Mutiara

Filosof Muslim yang Lebih Banyak Diminati Kristen-Eropa

Patung Averroes atau Ibn Rusyd, filosof muslim kenamaan yang dikenal pula sebagai bapak kedokteran (foto : Flickr)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Ibn Rusyd adalah seorang rasionalis dan menegaskan bahwa segala sesuatu, kecuali ajaran-ajaran iman yang turun melalui wahyu, bisa ditundukkan dan mematuhi keputusan akal. Meski demikian, ia bukanlah seorang pemikir bebas atau atheis.

Tidak syak lagi, filosof muslim terbesar yang paling berpengaruh terhadap dunia Barat adalah Ibn Rusyd atau Averoes. Nama lengkapnya Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn  Rusyd. Dialah astronom Spanyol-Arab, juga dokter dan komentator Aristoteles.

Sumbangan paling penting Ibn Rusyd untuk ilmu kedokteran adalah Al-Kulliyat fith-Thibb (Generalitas dalam Kedokteran). Dalam karya ensiklopedisnya itu ia antara lain menyatakan bahwa orang yang telah terkena cacar air tidak mungkin terserang lagi untuk kedua kalinya. Ia juga menjelaskan fungsi retina dengan penjelasan yang bisa dimengerti. Tetapi sosok Ibn Rusyd sebagai dokter, tenggelam oleh sosok Ibn Rusyd sebagai filosof dan komentator. Karya filsafatnya yang paling penting, di samping komentar-komentarnya, adalah Tahafut al-Tahafut (Kacaunya Kekacauan Filsafat), yang merupkan tanggapan atas karya Imam Al-Ghazali Tahafut Al-Falasifah.  Berkat karya itulah Ibn Rusyd menjadi filosof paling tenar di dunia muslim. Sedangkan di kalangan Yahudi dan Kristen, ia lebih dikenal sebagai komentator filsafat Aristoteles, dan memparafsekan isi karya-karya itu.

Sebagai seorang filosof besar yang menulis dalam bahasa Arab, Ibn Rusyd tidak meninggalkan seorang pun penerus di dunia Islam. Ia lebih banyak diminati oleh dunia Kristen Eropa dibanding dunia muslim di Asia atau Afrika. Di belahan dunia Barat ia mendapat julukan “komentator” dan Aristoteles dijuluki “guru”. Meskipun dalam banyak kesempatan menggunakan terjemahan berbahasa Latin dari bahasa Ibrani, yang berasal dari komentar berbahasa Arab, yang diterjemahkan dari bahasa Suriah, dan terakhir dari bahasa Yunani, pemikiran para pelajar Kristen dan sarjana Abad Pertengahan telah dikepung oleh komentar-komentar Ibn Rusyd atas Aristoteles. Menurut sejarawan Philip K.Hitti, Tak ada penulis lain yang memunculkan pengaruh sebesar itu. Dari akhir abad ke-12 hingga akhir abad ke-16, Averroisme tetap menjadi mazhab pemikiran paling dominan.

Ibn Rusyd adalah seorang rasionalis dan menegaskan bahwa segala sesuatu, kecuali ajaran-ajaran iman yang turun melalui wahyu, bisa ditundukkan dan mematuhi keputusan akal. Meski demikian, ia bukanlah seorang pemikir bebas atau atheis. Setelah menjadi objek cercaan para pendeta Kristen, karya-karya Ibn Rusyd menjadi rujukan utama di Universitas Paris dan lembaga-lembaga pendidikan tinggi lainnya. Dengan segala kesempurnaan, dan semua kesalahpahaman yang muncul atas namanya, gerakan intelektual yang dipelopori oleh Ibn Rusyd berlanjut menjadi elemen penting dalam perkembangan pemikiran Eropa sampai lahir sains eksperimental modern.

Ibn Rusyd lahir di Kordova pada 1126 dari keluarga terhormat yang telah melahirkan beberapa teolog dan hakim. Pada 1169-1171 ia sendiri menjabat sebagai qadhi (hakim agung) di Seville, dan dua tahun berikutnya di Kordova. Pada tahun 1182 ia dipanggil ke Maroko oleh Abu Yaqub Yusuf untuk menggantikan Ibn Thufayl sebagai dokter istana. Anak laki-laki Yusuf, dan pengganti al-Manshur mendepak Ibn Rusyd pada 1194 dengan tuduhan sebagai pelaku bid’ah karena kajian-kajian filsafatnya, tapi belakangan ia dipanggil kembali ke Marakesy, tempat ia meninggal tidak lama setelah itu, tepatnya pada 10 Desember 1198.  jenazahnya kemudian dipindahkan ke Kordova.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda