Bintang Zaman

Perjalanan Spiritual Ronggowarsito (Bagian 1)

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Semasa mondok, Bagus Burhan dikenal sebagai santri badung sehingga diusir dari pesantren. Mengapa Kiai Kasan Besari menyuruhnya kembali?  

Sastra Jawa Baru, khususnya pada abad ke-18 dan ke-19 di Surakarta, telah mengalami “renaisans”. Masa itu banyak karya sastra diciptakan, terutama oleh pujangga terkemuka. Salah satunya adalah Raden Ngabehi Ronggowarsito. Siapakah Ronggowrsito?

Konon, sekitar pukul 12 siang, Senin Legi 10 Dulkaidah tahun Be 1728, wuku Sungsang, Dewi Sri, Wurukung, Huwas, musim Jita, atau 16 Maret 1802 M., di Surakarta terlahir sosok bayi mungil yang kemudian diberi nama Bagus Burhan. Ia  putra sulung pasangan R.M. Ranggawarsito II atau M. Ng. Pjangswara, abdi dalem panewu carik kadipaten anom, dan Mas Ajeng Ranggawarsita, putri R. Ng. Suradirja Gantang. Anak yang ketika melewati masa kecilnya  berada di bawah asuhan Ki Tanujaya inilah yang kelak masyhur sebagai Pujangga Ronggowarsito.

Santri Nyeleneh

Dua belas tahun kemudian, atau tepatnya pada 1740 Jawa atau 1813 Masehi, Bagus Burhan diantar M. Ng. Ranggawarsita II, M. Ng. Adiwijaya dan Ki Tanujaya berguru kepada Kiai Imam Hasan (Kasan menurut lafal Jawa) Besari di Pesantren Tegalsari. Kiai Hasan Besari adalah menantu Sinuhun Paku Buwono IV dan saudara seperguruan R.T. Sastranegara atau R. Ng. Yasadipura II. (Baca: Mutaiara, “Legenda yang Melahirkan Legenda).

Di Pesantren Tegalsari, mula-mula Bagus Burhan terkenal sebagai santri “nyeleneh”. Selain tampak bodoh, kelakuannya juga kurang baik. Ia bukannya rajin mengaji melainkan berfoya-foya menghamburkan uang dengan mengadu ayam, berjudi, serta perbuatan buruk lainnya. Nasihat Kiai Kasan Besari selalu dia abaikan. Akhirnya Kiai Kasan marah, dan Bagus Burhan beserta Ki Tanujaya diusir dari pondok. Keduanya lalu menuju Desa Mara, tempat tinggal Ki Kasanngali, saudara sepupu Ki Tanujaya.

Kepada saudaranya itu Ki Tanujaya mengatakan bahwa ia akan membawa Bagus Burhan ke Kediri, karena di daerah itu juga banyak pesantren hebat. Untuk itu Ki Tanujaya akan menghadap Adipati Cakraningrat di Kediri yang masih termasuk putra angkat Panembahan Buminata. Ki Kasanngali menyarankan agar Tanujaya dan Bagus Burhan menunggu saja Adipati Cakraningrat di Madiun. Karena bulan depan adalah bulan Rejep (Rajab), dan di bulan itu Adipati Cakraningrat biasanya singgah di Madiun dalam perjalanannya ke Surakarta menghadap Raja. Bagus Burhan dan Ki Tanujaya lalu berangkat ke Madiun. Di sana mereka berjualan kelontong kecil-kecilan di pasar. Di sana pula ia berjumpa Raden Ajeng Gombak, putri Bupati Cakraningrat Kediri, yang kelak menjadi istrinya.

Nyantri Kembali ke Tegalsari

Sepeninggal bagus burhan dan Ki Tanujaya, konon Kiai Kasan Besari mendapat wangsit  bahwa di daerahnya akan tertimpa paceklik dan pageblug. Akan dilanda kekeringan, susah sandang susah pangan, banyak hama tanaman dan rusaklah kehidupan orang banyak. Paceklik dan pageblug itu akan cepat berakhir bila Bagus Burhan kembali ke Tegalsari. Itulah sebabnya Kiai Kasan Besari memerintahkan abdinya, Kramaleya, mencari Bagus Burhan agar kembali ke Tegalsari.

Dalam pada itu,  R.T. Sastranegara, yang juga diberitahu utusan Kia Kasan Besari bahwa Bagus Burhan telah meninggalkan pesantren, segera menugaskan Ki Jasana, seorang abdi panongsong, untuk mncari pula Bagus Burhan ke Madiun. Di Madiun Kramaleya dan Ki Jasana bertemu, dan bersepakat mencari Bagus Burhan bersama-sama – yang berhasil mereka temukan dan mereka bawa kembali ke Tegalsari.

Namun demikian, sekembalinya di Pesantren  Tegalsari, Bagus Burhan belum bisa mengubah perilaku buruknya, sehingga Ki Tanujaya mendapat marah dari Kiai Kasan Besari. Sang pengasuh itu kemudia menasihati Bagus Burhan: sebagai keturunan kesatria  hendaknya ia menjalankan laku prihatin alias tirakat. Karena itu setiap malam, ditemani Ki Tanujaya, Bagus Burhan pergi ke kedung sungai. Di sana ia melintangkan bambu di atas permukaan kedung itu dan duduk di situ. Bila mengantuk, tentu saja ia jatuh ke air, dan segera berenang untuk kembali ke tempat semula. Sampai akhirnya Bagus Burhan dapat tertidur sambil duduk di ata bambu. Ini dia jalankan selama 40malam, sambil setiap hari ia hanya menyantap sebiji pisang.

Konon, pada hari yang terakhir, Bagus Burhan merasa didatangi eyang buyutnya, yaitu R. Ng. Yasadipura I (Tus Pajang) yang kemudian masuk ke dalam telinganya. Sedangan Ki Tanujaya mengalami, antara sadar dan tidak, mendengar suara gemuruh membelah bumi, kemudian muncul cahaya seperti bulan (dan itulah yang dikenal orang Jawa sebagai wahyu) yang masuk ke dalam kendil tempat menanak nasi. Cahaya tersebut berubah menjadi ikan yang besar dan dalam keadan sudah dimasak. Ki Tanujaya menyarakan Bagus Burhan menyantap habis ikan yang datang tersaji secara ajaib itu.

Sejak saat itu, begitulah kisah selanjutnya, perangai Bagus Burhan berubah total. Ia menjadi santri yang rajin, dan pandai tentu. Dalam membaca Alquran suaranya terdengar merdu dengan cengkok gaya Buminatan. Kiai Kasan Besari pun bukan main heran atas perbahan yang drastis itu. Ia pun berkenan menurunkan seluruh ilmunya kepada Bagus Burhan, yang menjadi murid terpandai dan terpercaya di Pesantren Tegalsari. Sebab itu Kiai Kasan Besari memberinya gelar Mas Ilham. Dan menjadikannya badal alias cadangan atawa pengganti dirinya.

Bagus Burhan menjadi terkenal seantero Ponorogo karena khutbah-khutbahnya yang bernas, dan memiliki suara emas.  Banyak orang menyatakan ia titisan Syekh Amongraga (tokoh utama dalam Serat Centini) yang sangat terkenal. Baiklah. Setelah tamat berguru kepada Kiai Kasan Besari, Bagus Burhan dan Ki Tanujaya kembali ke Surakarta. (Bersambung)

Penulis: Anung Tedjowirawan (Sumber: Panjimas, Oktober 2003)

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda