Hamka

Tausiyah Buya Hamka: Jiwa Bebas dengan Tauhid (3)

Written by Panji Masyarakat

Manusia bukanlah budak dari segala macam apa pun di bumi.  Mengapa segala puji diperuntukkan hanya kepada Allah?

Setelah itu diajarkan lagi “Alhamdulllah”, segala puji hanya untuk Allah saja. Sebab tidak ada suatu pun yang patut dipuji, baik dilangit ataupun di bumi.

Jika engkau merasa berutang budi kepada matahari  karena dia memancarkan sinar, sehinggaengkau dapat hidup dan dapat pula mencari penghidupan, janganlah kepada matahari itu engkau mengucapkan puji, sebab yang menjadkannya hanyalah Allah jua.

Dia tidak akan terbit atau bumi tidak akan mengelilingi dia, dan dia pun tidak akan sempat memancarkan sinarnya kalau tidak karena takdir Alah Ta’ala.

Kalau engkau bertemu di dalam dunia ini seorang raja atau peguasa yang adil, atau  seorang kaya raya yang dermawan, atau seorang guru yang budiman, janganlah kepada mereka engkau himpunkan puji, tetapi pujilah Allah yang memberikan ilham keadilan, kedermawanan dan budi, kepada raja/penguasa, orang kaya dan guru itu. Kalau mereka yang engkau puji sanjung, maka puji kerap kali menyebabkan manusia lupa dan sombong.

Ada ucapan dzikir lagi “La haula wala quwwata illa billah”, tidak ada daya dan tidak ada kekuatan , kecuali pada Allah. Kita ini tidak punya daya sama sekali sebab kita ini lemah. Kita pun tidak mempunyai kekuatan, sebab daya upaya dan kekuatan hanya ada pada Allah. Kalau Dia menganugerahkan percikan kecil dari daya-Nya dan kekuasaan-Nya kepada kita, seluruh kekuatan dalam ini Dia punya. Semua. Tak ada kecuali. Kalau manusia dapat daya upaya dan kekuatan, itu hanya semata-mata karunia pemberian dari Dia.

Adapun insan ini sekali-kali tidaklah budak atau hamba sahaya dari segala macam apa pun yang ada di muka bumi ini. Segala yang ujud  (ada) ini alam belaka, sama alamnya dengan daku. Dan dari langit pun tidak ada yang dapat mebguasai diriku atau tempat aku menyembah, walaupun malaikat atau pun dea, kalau memang dewa itu ada.    (Bersambung).          

Penulis: Hamka (Sumber: Dari Hati Ke Hati, 2002).

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda