Mutiara

Sang Guru Utama Persatuan Islam

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Penulis Tafsir Al-Furqan dan ahli debat keagamaan ini tidak tamat sekolah dasar dan pernah bekerja sebaai tukang vulkanisir ban. Ia berkawan dekat dengan Bung Karno, meskipun tidak sehaluan.

Ahmad Hassan, atau yang biasa ditulis A. Hassan, adalah guru utama Persatuan Islam atau Persis yang didirikan tahun 1923 oleh Haji Zamzam d Bandung. Ulama yang subur melahirkan karya tulis ini, antara lain TafsirAl-Fuqan, adalah teman korespondensi Bung Karno ketika tokoh pergerakan nasional itu dibung ke Endeh, Flores. Mereka berkenalan di Bandung di sebuah percetakan milik orang Cina. A. Hassan sedang mengurus percetakan buku-bukunya, sedangkan Bung Karno mengurus cetakan koran Fikiran Rakjat. Ketika Soekarno mendekam di penjara Sukamiskin, Bandung, sebelum dibuang ke Endeh, A. Hassan sering membezoeknya. Meski antara kedua tokoh ini terdapat perbedaan pendapat yang sangat tajam dan saling berseberangan, mereka tetap menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan.

Hassan lahir di Singapura pada tahun 1887 dan meninggal di Bangil, Jawa Timur, 10 November 1958. Ayahnya, Ahmad, seorang pengarang dan wartawan beberapa surat kabar berbahasa Tamil. Ibunya, Muznah, berasal dari Palekat (Madras), tetapi kelahiran Surabaya. Ahmad dan Muznah menikah di Surabaya dan kemudian pindah ke Singapura. Ahmad Hassan menjadi seorang ulama, ahli fikih/usul fikih, tafsir, hadiƛ, mantiq, dan ilmu kalam. Ia juga dikenal sebagai seorang kritikus dan ahli debat di bidang keagamaan. Salah satu pendapatnya yang terkenal adalah bahwa wanita-gadis boleh menikah tanpa wali. Dalam buku Soal Jawab Berbagai Masalah Agama, Hassan mengungkapkan bahwa wanita gadis boleh menikah tanpa wali atau tidak wajib hukumnya perempuan gadis menikah dengan wali tetapi sunat.

Dalam usia tujuh tahun, ia belajar Alquran, dasar-dasar keagamaab, kemudian masuk sekolah Melayu, belajar bahasa-bahasa Arab, Melayu, Tamil, dan  Inggris. Hassan tidak tamat sekolah dasar. Di masa anak-anak, ia sudah bekerja. Namun, ia tetap belajar agama dan bahasa Arab secara privat.

Ketika remaja, Hassan pernah bekerja sebagai buruh toko kain, pedagang permata, minyak wangi, es, vulkanisir, dan mobil, menjadi guru bahasa Melayu, bahasa Arab, guru agama (Islam), dan menulis berbagai karangan dalam surat kabar dan majalah yang ada di Indonesia dan Singapura. Pada 1909, ia menjadi pembantu Oetoesan Melajoe.

Tahun 1921 ia pindah ke Surabaya. Awalnya ia mencoba berdagang, tetapi karena mengalami kerugian, ia memilih bekerja sebagai tukang vulkanisir ban mobil. Di Indonesia ia berkenalan dengan para pemimpin Sarekat Islam seperti H.O.S. Tjokroaminoto, A.M. Sangadji, Haji Agus  Salim, Bakri Suraatmaja, Wondoamiseno, dan lain-lain. Di samping menjalin pertemanan dengan tokoh di atas, ia juga belajar tenun di Kediri. Tahun 1925 ia pindah ke Bandung.

Selama berdomisili di Bandung, ia berkenalan dengan tokoh-tokoh saudagar Persatuan Islam, yaitu Asyari, Tamim Zamzam, dan sebagainya. Pada saat itu, ia mengajar di pengajian-pengajian Persatuan Islam. Lalu ia memilih untuk menetap di Bandung, menjadi guru Persis, dan bergabung di dalamnya sejak 1926. Hassan membawa Persis untuk menjadi gerakan pembaruan.

Murid-murid A. Hasan antara lain Mohammad Natsir, ketua umum Msyumi dan pernah menjabat Perdana Menteri, KH Isa Anshari, politisi Masyumi, KH E. Abdurrahman, dan KH Rusyad Nurdin.***

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda