Tasawuf

Salat Daim, Zikir Di Mana Dan Kapan Saja

Ditulis oleh B.Wiwoho

Dalam rangka berlatih agar selalu ”eling”, almarhum ustadz Bedu Abdurahman dari Pare-Pare, Sulawesi Selatan berulangkali berpesan sebagaimana sebagian orang Jawa mengaku atau merasa telah memperoleh pelajaran dari Sunan Kalijaga, yaitu senantiasa melaksanakan salat daim. Salat atau sembahyang, mengingat dan menyembah Gusti Allah  terus  menerus tanpa pernah putus betapa pun sibuk kita.

Mengingat  Allah, demikian almarhum K.H. Endang Bukhori Ukasyah dari Cipicung, Sumedang, harus diupayakan tanpa jemu walau kita sedang berbicara dengan orang lain.  Sementara mulut kita berbicara dengan seseorang atau tangan kita bekerja, hati kita harus dilatih untuk senantiasa ingat dan menyebut asma-Nya.

Zikir yang memang berarti mengingat atau menyebut, dalam bahasa Jawa adalah eling itu tadi. Jadi zikrullah atau mengingat Allah, juga sama dengan eling kepada Gusti Allah.

Secara garis besar kita harus ingat atau eling terhadap tiga hal. Pertama, harus senantiasa ingat pada sangkan paraning dumadi (asal mula dan maksud tujuan mengapa Tuhan menciptakan kita).

Kedua, harus senantiasa ingat pada misi utama kehidupan yaitu mewujudkan rahmatan lil alamin atau hamemayu-hayuning bawono, yaitu melestarikan sekaligus mengandung pengertian menebarkan kebahagiaan atas alam semesta dan segenap isinya. Alam semesta dengan segenap isinya ini memiliki makna yang luas, yang meliputi seluruh umat manusia, baik Jawa atau bukan, baik Islam maupun bukan, binatang, tumbuh-tumbuhan, gunung, lautan, sungai dan segala macam makhluk Tuhan, baik yang kelihatan maupun tidak.

Ketiga, dalam melaksanakan dharma kehidupan di bagian kedua tersebut, manusia harus selalu ingat akan agama atau agami, akronim dari agemaning iman (pakaian keimanan), yang dijahit mengikuti pola amal saleh dengan benang jahitnya berupa budi pekerti luhur atau akhlak mulia.

Ketiga hal tersebut saling terkait serta mengisi satu sama lain, mewarnai lingkaran kehidupan pribadi, berkeluarga dan bermasyarakat. Lingkaran kehidupan ini wajib diisi dan diberi makna dengan sebaik-baiknya. Kita wajib membangun monumen tugu amal saleh yang indah, yang pondasi dan struktur tulang betonnya adalah iman yang kokoh.

Cahaya keimanan perlu terus-menerus diarahkan ke jiwa kita. Semua perilaku, pekerjaan dan berbagai amalan akan bermakna indah bila diselimuti cahaya keimanan, dan itu bisa terjadi jika kita selalu ingat bahwa semua itu adalah semata-mata karena Gusti Allah.

Makan, tidur, menolong orang, menyumbang fakir miskin, bekerja, berkebun, berjualan, mengemudikan kendaraan, menulis, berbicara serta seribu satu bahkan sejuta kegiatan dan urusan lainnya, harus dieling-eling, diingat dan diniatkan secara tulus ikhlas sebagai dharma, sebagai pengabdian kita kepada Sang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa Atas Segala Kejadian). Inilah yang dimaksud dengan hakikat zikir yang tiada putus atau selalu eling atau juga salat daim. Memang yang lazim, zikir itu berupa kata-kata atau kalimat yang menyebut asma Allah dengan segala kekuasaan dan sifat mulia-Nya. Tapi kata almarhumah ibu, yang lebih penting adalah justru selalu mengingat Gusti Allah dalam setiap pikiran dan perilaku kita. Sebab itulah hakikat dari amal saleh.

Alhamdulillah.

(Seri Tulisan ”Orang Jawa Mencari Gusti Allah”)

Tentang Penulis

B.Wiwoho

Tinggalkan Komentar Anda