Mutiara

Sang Penyebar Zikir “Di Setiap Pandangan dan Nafas”

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Pendiri tarekat Idrisiyyah di Indonesia ini dijuluki Si Linggis. Pengembaraan spiritualnya dimulai di berbagai tempat di Jawa, Singapura, Mekah sebelum akhirnya wafat di Jakarta.

Abdul Fatah adalah pendiri tarekat Idrisiyyah di Indonesia yang berpusat di Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia lahir pada 1884 di Tasikmalaya, dan konon keturunan ke-7 Sunan Gunung Jati.Mula-mula berguru kepada K.H. Muhammd Suja’i alias Mamak Kudang, pengasuh Pondok Pesantren Kudang, Tasikmalaya, yang menganut tarekat Tijaniyyah. Di sin ia belajar lebih dari tujuh tahun (1903-1910).

Semasa hidupnya Abdul Fatah juga dikenal Si Linggis,yaitu orang yang memiliki ketajaman dalam menganalisa suatu masalah. Beberapa permasalahan yang tidak mampu dipecahkan dalam suatu forum diskusi, akhirnya diserahkan kepadanya. Dalam pemecahan suatu masalah, ia selalu mengalahkan lawan debatnya. Bahkan terkadang pelajaran yang belum disampaikan gurunya sudah dikuasainya.

Tidak hanya di Tasikmalaya, Abdul Fatah juga mencari guru spiritual di daerah-daerah lainnya di Pulau Jawa, bahkan Sumatera, hingga dia memutuskan untuk mencarinya di di Mekah. Keberangkatan ke Tanah Suci diikuti oleh seluruh anggota keluarganya. Perjalanannya ke Mekah sempat terhenti karena kapal yang dia tumpangi mengalami kerusakan di Singapura. Namun, ada hikmah yang dipetik abdul Fatah dari peristiwa mogoknya kapal yang ditumpanginya itu. Selama masa penantian di Kota Singa  itu, ia menjadi guru agama di masjid-­masjid. Di sana dia juga dipertemukan dengan sejumlah ulama seperti Syekh Abdul Alim Daghistany dan Syeikh Abdullah Daghistany. Kedua ulama ini sering berkunjung ke Mekah sehingga banyak menginformasikan tentang keberadaan tarekat Sanusiyyah.

Setelah Abdul Fatah memulangkan keluarganya dari Singapura ke Tasikmalaya, pada 1928 ia meneruskan perhalanan ke Mekah bersama jamaah lainnya dari Indonesia, seperti K.H. Toha dari Pondok Pesantren Cintawana Tasikmalaya, dan K.H. Sanusi dari Sukabumi. Ketika di Mekah, kedua ulama itu fokus belajar ilmu-ilmu agama, mendalami ilmu-ilmu zhahir, sedangkan Abdul Fatah lebih memilih bergabung dengan zawiyyah Sanusiyyah di Jabal Abu Qubais Mekah untuk belajar kepada Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi selama lebih kurang lima tahun. Selama berguru kepada Syekh Ahmad  inilah ia menjadi wali mursyidnya. Syekh Abdul Fatah menunjukkan keseriusannya dalam belajar dan berkhidmah, sampai ia rnendapat kepercayaan untuk ikut membaiat murid-murid baru.

Pada 1930 K.H. Abdul Fatah kembali ke kampung halamannya, dengan membawa tarekat Sanusiyyah, yang dalam perkembangannya berganti nama menjadi tarekat Idrisiyyah. Pergantian nama ini dilakuan untuk mencari keamanan politis, sebab ketika itu gerakan Sanusiyyah, terutama di Sudan, sudah menjadi gerakan yang sangat ditakuti oleh negara-negara kolonialis Eropa termasuk Belanda. Selain itu, pada prinsipnya ajaran tarekat Idrisiyyah merupakan anak dari ajaran tarekat Sanusiyyah yang kandungan ajarannya tidak berbeda. Untuk silsilah keguruannya pun Idrisiyyah maupun Sanusiyyah menggunakan jalur Ahmad bin Idris ke atas. Juga  untuk mencari barakah dari Syekh Ahmad bin Idris atas keistimewaan lafaz dzikirnya yaitu “Laa ilaaha illallah Muhammadurrasulullah Fi kulli lamhatin wa nafasin adada ma wasi’ahu ilmullah Tiada tuhan selain Allah, Nabi Muhammad utusan Allah di setiap pandangan dan nafas, sebanyak bilangan yang diliputi oleh ilmu Allah).”

Pada 1947, karena Cidahu sudah tidak lagi cukup memadai untuk pengembangan Pondok Pesantren Tarekat Idrisiyah, Kiai Abdul Fattah memindahkan lokasi pesantrennya ke Pagendingan, Cisayong. Selang lima bulan kemudian setelah Pusat Gerakan Tarekat Idrisiyah dipindahkan ke Pagenndingan, ia dan keluarganya pindah ke Jakarta.

Mula-mula ia berdakwah di Masjid Al-Makmur di Kebon Jeruk, Jakata Pusat. Konon, hanya beberapa orang saja yang mengetahui latar belakang hidupnya ketika mengajar di masjid ini. Di sini ia membuka majelis taklim yang dilanjutkan oleh putranya, uhammad Dahlan untuk menyiarkan ajaran-ajaran tarekat Idrisiyyah.

Di Masjid Al-Makmur, Abdul Fatah yang berhasil menghimpun sejumlah pengikut dan akhirnya dia djadikan guru tetap. Namun setelah masjid ini kedatangan para ulama dari Pakistan, terjadilah dua kekuatan pengaruh di sana. Rupanya Kiai Abdul Fatah memilih untuk mengalah. Dia mencari tempat lain untuk dijadikan zawiyah, maka didapatinya lokasi yang cocok di daerah Batu Tulis (Jalan Juanda sekarang) . Namun untuk bertahan di tempat tersebut, ia harus menundukkan tokoh-tokoh berpengaruh di wilayah itu, yang dikuasai oleh para jawara atau preman kampung. Selanjutnya, banyak muridnya yang mewakafkan tanah untuk dijadikan tempat dakwah, dan untuk murid-murid yang jauh, ia sediakan lahan sebagai tempat tinggal.

Kiai Abdul Fatah wafat pada 1947 di Jakarta. Sepeninggalnya kepemimpinan tarekat Idrisiyah digantikan oleh putranya yaitu Syekh Muhammad Dahlan. Dan kini di Pagendingan, Cisayong, Tasikmalaya, berdiri Pondok Pesantren Idrisiyyah., yang dipimpin Syekh Muhammad Fathurrahman

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda