Hamka

Tausiyah Buya Hamka: Jiwa Bebas dengan Tauhid (5)

Written by Panji Masyarakat

Orang yang berusaha keras mengerjakan kebajikan di dunia ini, mengabdikan diri kepada Allah dengan tulus dan ikhlas, bebas dari segala kemusyrikan, pasti akan bertemu dengan Allah di dalam surga. Oleh sebab itu sekali-kali jangan takut menghadapi maut. Mengapa?

Pelajaran tentang ke-Esaan Tuhan itu dipatrikan dengan nilai hidup dan nilai mati. Diberi peringatan bahwasanya hidup ini hanya sebentar. Di belakang hidup ini ada lagi satu hidup, yaitu di akhirat. Di sana nanti akan diperhitungkan segala amal usaha selama hidup di dunia atas perlindungan Allah, dan kita akan kembali menemui Allah.

Orang yang berusaha keras mengerjakan kebajikan di dunia ini, mengabdikan diri kepada Allah dengan tulus dan ikhlas, bebas dari segala kemusyrikan, pasti akan bertemu dengan Allah di dalam surga. Oleh sebab itu sekali-kali jangan takut menghadapi maut,  sebab maut ialah akan menemui Allah.

Dan lebih positif dari ini, selalu bersedia mati untuk mempertahankan keyakinan kepada Allah. Mati di dalam mempertahakan keyakinan Tauhid kepada Allah adalah mati yang mulia, bernama mati dalam kesaksian, syahadah!

Contoh gemilang terlalu banyak diberikan Nabi tentang Tauhid ini.

Terkenal dalam catatan tarikh bahwa pada suatu hari karena terlalu lelah dalam perjalanan pada suatu peperangan, beliau berhenti di bawah naungan satu pohon kayu yang rindang. Pedangnya di sangkutkannya pada dahan kayu itu, lalu beliau berbaring dan tertidur. Tiba-tiba datanglah seorang musuh, bernama Da’tsur. Lalu diambilnya pedang Rasulullah Saw yang sedang tersangkut itu dan di sentaknya. Setelah Rasul bangun diacungkannya pedang beliau itu kepada beliau sambil berkata dengan gagah:

“Siapa yang dapat membelamu kalau engkau kutusuk dengan pedang ini, ya Muhammad?” Setelah melihat musuh dengan pedangnya sendiri hendak membunuhnya, sekali-kali tidaklah beliau hilang akal, bahkan beliau jawab degan satu kalimat saja, kalimat yang penuh tashdiq di hati dan iqrar di lidah, dan ingat bahwa hidup ataupun mati adalah di tangan Allah. Beliau jawab:  “Allah!”

Kalimat Allah itu telah menggetar laksana getaran listrik, meggema dan gemanya itu sahut-bersahut di gunung-gunung batu sekeliling. Ucapan dari seorang yang hidupnya benar-benar telah di leburkan untuk Allah. Getaran listrik dari ucapan itu telah mengontak sekujur tubuh Da’tsur, sehingga dia menjadi lemah dan lunglai dan pedang itu terlepas dari tangannya.

Lalu pedang itu dipungut oleh Nabi, dan diacungkannya pula pada Da’tsur dan beliau pun bertanya pula; “Siapa yang membelamu jika engkau aku bunuh?”

Lama Da’tsur termenung, lalu akhirnya menjawab; “Tidak satu pun yang dapat membelaku.” Lalu beliau s.a.w. berkata lagi: “Sekarang engkau aku maafkan dan bebaskan. Engkau boleh pergi.” Pergilah Da’tsur dengan serba kekecilan dan kecil jiwanya, sebab dia tidak mempunyai akidah demikian. Dan akidah adalah latihan.

Dalam setengah riwayat dikatakan bahwa akhirnya Da’tsur itu masuk islam. Inilah intisari dan pokok dari ajaran itu,  

Siapa yang mengatakan bahwa ajaran ini bukan ajaran revolusioner? Sejak dunia berkembang sampai hari kiamat. Bukan berlaku di zaman Nabi saja. Tetapi akan berlaku selama Alquran masih menjadi pedoman dari kehidupan muslim.***  
Penulis: Hamka (Sumber: Dari Hati Ke Hati, 2002).

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka