Cakrawala

Makna Intrinsik dan Instrumental Salat (Bagian 8)

Written by Panji Masyarakat

Selain menanamkan kesadaran akan makna tujuan akhir hidup, salat  mendidik kita untuk mewujudkan sebuah ide atau cita-cita yang ideal dan luhur. Yakni terbentuknya masyarakat yang penuh kedamaian,  keadilan, dan perkenaan Tuhan, melalui usaha pemerataan sumber daya kehidupan untuk seluruh warga masyarakat.

Para ulama membagi riya atau pamrih menjadi dua. Pertama, pamrih kemunafikan, yaitu jika perbuatan ditujukan untuk dapat dilihat orang lain guna mendapatkan pujian, penghargaan atau persetujuan mereka.. Kedua, pamrih adat kebiasaan, yaitu perbuatan dengan mengikuti ketentuan-ketentuannya namun tanpa memperhatikan makna perbuatan itu dan hikmah serta faedahnya, dan tanpa perhatian kepada siapa (Tuhan) yang  sebenarnya ditujunya dengan perbuatan itu guna mendekat kepaa-Nya. Inilah yang paling banyak dikerjakan orangsekarang. Sungguh amat disayangkan.

Demikian penjelasan yang diberikan seorang ahli agama, As-Sawwaf, tentang makna instrumental salat. Dalam kitab suci juga dapat kita temukan ilustrasi yang tajam tentang keterkaitan antara salat dan perilaku kemanusiaan:

Setiap pribadi tergadai oleh apa yang telah dikerjakannya

Kecuali golongan yang beruntung (kanan)

Mereka dalam surga, dan bertanya-tanya,

Tentang nasib orang-orang yang berdosa:

“Apa yang membawa kamu ke neraka?”

Sahut mereka, “Dahulu kami tidak termasuk orang yang salat”

Dan tidak pula kami pernah memberi makanan orang melarat.

Lagi pula kami dahulu terlena bersama mereka yang terlena,

Dan kami dustakan adanya hari pembalasan , sampai datang kepada kami keyakinan (maut).

Maka, secara tegas yang membuat orang-orang itu masuk neraka ialah tabiat mereka yang tidak pernah salat—yang menanamkan dalam diri mereka kesadaran akan makna hidup ini, dan yang mendidik mereka untuk menginsafi tanggung jawab mereka. Maka mereka pun tidak pernah menunaikan tanggung jawab sosial itu. Sebaliknya mereka menempuh hidup egois, tidak pernah mengucapkan salam dan menghayati maknanya, juga tidak pernah menengok ke kana ke kiri. Mereka pun lupa, malah tidak percaya, akan datangnya saat mereka harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan mereka pada hari pembalasan (akhirat).

Jika kita kemukakan dalam bahasa kontemporer, salat selain menanmkan kesadaran akan makna tujuan akhir hidup juga mendidik kita untuk mewujudkan sebuah ide atau cita-cita yang ideal dan luhur, yaitu terbentuknya masyarakat yang penuh kedamaian,  keadilan, dan perkenaan Tuhan, melalui usaha pemerataan sumber daya kehidupan untuk seluruh warga masyarakat. Jika kita paham ini, kita pun paham mengapa banyak terdapat penegasan tentang pentingnya salat, sekaligus kita juga paham mengapa kutukan Tuhan begitu keras kepada orang-orang yang melakukan salat hanya sebagai ritus yang kosong, yang tidak menghasilkan keinsafan yang mendalam dan komitmen sosial yang meluas.

Penulis: Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Sumber: Panjimas, Oktober 2003)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda