Tafsir

Tentang Berbagai-bagai Perang (yang Bisa Berulang) Bagian 3

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Sebuah pernyataan jihad, dalam aturan fikih, haruslah dikeluarkan oleh kepala negara (imam) dan bukan perorangan. Bagaimana dengan  Usamah bin Ladin, misalnya, yang menyeru perang nelawan AMerika?

Adapun serangan langsung  ke ‘’negri musuh’’terjadi pada 2001. Bila benar Usamah bIn Ladin yang menggerakkan penghancuran World Trade  Center dan markas pentagon di Amerika Serikat pada 11 September itu (meski tidak parnah di dapat bukti,juga pengakuan,mengenai hal tersebut), berarti ia sudah lebih dulu, di zaman akhir ini, memberikan status kepada Amerika Serikat  sebagai negri layak diperangi.

Tapi itu sebenarnya keputusan yang sangat kontoroversial: sebuah pernyataan jihad, dalam aturan fikih, haruslah dikeluarkan oleh kepala negara (imam) dan bukan perorangan. Hanya, bagaimana bila, bagi Usamah, imam ataupun pemerintahan tempat ia menjadi warga, yakni Kerajaan Arab Saudi, sudah ‘’kehilangan baiat’’ setelah mengizinkan pihak kafir, dalam hal ini Amerika Serikat, meng-gerijakin negEri itu dengan mendirikan pangkalan milliliter di wilayahnya yang darul islam (yang di dalamnya terdapat tanah suci Makah dan Madinah pula) ketika harus menghadapi Irak yang sudah bercokol di Kuwait, sementara Usamah, menurut penutarannya, mengusulkan jalan lain menghadapi keruweten itu?

Bagi Saudi, tentu saja, ‘’setan apa pun’’ – ibaratnya — akan dimintainya tolong untuk menjaga kampung halaman dari kemungkinan serangan Saddam yang sudah lebih dahulu membuka peperangan besar dengan Iran (1980) sebelum mencaplok negara kecil tetangganya itu. Saddam-lah, memang, yang menjadi biang perkara. Dengan serbuannya ke Iran ia telah menarik negrri itu ke posisi yang, bersama-sama Irak, menjadi tokoh-tokoh ayat ‘’Dan bila dua kelompok di antara  para mukmin berbunuh-bunuhan, buatlah perdamaian di antara keduanya’’ (Q.49:9)..

Dengan kata lain, itu pertengkaran dua golongan mukmin.Tapi tidak bagi Iran: yang mereka tanamkan di dalam neegri ialah bahwa ‘’Al-Jumhuriyatul Islamiyah fi Iran (Republik Islam di Iran), bentuk pelahiran mutakhir model pemerintahan Imam Ali di bumi”, mendapat serangan penumpasan dari kekuatan kafir murtad yang tidak menghendaki kelahiranya (memang,tidak sedikit suara yang mengatakan Amerika berdiri di belakang Saddam,atau mereka saling memanfaatkan, untuk menganyangmusuh besar yang baru muncul, Ayatollah Khomeini),dan memperlakukan rakyatnya yang gugur dalam perang sebagai syuhada.

Tidak ada wasit antara Irak dan Iran, yang dalam ayat di atas diberi seruan’’buatlah perdamaian di antara keduanya’’.Barulah dalam kasus invasi Irak ke Kuwait muncul ‘’penegah’’ yang selaluh bersemangat itu: Amertika Serikat, yang demi melindungi  kepentingannya di Teluk bergerak untuk mengapat restu PBB (dan sukses)dan, apa boleh buat,’’melaksanakan perintah’’ dalam bagian ayat lebih lanjut:’’jika salah satu dari keduanya (yang berperang ) melewati batas terhadap yang lain, perangilah yang melewati batas itusampai ia tunduk kepada perintah Allah.’’

Singkat kata, Amerik Serikat  menghalau Irak dari Kuwait dan berhenti di perbatasan, sementara mimpi Presiden Bush Senior untuk masuk ke negeri itu dan ‘’menghukum’’ Saddam baru terlaksana lebih sepuluh tahun kemudian di tangan putranya, itu si George Walker, sebagai aggressor dan bukan pemegang mandad PBB. (Bersambung)           

Penulis: Syu’bah Asa (Panjimas, Mei 2003)

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda