Cakrawala

Dinasti Saud dan Gerakan Wahabisme

Raja Abdul Aziz bin Saud dan putranya Raja Salman (foto : pinterest)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Kerajaan Saudi menggabungkan  dua cita-cita sekaligus, yaitu memperluas kekuasaan politik dan menyebarkan ajaran yang dibawa oleh Muhammad ibn  Abdil Wahab.

Pada mulanya Dinasti Saud, yang sekarang menjadi penguasa Arab Saudi, bukanlah orang-orang yang punya cita-cita besar. Mereka hanya sebuah keluarga kecil yang menguasai daerah kecil, seperti syekh-syekh lain yang jumlahnya banyak di sekitar Nejd. Andaikan mereka tidak bersekutu dengan Muhammad bin Abdul Wahab, mereka hanya akan menjadi petani atau pedagang kecil, atau paling banter peternak kuda. Dan tentu saja dengan kebiasaan bergabung dengan suku-suku badui untuk menyerang dan merampas suku lain bila mereka merasa kuat, atau dengan cerdik bersembunyi di pangkalan mereka jika merasa sedang lemah.

Dunia pun tidak akan mengenal mereka jika keluarga ini tidak   bersekutu dengan Ibn Abdil Wahab, dan berjanji untuk ikut menyebarluaskan ajaran yang dibawanya dan menjadi pendukung utamanya. Yakni gerakan pemurnian Islam, dengan cara melenyapkan doktrin-doktrin yang tidak bersumber pada ajaran pokok yaitu Alquran, serta menghancurkan praktek-praktek bid’ah.

Syahdan, setelah belajar kepada sejumlah guru di Mekah, Madinah, Damaskus, dan Basrah, Muhammad bin Abdul Wahab kembali ke tempat asalnya, Al-Uyainah. Selain mengajar, dia juga bekerja sebagai qadi  (hakim). Dia mengorganisir gerakan penghancuran benda-benda yang dianggap keramat, menumbangkan pohon-pohon yang dianggap keramat dan banyak dikunjungi orang untuk meminta berkat, menghancurkan kubah-kubah peujaan, serta kuburan-kuburan yang dianggap suci. Gerakan Muhammad ibn  Abdil Wahab yang kelak disebut gerakan Wahabi ini, tampakya tidak disukai oleh banyak orang. Akhirnya, ia bukan hanya kehilangan jabatan, tetapi diusir dari kampung halamannya sendiri.

Tergeser dan terusirnya Muhammad ibn  Abdil Wahab itu, menjadi tonggak dari tersebarnya ajaran-ajarannya menjadi sebuah gerakan besar. Sebab, setelah itu ia berperan besar dalam pembentukan negara Arab Saud. Ketika Ibn Abdil Wahab mengungsi ke Dar’iyyah, dekat Riyadh, ia pun diterima dengan senang hati oleh Muhammad  ibn Saud, yang menjadi penguasa daerah itu. Ibnu Saud juga menerima ajaran yang dibawa Ibn Abdil Wahab dan mengangkatnya sebagai qadi, serta bersepakat melanjutkan dakwah. Dengan adanya kesepakatan ini maka ajaran Wahabi menjadi ideologi pemersatu kesukuan yang bersifat keagamaan di wilayah Ibnu Saud. Mereka pu menjadi pemimin Arabia Tengah baik spiritual maupun duniawi.  

Kesepakatan tersebut  berlangsung pada tahun 1744. Sebagai gebrakan awal adalah dengan “mensucikan Dar’iyyah’ – rokok dan musik dilarang , tempat-tempat pemujaan dan kemewahan dilenyapkan.  Tidak sampai di situ,mereka pun memperluas dan menyebarkan ajaran mereka ke tempat-tempat di luar wilayah kekuasaan mereka. Dengan demikian, Kerajaan Saudi menggabungkan  dua cita-cita sekaligus, yaitu memperluas kekuasaan politik dan menyebarkan ajaran yang dibawa oleh Muhammad ibn Abdil Wahab. Setelah Ibn Abdil Wahhab (1787) dan Ibn Saud (1814) meninggal, anak-anak dan ketrurunan mereka melanjutkan persekutuan yang telah mereka bina berdua. Sampai kemudian membentuk Al-Mamlakah al-Arabaiyah as-Sau’diyah.   

Apakah Kerajaan Arab Saudi, yang  sekarang menjadi sekutu penting Amerika Serikat di Timur Tengah, mengikuti sepenuhnya ajaran Wahabi? Apakah Wahabisme,  yang kini membuat cemas sebagian kalangan Republik ini sama dengan gerakan pemurnian di Jazirah Arab tempo dulu itu, yang sedikit-banyak berpengaruh terhadap gerakan modern Islam di Indonesia? Mengapa gerakan purifikasi agama, yang antara lain diekspresikan dalam penampilan diri, harus dimaknai secara politis?

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda