Tasawuf

Tasawuf Dengan Empat Tingkatan Sembahyang

Kesombongan, ketamakan, dan kedengkian adalah akar dari semua dosa (foto ilustrasi Frank McKenna/unsplash)
Ditulis oleh B.Wiwoho

Tentang salat daim, Kitab Centini mengajarkan melalui nasihat Syeh Amongraga kepada isterinya, Niken Tambangraras, yaitu zikir yang tidak pernah berhenti, bahkan terus-menerus menyertai tarikan nafas, dan dilatih sesuai kata hati.

Sementara itu tentang salat, sebagian besar orang Jawa menyebut sembahyang, dari asal kata menyembah Sang Hyang Maha Tunggal (Esa) Lagi Maha Wenang (Kuasa). Oleh karena itu sembahyang bukanlah hanya sekedar mengerjakan salat lima waktu dengan rukuk dan sujudnya semata-mata, tapi meliputi empat tingkatan.

Kitab Wedhatama dalam bait ke 48 sampai dengan 72 menjelaskan empat tingkatan tadi yaitu tingkat pertama, sembah raga. Kedua, sembah cipta atau sembah kalbu. Ketiga, sembah jiwa. Keempat, sembah rasa.

Sembah raga merupakan langkah awal dari keseluruhan tingkatan sembahyang. Ibarat jenjang kepegawaian ia masih dalam tingkat magang, dengan tujuan melatih mendekatkan diri ke Gusti Allah. Sembah raga bersuci dengan air dan melaksanakan salat lima waktu. Sembah raga juga dapat diartikan ibadah kepada Gusti Allah secara fisik dan lahiriah, secara tampak mata, secara syariat.

Sembah cipta atau sembah kalbu adalah ibadah batin yang jauh lebih sulit dibanding ibadah lahir. Orang baru dapat dikatakan bisa melakukan sembah cipta jika kalbunya suci. Ia senantiasa ikhlas, rendah hati dan tidak sombong, tidak minta dipuji serta dihormati pengikut-pengikutnya. Tidak ujub dan riya. Agar dapat melakukan sembah cipta, kita harus dapat mengendalikan hawa nafsu. Karena bersifat batin, maka cara bersucinya tidak dengan air, melainkan dengan hasrat yang luhur. Orang yang sudah bisa melaksanakan sembah kalbu akan dapat melihat sajatining urip, makna kehidupan yang sesungguhnya, sebagaimana yang digariskan Gusti Allah. Dengan demikian selanjutnya akan dapat menemukan jalan atau tarekat menuju dan menyatu dengan kehendak Pangeran Yang Maha Agung.

Sembah yang ketiga yaitu sembah jiwa adalah hakikat dari segala macam sembahyang. Tidak semua orang mampu melakukan ini. Orang yang dapat melaksanakan sembahyang ketiga ini, jiwanya senantiasa mampu mengendalikan raga, cipta atau kalbu dan hasrat atau karsanya. Agar dapat mengendalikan, maka jiwa yang bersangkutan harus suci bersih dan selalu eling, berzikir baik batin, lisan maupun perbuatan pikiran dan jasmaninya. Segalanya senantiasa tertuju kepada Tuhan. Ia tidak menuntut dan membutuhkan apa-apa bagi dirinya sendiri, karena sudah merasa cukup puas dengan segala dan apa pun yang telah dikaruniakan Gusti Allah kepadanya. Ia malu untuk meminta sesuatu bagi dirinya sendiri kecuali ridho Allah.

Akan halnya sembah rasa atau makrifat, merupakan penyembahan dari inti rasa sejati, yaitu rasa batin yang tak berwujud, yang hanya dapat kita lakukan bila kita sudah sungguh-sungguh mengenal dan menyatu dengan kehendak Allah. Inti rasa sejati itu sama dengan atma atau juga inti dari jiwa. Karena jiwanya sudah suci maka tidak ada lagi tirai yang menghalangi antara inti jiwa dengan Gusti Allah Yang Maha Agung.

Demikianlah ulama-ulama Jawa tempo dulu mengajarkan tasawuf dengan empat tahapannya, yakni syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Nasehat almarhumah ibu, hati-hatilah jika berhadapan dengan orang-orang yang patut diduga sudah mampu melakukan sembah kalbu, sembah jiwa dan lebih-lebih sembah rasa. Orang yang seperti itu akan memperoleh hadiah dari Gusti Allah berupa malaikat pengawal yang setiap saat menjaganya. Maka jangan sampai kita berbuat atau berbicara yang tidak baik terhadap orang tersebut, karena meskipun orang yang bersangkutan tidak apa-apa, tapi bisa saja malaikat pengawalnya yang tidak terima.

Masya Allah. 

(Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

Tentang Penulis

B.Wiwoho

Tinggalkan Komentar Anda