Cakrawala

Cingkrang Radikal (Bagian 1)

Penampilan celana cingkrang yang dipakai sebagian umat muslim di Tanah Air (foto :bimbinganialam.com)
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Karena kebetulan tinggal di dekat masjid, awal tahun 80an secara rutin pada waktu-waktu tertentu saya bertemu dengan rombongan orang bercelana di atas mata kaki (yang sekarang populer dengan sebutan cingkrang), memelihara jenggot (meski cuma punya beberapa utas), dan sebagian besar diantaranya jidatnya menghitam, bergamis (kadang a la Pakistan) plus bersorban. Dulu mereka menyebut dirinya rombongan jaulah, yang artinya berkeliling, atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Jamaah Tabligh.

Tak ada masalah dengan kehadiran mereka. Tak ada yang menghubungkan dengan kelompok Wahabi atau penyematan yang salah kaprah terhadap istilah salafi, apalagi menghubungkannya dengan gerakan radikal atau malah teroris. Sebagian besar mereka berasal dari kalangan NU atau Muhammadiyyah; atau malah sama sekali tak terkait dengan organisasi apa pun, karena mereka hanyalah orang-orang Islam yang baru tersadarkan untuk kembali belajar mengamalkan ajaran agamanya yang selama ini dilalaikan.

Masalah yang muncul saat itu paling banter sekitar ketersinggungan orang-orang yang mereka datangi. Mereka memang biasa berkeliling dari rumah ke rumah dan mengajak orang yang mereka datangi untuk sholat berjamaah, kemudian (tentu saja) diminta ikut serta mendengarkan uraian mereka tentang hadits-hadits tertentu yang mereka bacakan. Ketersinggungan ini terutama muncul dari orang-orang yang merasa lebih banyak tahu atau setidaknya merasa lebih ‘senior’ tentang Islam.

Waktu itu, tampilan fisik mereka memang seolah menjadi eksklusif dan karena itu lantas menjadi salah satu penanda identitas mereka. Kalau ada orang yang bercelana cingkrang, berjenggot (bahkan tanpa perlu memakai gamis atau sorban); orang segera mengidentifikasinya sebagai bagian dari Jamaah Tabligh.

Identifikasi yang sebenarnya juga tidak terlalu tepat, karena jauh sebelumnya, mayoritas santri dan terutama kyai-kyainya sudah lebih dahulu berpenampilan yang hampir sama. Perbedaan mulai terjadi ketika mode sarung bergeser ke penggunaan celana; sebagian masih mempertahankan model di atas mata kaki, sebagian yang lain mengikuti kecenderungan umum penggunaan celana yang di bawah mata kaki. Saya rasa, ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi di seluruh dunia Islam; bahkan lebih jauh lagi, terjadi dimana saja pengguna pakaian adat atau tradisional mulai bermetamorfosa ke penggunaan pakaian ‘modern’.

Tapi setelah melewati tahun 2000an, identifikasi cingkrang dan berjenggot mulai bergeser. Dari yang semula menunjuk ke Jamaah Tabligh, mulai bergeser ke kelompok yang disebut Wahabi. Meski untuk identifikasi ke Wahabi biasanya ditambah satu ciri lagi, yakni: jidatnya menghitam. Yang aneh, meski banyak pengikut Jamaah Tabligh jidatnya juga menghitam, tapi jidat menghitam ini tidak pernah dianggap sebagai bagian identifikasi Jamaah Tabligh.

Identifikasi cingkrang, jenggot plus jidat hitam terhadap Wahabi ini semakin menguat dan menjadi dominan sampai hari ini. Sekarang apabila bertemu perorangan atau kelompok  dengan ciri-ciri demikian, orang akan langsung mengasosiasikannya dengan pengikut Wahabi, dan sudah melupakan asosiasinya dengan Jamaah Tabligh.

Kalau sekadar soal identifikasi, ketidak-akuratan mungkin tidak menjadi masalah; tapi ketika identifikasi tersebut lantas melahirkan narasi-narasi tertentu yang bukan hanya bias tapi mengandung penilaian tertentu plus penghakiman, masalahnya menjadi berbeda karena ia segera menjelma menjadi stigma negatif.

Budayawan,tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Tinggalkan Komentar Anda