Hamka

Tausiyah Buya Hamka: Jiwa Bebas dengan Tauhid (4)

Written by Panji Masyarakat

Manusia tidak boleh menguasai jiwaku, sebab manusia itu berasal dari mani seperti aku juga. Asal dari tanah, hidup di atas tanah dan akan kembali ke dalam tanah. Apa konsekwensi dari ajaran ini?

Matahari yang begitu besar di langit, tidak bercahaya kalau Tuhan tidak mengizinkan. Bumi ini pun tidak akan beredar, kalau Tuhan menghalangi jalannya. Segala isi langit dan isi bumi tunduk belaka pada Allah. Oleh sebab itu  adalah hak setiap insan buat berubungan langsung dengan Allah itu; tdak usah ada perantara, tidak usah ada “pokrol bambu” yang akan menolong, dan tidak usah ada sekutu-sekutu apa pun di dalam segala macam bentuk. Dan adalah hak bagi setiap insan buat menolak dan menentang, bahkan kalau perlu perang terhadap segala percobaan yang hendak merampas kemerdekaan dirinya berhubungan langsung dengn Allah itu.

Manusia tidak boleh menguasai jiwaku, sebab manusia itu berasal dari mani seperti aku juga. Asal dari tanah, hidup di atas tanah dan akan kembali ke dalam tanah; walau badannya dililit emas, tongkat bersalutkan emas, dada dihiasi berbagai bintang emas, namun emas itu pun tanah juga!

Walaupun dibuat patung yang seram, matanya melotot keluar, gigi dan taring menjulur keluar, sehingga kelihatan seram; aku tidak takut! Karena yang mengukir patung itu adalah tangan manusia juga. Kalau aku sulut dia dengan api, dia akan terbakar hangus, kembali jadi abu dan tanah. Nonsen! Semuanya itu, tiap insan hanya menuju Yang Esa; habis!

Apa akibat dari ajaran ini? 360 berhala di sekeliling Ka’bah yang selama ini dipuja dan diasapi dengan kemenyan, dibawakan hadiah berbagai macam, mulai saat ajaran (tauhid, ed) itu keluar, berhala-berhala itu telah bertukar menjadi batu mati. Bahkan menghambat penglihatan, menjemukan dan membosankan, satu waktu wajib diruntuhkan, dan runtuhannya itu boleh dikeping-keping (dipotong-potong) lalu diambil jadi dasar pembangunan rumah, atau jadi alas jembatan.   

Dan manusia-manusia yang dituhankan, diagungkan dan dipuja-puja, disanjung, sehingga dia pun telah merasa bahwa dia memang dewa, dengan sendirinya telah jatuh pamornya.

Ini pernah terjadi ketika Sa’d ibn Abi Waqash mengutus Mughirah ibn Syu’bah mengetuai delegasi menemui Rustum, raja Persia, yang duduk sebagai dewa atau tuhan, di atas singgasananya, dikelilingi orang-orang besaryang menghabakan diridan kemahnya dihampari permadani yang mahal-mahal dan setiap amiratau gubernur duduk di sekeliling raja dengan penuh khidmat. Mughirah ibn Syu’bah masuk ke dalam tetap di atas kudanya. Kemudian dipautkannya kudanya itu di tiang-tiang  kemah kebesaran kemegahan Rustum.

Ini pernah terjadi, ketika Al-Ghazal dari kerajaan Bani Umayyah di Andalusia menjadi duta besar untuk kerajaan Byzantium 9sebelum Konstatinopel jatuh ke tangan Islam). Kaisar Byzantium sudah tahu bahwa duta besar negeri Islam ini tidak akan ruku’ (membungkuk) atau sujud, ataupun berjalan merunduk memberikan hormat yang sedalam-dalamnya kepada Kisar, sebagaimana teradat dari duta besar dari negeri lain. Oleh sebab itu Kisar memerintahkan supaya duta besar itu dibawa masuk menghadap ke muka tahta kedudukan Baginda dari sebuah pintu kecil yang rendah, sehingga kalau duta besar itu masuk ke dalam melalui pintu, dia terpaksa membungkukan kepalanya.

Artinya, mau tidak mau dia mesti menunduk kepada Kisar. Tetapi, duta besar yang cerdik itu tahu siasat yang sangat menyinggung akidahnya ini. Sebab itu, ketika dia masuk ke pntu rendah itu, dia berjalan di atas lutut dengan kepla terangkat, sampai terlepas dari pintu itu dan berdiri dengan tegak dan gagahnya di hadapan Kaisar. (Bersambung).          

Penulis: Hamka (Sumber: Dari Hati Ke Hati, 2002).

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda