Tasawuf

Eling Dalam Tasawuf Jawa

Seorang pria mengendarai sepeda di dekat Stasiun Tugu Yogyakarta (foto:arialqadri/unsplash.com)
Ditulis oleh B.Wiwoho

Orang Jawa sering menasehati sanak saudara yang sedang stres akibat sesuatu musibah agar eling dan nyebut. Elingartinya ingat. Eling apa? Ingat apa? Nyebutapa? Ingat kepada Gusti Allah. Nyebut asma Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Ingat akan takdir, akan kejadian yang sudah ditetapkan Allah. Ingat bahwa segala sesuatu yang kita alami itu sudah merupakan skenario Allah, Sutradara Yang Maha Kuasa, dan oleh karena itu kita harus ikhlas, harus berbesar jiwa untuk menerimanya. Lebih-lebih, jangan sekali-kali kita mengeluh dan protes terhadap ketentuan Gusti  Allah tersebut. Menangis meraung-raung, mengeluh apalagi protes tidaklah akan mengubah takdir yang sudah berjalan. Orang yang mati misalkan, tidak mungkin bisa hidup kembali. Sementara karena mengeluh atau protes bahkan bisa membuat Gusti Allah menjadi tidak berkenan terhadap kita.

Kata eling dalam bahasa Jawa bisa juga berarti berpikiran sehat, berpikir bijak.  Kata eling bersama rahayu yang berarti selamat dan tenteram, pada dasa warsa 1970-an sering kita dengar diucapkan oleh para penganut Aliran Kepercayaan dan Kejawen di TVRI, karena pada masa itu penganut paham tersebut memperoleh kesempatan formal dan luas untuk mengaktualisasikan keberadaannya di masyarakat, persis seperti Khonghucu dan kebudayaan Cina yang marak di Era Reformasi di awal abad ke-21.

Sesungguhnyalah, banyak ajaran-ajaran Kejawen yang sebenarnya bersumber dari Islam. Hal itu sangat dimungkinkan karena Sembilan Wali (Wali Songo) yang giat menyebarkan agama Islam di pulau Jawa, menggunakan metode dakwah yang hebat, halus menyusup ke dalam kebudayaan Jawa. Mereka menggunakan tamsil kura-kura, dalam bahasa Jawa disebut bulus. Dakwah Islam harus seperti bulus, akronim dari mlebune sarono alus, masuk secara halus, bil hikmah. Salah satunya adalah berdakwah dengan bahasa ibu masyarakat yang menjadi target sasaran, yaitu bahasa Jawa. Subhaanallaah.

Orang Jawa sebagaimana suku-suku bangsa lain, memiliki banyak petuah. Salah satu diantaranya yang sangat populer, yaitu sugih tanpa banda (kaya tanpa harta), nglurug tanpa bala (menyerbu tanpa perlu membawa pasukan) dan menang tanpo ngasorake (menang tanpa membuat musuh merasa dikalahkan). Esensi dari petuah ini ternyata saya jumpai dalam buku kumpulan hadis Nasehat Penguni Dunia (Nashaihul Ibad), karya Imam Ibnu Hajar Al Asqalaniy dan Imam Nawawi Al-Banteniy.   Yang terakhir adalah  ulama terkenal asal Banten yang bermukim di Mekah pada abad ke-19. Hadis tersebut berbunyi: “Barang siapa keluar dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan taat, maka Allah akan menjadikan ia kaya tanpa harta, kuat tanpa tentara dan menang tanpa pasukan.”

Kalau pada masa kejayaan Majapahit kita telah memiliki beberapa karya satra tulis, sayang sekali pada masa awal penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa abad ke-15, kecuali beberapa ”Suluk Demak”, kita sulit menemukan peninggalan karya tulis. Karya tulis Jawa baru kembali berkembang pada masa Mataram II, khususnya di masa Kasunanan Surakarta abad ke-18 dan ke-19. Itu pun kita belum biasa menggunakan kelaziman sumber kutipan. Akibatnya banyak ajaran agama Islam yang tidak diketahui atau tidak disebutkan sumber asal-usulnya, dan beberapa di antaranya kemudian diklaim sebagai ajaran Kejawen. Salah satu contoh adalah hadis dari Kanjeng Nabi Muhammad tadi.

Ironisnya pula ajaran-ajaran yang didakwahkan secara lisan dari generasi ke generasi tersebut, sebagian telah menyimpang sehingga belakangan ini banyak ajaran Kejawen yang kembali sarat dengan klenik dan mistis, memuja roh halus dan para jin. Sementara itu ada pula, alhamdulillah tidak banyak, penganut aliran Kebatinan, yang pada dasarnya menjalani ilmu tasawuf yang berusaha menghayati makna hakikat dan makrifat, mengambil jalan pintas, karena merasa Gusti Allah telah menyatu dalam dirinya, manunggaling kawulo-Gusti, maka menganggap tidak perlu menjalankan salat lima waktu. Tanpa perlu melaksanakan syariat. Mereka mungkin lupa bahwa Kanjeng Nabi pun sampai di akhir hayatnya tetap salat lima waktu. Padahal, adakah pengikutnya yang dapat menandinginya dalam hal keimanan dan kedekatannya dengan Allah? Saya yakin tidak. Maasyaa Allaah.

(Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

Tentang Penulis

B.Wiwoho

Tinggalkan Komentar Anda