Tasawuf

Pusaka Tauhid Dalam Cerita Wayang Dan Tipe Ideal Pemimpin

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Inilah hikmah dan hakikat cerita wayang tentang kepemimpinan ideal Puntadewa dan Petruk Jadi Ratu.

Dakwah dengan media kesenian termasuk tembang atau nyanyian dipelopori oleh Wali Sembilan di Abad XV. Melalui aneka seni pertunjukan antara lain wayang, para wali mengajarkan kepada masyarakat Jawa yang memeluk Hindu – Budha, sebuah pemahaman baru mengenai Gusti Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad. Mengajarkan mengenai derajat kedudukan manusia di mata Tuhan, yang tidak dibeda-bedakan oleh kasta dan pesona dunia, tetapi oleh sikap, perilaku, ketaatan dan ibadahnya kepada Tuhan.

Salah seorang wali yaitu Sunan Kalijaga (abad ke 15 dan 16), dengan 46 bait tembang yang diberi nama Kidung Kawedar, mengajarkan kekuatan, hikmah dan fadilah ketauhidan, ayat Kursi, surat Al-IkhlashAl-Falaq dan An-Naas. Para wali tidak langsung menyuruh orang untuk salat, tapi secara bertahap mendongeng, mengajarkan sejarah Islam, Kanjeng Nabi Muhammad, para sahabat dan keluarganya, baru kemudian syahadat, salat dan rukun iman serta rukun Islam lainnya.

Kedahsyatan dari tauhid dengan dua kalimat syahadatnya dijabarkan dalam cerita wayang Perang Bharatayudha. Perang antara Ksatria Pandawa yang berjuang menegakkan kebenaran melawan kebatilan dan keangkaramurkaan keluarga Kurawa, akhirnya dapat dimenangkan oleh Pandawa setelah ditandai Prabu Puntadewa dengan Pusaka Jamus Kalimasada atau Kalimat Syahadat mengalahkan Panglima Perang Kurawa yaitu Prabu Salya yang sakti mandraguna karena memiliki ajian Candrabirawa, yang berupa kekuatan dahsyat jin setan peri perayangan.

Adapun Prabu Puntadewa, digambarkan sebagai seorang raja yang tidak mau mengenakan mahkota, bahkan pakaian kebesaran raja lainnya. Rambutnya digelung sederhana. Mukanya senantiasa menunduk. Perilakunya lemah lembut bagaikan orang yang tiada daya, sehingga dianggap tidak mampu berperang, tidak bisa berkelahi. Ia tidak pernah marah, hatinya suci bersih sehingga digambarkan darahnya tidak berwarna merah melainkan putih. Namun tatkala pasukannya terdesak dan tiada satu pun perwira perangnya yang mampu menandingi Panglima Perang musuh, Puntadewa maju ke medan laga, turun dari kereta perang berjalan kaki menyerbu lawan dengan menenteng busur panah serta keyakinan mutlak terhadap kekuatan syahadat. Akibatnya, para jin setan peri perayangan, meledak hancur berkeping-keping dan kemudian lenyap satu persatu. Sementara anak panahnya melesat bagaikan kilat menembus jantung Prabu Salya, lawan tandingnya.

Puntadewa adalah ciri seorang pemimpin satria pinandita, seorang satria atau umara yang berjiwa pendeta atau ulama. Ia rendah hati, tawadu, ikhlas, tidak riya dan tidak ujub. Tidak sombong, tidak suka pamer dan tidak suka dipuji. Hidup dan tampil amat sederhana, bagaikan rakyat jelata, sangat jujur dan adil serta mengabdi untuk kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang seperti itulah yang oleh Sunan Kalijaga, digambarkan sebagai pemimpin yang selalu diridhoi, diberkahi dan dirahmati Gusti Allah. Pemimpin yang menghayati hakikat tasawuf. Pemimpin yang seperti inilah yang dapat melindungi, menyejahterakan dan memakmurkan rakyatnya. Pemimpin yang bisa membuat negeri dan rakyatnya disegani serta dihormati oleh para raja dan rakyat negeri-negeri tetangga.

Namun demikian tiada umat Tuhan yang sempurna. Demikian pula Puntadewa dan saudara-saudaranya para Pandawa. Suatu saat mereka lalai akan darma, akan kewajiban dan tanggungjawabnya sebagai Pemimpin, bahkan mengabaikan Pusaka Jamus Kalimasada. Atas kelalaiannya tersebut, Sang Hyang Wenang, Allah Yang Maha Kuasa, menegor dan menghukumnya sehingga pusaka Jamus Kalimasa yang terabaikan dicuri Dewi Mustakaweni dari para Pandawa, sampai akhirnya jatuh ke tangan seorang abdi dalem atau pelayan Pandawa yaitu Petruk.

Al kisah dengan Pusaka Kalimat Syahadat, Petruk menjadi sakti mandraguna, kemudian merebut tahta kerajaan dari tangan Pandawa. Petruk yang digambarkan tinggi kurus dengan hidung sangat panjang seperti boneka Pinokio, memerintah kerajaan Amarta dengan semaunya sendiri, serta menjadikan Pandawa dan para ksatria sebagai pekerja kasar. Petruk yang memang tidak memiliki kapasitas sebagai Raja, memerintah tanpa mau mengindahkan aturan dan tatacara pemerintahan, apalagi aturan protokoler yang justru dianggap mengekangnya. Dalam berpakaian, beskap atau jasnya tidak sesuai ukuran dengan kancing yang miring, tidurnya di kandang kambing dan makannya juga tetap makanan rakyat jelata dengan tidak lupa menu petai dan jengkolnya.

Kekuasaan yang berada di tangan Petruk yang sakti tapi tidak mengerti tata pemerintahan, membuat situasi  menjadi amburadul. Hal itu menggugah kesadaran rakyat banyak, dalam hal ini saudara-saudara Petruk sendiri yakni Semar ayahnya, serta saudaranya yaitu Gareng dan Bagong. Juga mengundang negarawan senior Prabu Kresna, untuk bersama-sama turun tangan merebut kembali kekuasan dari tangan Petruk serta menyadarkan semuanya, baik Petruk maupun para ksatria Pandawa akan amanah tugas, tanggungjawab dan kewajiban masing-masing, terutama tugas para ksatria dalam menjalankan Pemerintahan demi menjaga keamanan dan menyejahterakan rakyatnya, dengan senantiasa taat pada Gusti Allah sebagaimana spirit gaib dari Jamus Kalimasada.

Semoga kita senantiasa dianugerahi Pemimpin-Pemimpin yang seperti itu, dan dijauhkan dari Pemimpin-Pemimpin yang memiliki sifat, tabiat serta perilaku sebaliknya.

Amin. (Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda