Tafsir

Tentang Berbagai-bagai Perang (yang Bisa Berulang) Bagian 4

Monumen bom Bali 1 di Legian Kuta untuk mengenang korban pengeboman Bali (sumber foto : Wikipedia)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Dibandingkan dengan batasan-batasan perang dalam ajaran Islam, betapa lebih kejinya perang modern, dan betapa seluruh ajaran kemanusiaan yang dikumandangkan Nabi, pada akhirnya tak bisa lain artinya kecuali imbauan ke arah usaha bersama untuk, pada tahap paling ideal, melenyapkan perang.


Sementara itu, lemahnya kepemimpinan Islam di mana-mana di dunia, di hadapan ketidakadilan  yang sangat mencolok dari negara-negara besar dan kuat sebangsa Amerika Serikat, menyebabkan meluasnya kecendrungan di kalangan muslimin untuk, secara sendiri-sendiri, memberi sebuah negara status kafir harbi  dan dengan segera menyusun aksi. Yang nomor satu di antara ‘’kafir layak diperangi (atau diteror)’’ itu tentu saja Israil, yang sendirinya jagoan teror, dan noMor dua Amerika Serikat —  sementara Inggris dan Austaralia sudah memamerkan keinginan mereka untuk di masukkan menjadi yang nomor tiga dan empat.

Berbeda dengan Usamah  bin Ladin, yang meresmikan pemilihannya mengenai  darui Islam dan darul harb itu dengan menggabungkan diri ke dalam imarah (pemerintahan) Islam Taliban, yang ‘’khalifah’’-nya,  Mullah Muhamad Umar, dipanggilnya dengan sebutan amirul mukminin, di Mesir, di Malaysa,Filipina,di mana-mana, juga Indonesia, muncul kelomok-kelompok swasta yang secara senditi-sendiri (atau dengan koordinasi  longgar antarnegara) menyatakan perang kepada Amerika, khususnya, dan melatih ketrampilan membuat bom.

Tidak seorang kiai pun, yang pernah membaca sekadar kitab-kitab setandar dan bukan cuma mendengar-dengar, yang akan membenarkan tindakan seperti yang dilakukan Amrozi, Imam Samudra, dan kawan-kawan, yang menjadi tersangka (sudah deksekusi,  red) pengeboman di Bali dan membunuh 200- an korban yang konon mereka sangkaorang Amerika (padahal mayoritasnya orang Australia) dan dengan bangga mengklaim berjuang untuk kemuliaan agama.

Bahkan  Abu Bakar Ba’asyir, ulama pengasuh pesantren Ngruki,Solo, yang namanya sampai-sampai disebut-sebut  Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew (mendiang) maupun John Howard,perdana menteri Australia, yang menuduhnya sebagai seseouh Jama’ah  Islamiyah (yang oleh Ba’asyir di nyatakan tak ada), dan dikatakan berdiri di belakang aneka terror (bahkan ‘’berusaha membunuh Presiden Megawati’’), mengatakan bahwa membantai’’orang-orang kafir  yang tidak turut berperang’’(turis-turis asing yang sedang bermaksiat di diskotek) sama sekali tidak dibenarkan agama.

Dan memang bila, dalam Q.2:190 di atas, perintah ‘’pergilah,di jalan Allah, mereka yang memerangi kamu’’ diberi catatan di situ dengan ‘’dan jangan melanggar batas’’, ditambah lagi ’’Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar batas’’ maka di antara arti klasik ’’melanggar batas’’adalah memerangi ‘’mereka yang tidak memerangi kamu’’, atau membunuh wanita, anak-anak, rahib-rahib, orang tua, atau membunuh orang ‘’yang mengulurkan salam kepada mu’’(Thabari, Jami’ul Bayan, 11:190). Juga membuat mutsalah, mayat yang dipotong-potong buat mainan (Al-Khazin, Lubabut Ta’wil,1:122).

Atau ‘’memotong pohon berbuah, merobohkan rumah, membunuh kambing dan unta, kecuali sekedar untuk di makan,membakar pohon kurma atau meneggelamkannya’’, berbuat khianat,atau menganiyaya (Muaththa’Malik,Bab Jihad,Thabaqat Ibn Sa’d).Juga ‘’menakut-nakuti biarawati’’ atau membunuh ‘’buruh, petani, atau tukang kebun’’(Qurthubi, Al-Jami’, 11:349). Itu semua dikumpulkan dari hadis-hadis Rasulillah s.a.w. dan prktik para sahabat r.a.  Sedangkan arti modern untuk ‘’ melanggar batas’’ adalah, misalnya, menggunakan bom kimia yang bisa merontokkan tubuh,seperti yang dipakai Saddam terhadap orang Kurdi, yang ditirunya dari (malahan konon juga diajari, setelah) ’’percobaan’’ senjata kimia agent orange AS pada perang Vietnam 1970-an.

Bila diingat banyaknya jatuh korban yang memilukan dari kalangan sipil, perempuan, anak-anak, dan bayi-bayi, dalam perang congkak AS Inggris-Australia di Irak yang remuk redam, dan dibandingkan dengan batasan-batasan perang yang dirinci di atas, tahulah kita betapa lebih kejinya perang modern, betapa jauh lebih suasananya tetap menjaga keadaban dalam perang sekarang ini, ketika produksi aneka senjata pembunuh canggih dari AS, Inggris dan lain-lainnya mendesak untuk dipasarkan, dan ’’dicobakan’’, dan betapa seluruh ajaran kemanusiaan yang dikumandangkan Nabi, seperti dalam contoh kecil di atas, pada akhirnya tak bisa lain artinya kecuali imbauan ke arah usaha bersama untuk, pada tahap paling ideal, melenyapkan perang.
   

Amrozi atau Imam Samudra  mana tahu hal itu. Tapi ada yang oleh Mochtar Pabottingi, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (bukunya, Islam antara Visi, Tradisi, dan Hegemoni Bukan Muslim),disebut sebagai ‘’sandiwara keagamaan’’: sesuatu yang merupakan hasil dari apa yang di lukiskan Edward Said, cendEkiawan Kristen Palestina, dalam Covering Islam, sebagai kebutuhan Barat untuk memotret Islam sebagai ‘’jelek, kacau, tak tertebak, tak bisa dipercaya, bengis, rendah, hina, tak dapat berdiri sendiri,’’dan seterusnya, dalam usaha mematahkan posisi tanding agama ini.

Harus dikatakan bahwa Amrozi, Samudra, bom malam Natal, pengrusakan gereja, semuanya mewakili gambaran  negatif tentang Islam yang dikehendaki Barat itu. Dan siapa yang mengatakan bahwa seorang teroris, yang di idealnya dalam sistem sel tertutup, akan selalu  tahu siapa sebenarnya yang memberinya komando dan dari mana sebetulnya datang dana, di tingkat paling belakang? Fenomena Umar Al-Faruq saja, ’’agen’’ yang mengaku mengenal Ba’asyir, dan berusaha menjerumuskannya, yang anehnya diambil FBI atau CIA ke Amerika  tanpa bisa dihadirkan di persidangan kita, memberikan kesadaran kuat bahwa masalahnya sebenarnya tak lepas dari sekenario juga. Dan bila benar begitu, adalah teragedi bahwa sebagian (mudah-mudahan tidak besar) pemuda kita begitu terperangkap dalam jahl murakkab (ke-bodohan bersusun): dalam hal agama dan dalam hal melihat dunia. (Bersambung)           

Penulis: Syu’bah Asa (Panjimas, Mei 2003)

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda