Mutiara

Yang Jarang Diingat dari Sang Jenderal Besar

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Jenderal Soedirman, tak syak lagi,  pemimpin perang kemerdekaan ketika para pemimpin sipil Indonesia menyerah dan ditawan Belanda. Ia melakukan perang gerilya untuk melawan tentara Belanda yang ingin menancapkan kembali kekuasaannya di Indonesia. Semasa hidupnya ia dikenal sebagai prajurit muslim yang taat. Dan anak-anak sekolah pun mafhum itu. Tapi belum tentu tahu tentang Soedirman ketika seusia dengan mereka.

Saat duduk di bangku sekolah, Soedirman sudah mendapat julukan kaji atau haji. BuKan karena ia telah menunaikan rukun Islam kelima itu, melainkan karena dia saleh dan taat beribadah. Ia sangat rajin mengikuti pengajian-pengajian dan ceramah-ceramah agama di berbagai tempat. Bahkan, ia sendiri mulai memberikan ceramah agama di lingkungan kawan-kawan pemuda atau lingkungan anak-anak di surau wilayah tempat tinggalnya. Hingga ia dikenal sebagai mubalig kondang di wilayah Kedu dan Banyumas.

Kepiawiannya dalam berdakwah memang tidak dapat dilepaskan dari pemahamannya tentang kemuhammadiyahan yang cukup kental dan keislammnaya yang cukup mendalam. Sebagai kader Muhammadiyah yang cukup mendalami Islam, Soedirman juga seorang juru dakwah yang andal.

Soedirman lahir pada 1916 di Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Kartawiraji. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga priyayi yang agamis, yakni bapak angkatnya Raden Cokrosunaryo yang merupakan kakak ipar ayahnya. yang Selain mengeyam pendidikan formal, Soedirman kecil juga dikirim untuk belajar mengaji ilmu agama pada K.H. Qahar di surau tidak jauh dari rumah keluarganya

Sebagai anak pejabat, Soedirman bisa bersekolah di HIS (Hollandsch Inlandsche School) Gubermen atau HIS Negeri. Sekolah ini hanya untuk anak-anak keturunan priyayi, pejabat, dan Belanda. Ketika belajar di HIS, Soedirman tidak termasuk murid yang menonjol. Prestasinya biasa-biasa saja. Ketika naik ke kelas lima ia mulai tidak betah, karena sering diejek oleh teman-temannya yang kebanyakan anak orang Belanda dan kaum priyayi, sehingga Soedirman meminta orangtuanya untuk pindah ke sekolah HIS Taman Siswa.

Belum genap satu tahun, sekolah HIS Taman Siswa terpaksa ditutup karena kekurangan dana. Kemudian, orangtuanya membawa Soedirman kembali ke sekolah HIS Gubermen. Tidak bisa diterima lagi sehingga pada akhirnya ia dimasukkan ke Sekolah Wiworotomo Cilacap. Lulus dari Wiworotomo, Soedirman masuk ke sekolah Taman Dewasa hingga kelas dua.

Soedirman kemudian harus pindah karena sekolah tersebut ditutup karena mendpat tekanan dari pemerintah kolonial. Kemudian, oleh gurunya iadisarankan pindah ke MULO Wiworotomo. Di lingkungan sekolah MULO Wiworotomo, Soedirman berkembang cepat dan tampak lebih menonjol dibandingkan sewaktu di HIS pemerintah. Cara berpikirnya yang sudah matang dan dewasa, menjadikan Soedirman sering dipercaya untuk memimpin dan mengorganisasi penyelenggaraan sebuah kegiatan yang diadakan di sekolah. Selain itu, ia juga sering membimbing atau mengajarkan teman-temannya sehingga dijuluki sebagai “guru kecil” atau pembantu guru.

Di MULO Wiworotomo inilah bibit nasionalisme dan sentimen anti penjajah tumbuh dalam diri Soedirman. Ada tiga guru Wiworotomo yang sangat berpengaruh bagi Soedirman. Guru yang pertama adalah R. Sumoyo, tokoh Budi Utomo, yang memberinya pemahaman tentang pergerakan nasional. Guru yang kedua adalah R. Suwarjo Tirtosupono, alumni Akademi Militer Breda Belanda yang tidak bersedia menjadi seorang tentara KNIL dan memilih menjadi seorang pergerakan. Guru yang ketiga adalah R. Moh. Kholil, seorang tokoh Muhammadiyah yang ahli dalam bidang keislaman, yang memberikan pendidikan kepadanya tentang ajaran dan nilai-nilai kebaikan yang berlandaskan cara pandang sebagai manusia yang beragama dan taat perintah Tuhan. Di sekolah ini pula, Soedirman dapat menyalurkan kegemarannya dalam berorganisasi. Ia aktif di berbagai organisasi, seperti Ikatan Pelajar Wiworotomo, dan Hizbul Wathan.

Sesudah tamat dari MULO Wiworotomo, Soedirman masuk ke sekolah guru, yaitu HIK Muhammadiyah di Solo. Perguruan Muhammadiyahlah kemudian yang dipilih Soedirman, karena minatnya yang besar di bidang agama. Sewaktu berumur 18 tahun, ia memutuskan untuk bekerja karena waktu itu ayah angkatnya Raden Cokrosunaryo meninggal dunia dan tidak ada lagi yang membiayai sekolahnya. Ia melamar untuk menjadi guru HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kemudian mulailah Soedirman bekerja sebagai guru. Walaupun, secara formal Soedirman bukan lulusan dari pendidikan guru dan tidak memiliki ijazah, dengan kemauan dan kemampuan yang dimiliki, ternyata Soedirman mampu tampil sebagai guru yang andal.

Sebagai guru, Soedirman selalu membina hubungan baik dengan sesama teman sejawat, menaati peraturan sekolah dan hormat kepada pimpinan. Ia jujur, supel dan tidak pemarah. Oleh karena itu, wajar apabila Soedirman disegani, dan menjadi contoh bagi guru-guru yang lain. Itulah sebabnya saat diadakan pemilihan kepala sekolah di HIS Muhammadiyah Cilacap, para guru mempercayakan Soedirman sebagai kepala sekolah.

Ketika Jepang datang ke Indonesia pada Oktober 1943, Soedirman masih menjabat sebagai guru di HIS Muhammadiyah Cilacap. Karier militer Soedirman dimulai ketika ia bergabung dengan angkatan PETA (Pembela Tanah Air). Soedirman mengikuti latihan komandan PETA pada 1944. Ia dilatih untuk menjadi daidancho PETA atau Komandon Batalyon dan latihan itu diikutinya di Bogor. Setelah selesai ia diangkat menjadi Daidanco PETA di Kroya.

Soedirman kemudian membuat suatu resimen “Tentara Keamanan Rakyat” (TKR), Soedirman sendiri yang menjadi pemimpinnya. Ia kemudian menjadi komandan resimen I/ divisi I. Karena persenjataan resimennya sangat lengkap Soedirman berhasil merebut gudang senjata Jepang, kemudian oleh Letnan Jenderal R. Oerip Soemohardjo, Kepala Staf Markas Besar Umum TKR, Soedirman diangkat menjadi panglima Divisi V/Dearah Banyumas.

Karier militernya melesat cepat. Pada 12 November 1945 para Panglima Divisi dan Komandan Renzim mempercayakannya menjadi Panglima Besar melalui suatu pemilihan. Setelah berhasil menggempur dan mengahalau tentara Inggris di Palagan Ambarawa, Soedirman kemudian diangkat dan dilantik oleh Presiden Soekarno menjadi Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia dengan berpangkat Jenderal pada 18 Desember 1945.

Selama menjadi Panglima Besar, Soedirman memiliki pengaruh yang sangat besar dalam terciptanya religiusitas di kalangan Tentara Nasional Indonesia. Dalam hal ini pengaruh Soedirman dapat dilihat dalam dua hal. Pertama, pengaruhnya secara institusional. Pengaruh pemikiran dan prinsip keberagamaannya dalam merumusan Etika Keprajuritan (Sumpah Prajurit, Sapta Marga, Delapan Wajib TNI, Sebelas Asas Kepemimpinan TNI), dan pembentukan institusi Pembinaan Mental di lingkungan TNI. Kedua, pengaruhnya secara personal. Sikap keberagamaan yang dimiliki oleh Soedirman menjadi suri tauladan atau contoh bagi seluruh anggota TNI dan masyarakat.

Pada pembentukan institusi atau lembaga Pembinaan Mental di lingkungan TNI, Soedirman membentuk Pejabat Pendidikan Keagamaan Tentara untuk kesatuan di Pulau Sumatera, yang kemudian berubah namanya menjadi Bagian Urusan Agama pada staf Kemeterian Pertahanan RI (1949). Setahun kemudian Badan Urusan Agama berubah menjadi Dinas Agama (1950). Dan pada akhirnya berubah menjadi Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat (Disbintalad) pada tanggal 20 september 1976. Maka Soedirman kemudian dinobatkan sebagai Bapak TNI dalam bidang pembinaan mental di kalangan TNI.Jenderal Soedirman meninggal dunia Pada 29 Januari 1950, karena penyakit tubercolosis yang dideritanya. Bapak TNI dan Jenderal Besar ini dimakamkan di Yogyakarta

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda