Tasawuf

Zikir Bagaikan Mantera

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Tonggak-tonggak perjalanan keagamaan saya, khususnya di masa kecil, amat berbeda dengan anak-anak keluarga muslim dewasa ini, termasuk kedua orang anak saya sendiri. Anak-anak keluarga muslim zaman sekarang mempelajari Islam langsung dengan belajar Al Quran dan huruf Arab. Mereka mengikuti Taman Pendidikan Al Qu’ran (TPA) bahkan memanggil guru mengaji khusus ke rumah. Ada diantara mereka yang mengandalkan hafalan dan kemudian lebih mengenal budaya Arab dibanding budaya bangsanya sendiri. Tidak bisa membedakan antara budaya dan agama.

Akan halnya saya, tidak demikian. Saya tidak mengenal TPA. Tidak memiliki guru ngaji. Pelajaran formal tentang agama saya diperoleh hanya sekitar dua jam dalam seminggu sejak Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Atas, itupun digabung dalam pelajaran “Agama dan Budi Pekerti”.

Saya masih ingat betul, kedua orangtua saya marah karena pernah suatu saat nilai saya untuk pelajaran tersebut merah (warna merah untuk menandai nilai 5 ke bawah). Pasalnya karena saya mendebat pak guru yang menyatakan Islam mengijinkan poligami, sedangkan saya menyatakan pada dasarnya tidak, berdasarkan surat An Nissa ayat 129 yang menyatakan “Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara perempuan-perempuan (isteri-isterimu) walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…”. Pak guru pun marah besar dan kemudian mengatakan saya tidak punya sopan santun karena berani membantah guru.

Di rumah, kedua orangtua juga marah begitu melihat angka merah untuk pelajaran “Agama dan Budi Pekerti”, sebab mata pelajaran tersebut dianggap yang paling penting diantara semua mata pelajaran yang ada. Orang yang budi pekertinya jelek, kata ibu, pada hakikatnya adalah sampah masyarakat. Dia hanya akan bikin onar, bikin kotor, bikin rusak kehidupan dalam berkeluarga, dan selanjutnya juga dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sementara itu tentang agama ibu berkata, apa gunanya ibu mengajarkan mantera atau doa harian: “Cis Alif tekenku Muhammad payungku Allah”, kalau kamu tidak memahami makna dan hakikatnya? Dan bagaimana kamu dapat memahami makna dan hakikatnya kalau nilai pelajaran agamamu jeblok?

Kalau pelajaran “Agama dan Budi Pekerti” hanya menyita waktu saya dua jam dalam seminggu, lalu bagaimana kedua orangtua saya mengajarkan kehidupan beragama khususnya Islam? Dalam judul-judul tulisan saya sebelumnya, sesungguhnya hal itu sudah saya jelaskan, terutama dalam judul “Tuhan di Mata Orang Jawa” dan “Orang Jawa Berlatih Mengasah Kalbu”. Namun di bagian ini saya ingin melengkapi.

Kedua orangtua saya mengajarkan kehidupan beragama dengan keteladanan dan interaksi dari waktu ke waktu dalam kehidupan sehari-hari. Lantaran ayah saya pendiam sedangkan ibu pandai bercerita, saya kemudian menjadi “anak ibu”, karena saya dan ibu menjadi selalu sangat dekat.

Kisah keluarga Kanjeng Nabi Muhammad dan para sahabat dituturkan seperti dalam seri dongeng seni pertunjukan ketoprak (teater tradisional) yang pada masa itu dikenal dengan lakon “Wong Agung Menak”.

Mengenai hal-hal gaib dan Gusti Allah Yang Maha Gaib, dibangun dalam suatu dialog tentang kegelapan malam dengan aneka suara binatang malam yang saya dengar tetapi tidak saya lihat wujudnya. Itulah salah satu pencerminan dari kegaiban Gusti Allah, yang tidak bisa saya lihat, tidak bisa saya tembus dengan mata, tapi harus saya akui keberadaan beserta kekuasaan-Nya. Untuk itu ibu memperkuat dengan memberikan mantera-mantera, yang tidak lain adalah zikir dan atau penyerahan diri secara total kepada Gusti Allah. Mantera untuk memohon pertolongan dari Gusti Allah Sang Maha Raja di Raja Yang Maha Kuasa atas segala hal misalkan, dilakukan dengan berkonsentrasi penuh dan melafalkan zikir asmaul husna “Ya Maliku”. Ibu memberi contoh, dan saya percaya serta takjub, beberapa kali dengan zikir tersebut ternyata bisa memohon untuk antara lain menolak dan menunda hujan yang mulai turun.

Wallahu ‘alam(Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda