlu atau yang dapat menyebabkan dosa.  Jadi  puasa diam  itu salah satu metode penyembuan sufi, yang dapat dilakukan melalui sbuah meditasi yang terkonsentrasi pada satu fokus. Coba bandingkan: mana yang lebih ringan, puasa tidak makan dan minum atau tidak ngomong? Pasti puasa tidak makan dan minum. Kenapa demikian? Karena kita ini biasanya melihat sesuatu yang aneh kita omongkan. Acara televisi yang tidak kita senangi kita omongkan. Artinya kita tidak bisa menahan diri,dan emosional.

Kita lihat lagi contoh lain: kalau ada sesuatu perkumpulan, biasanya ibu-ibu, setiap ada yang ngomong pasti yang lain ikut ngomong, ikut bercerita ini-itu. Terkadang  orang membicarakan kesalahan-kesalahan orang lain  dan bukan kebaikan-kebaikannya. Karena itu, para sufi seperti Imam Al-Ghazali (w.1111 M.) mendidik muridnya selama tiga tahun setiap harinya puasa ngomong tujuh jam, dan  itu sangat positif, dilakukan bersama meditasi dengan latihan-latihan tertentu.

Itu juga parnah diperintahkan Allah kepada Nabi Zakaria a.s. Ketika itu usia beliau sudah lanjut, dan istrinya pun sudah renta. Kemudian datang titah dari Allah waktu dia sedang salat di mihrab: “Hai Zakaria, kamu akan mendapat seorang  anak yang namanya Yahya.” Zakaria sangat kaget — dia berkata, “Ya Allah bagaimana saya dapat anak, sedangkan saya sudah tua, istri saya pun tua renta?’’ Apakah tandanya semua ini? Allah mengatakannya lagi, “Tandanya kamu (Zakaria)  tidak akan ngomong kepada manusia selama tiga hari berturut-turut.”

Begitu pula  cerita ibu Nabi Isa Al-Masih, yaitu Siti maryam. Setelah melahirkan anak, gemparlah dunia (kaum Yahudi) ketika itu. “Hai Maryam,  kamu ‘kan keturunan orang baik-baik. Bagaimana mungkin bisa dapat seperti ini?”  Muncullah gossip di sana sini. Akhirnya orang berdatangan terus-menerus kepada Maryam, menanyakan soal anaknya yang baru lahir itu. Allah lebih dulu sudah berkata kepada Maryam, memerintahkan puasa tidak ngomong kepada semua orang. Jadi Maryam hanya menunjukan bayinya itu (Isa). Akhirnya yang menjawab pertanyaan orang-orang tadi sang bayi. Apa maknanya?

Kalau ada permasalahan yang datang kepada kita, ada cacian yang datang, jangan kita jawab dengan cacian lagi. Lebih baik diam. Agama mengatakan, jika ada orang yang suka  marah kepada kita, jangan kita ngomong dengan sikap marah lagi, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah. Yang dapat menyelesaikan masalah adalah diam. Dalam ajaran agama disebutkan “Falyaqul khairan au liyashmut,   maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” Di saat Maryam diam, yang memberi jawaban adalah bayi (Isa Al-masih) yang polos dan lugu,dengan hati yang tulus dan suci.

Karena itu puasa diam sangat positif. Bahkan dikatakan, kalau kita mau mengenali  diri kita sendiri, merenungkan diri sendiri, kita harus diam. Dan harus dalam keadaan eling, merenungkan diri sendiri. Kebenaran tidak usah kita cari  di luar diri kita. Sesungguhnya kebenaran apa pada diri kita.

Dalam penyembuahan, meditasi dan konsentrasi merupakan dua hal yang paling tepat untuk dilakukan, karena semua indera fisik kita tidak melakukan kegiatan seperti biasanya, yang ada hanyalah memfokuskan diri pada satu sumber, yaitu Tuhan. Meditasi  dan konsentrasi itu dimaksudkan untuk mengembalikan energi yang hilang setelah banyak dipergunakan selama berhari-hari dalam aktivitas hidup kita. Ada tiga hal yang harus kita renungi dalam pnyembuhan sufi itu. Pertama, apa yang sudah kita lakukan pada hari ini dan kemarin: bermanfaat bagi orang lain atau tidak. Kedua, apa saja agenda yang belum kita kerjakan untuk mencapai tujuan hidup. Ketiga, tanya pada diri kita, pada kesalahan dan dosa yang kita perbuat selama ini. Renungan ini jangan hanya di waktu menjelang tidur, tetapi bisa setiap kita sedang ingat kepada Allah dan ingat kepada diri sendiri.

Penulis: Prof. Dr. Zainun Kamal (Sumber: Panjimas, Agustus 2003)

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda