Tasawuf

Berdakwah Dengan Bernyanyi Dan Mendongeng

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

De yayi sorahing Hadis,

sing sapa bendu wong ika,

mring wong alim sawijine

aprasasat bendu marang

Jeng Nabi Rasulullah,

sing sapa bendu mring Rasul,

sasat bendu maring Allah.

Sing sapa bendu ing Widdhi,

nggone pesti neng neraka,

sing sapa ngujung maring,

wong alim sawiji,

prasasat ngujung Jeng Rasulullah,

sing sapa ngujung mring Rasul

sasat ngujung maring Allah.

Dua bait di atas adalah bait atau ayat ke 70 dan 71 dari Serat Centhini Surat 362, yang menguraikan sikap dan akhlak pergaulan seorang muslim terhadap sesama muslim, terutama terhadap ulama, Kanjeng Nabi dan Gusti Allah. Ajaran tersebut sesuai dengan  kitab Ihya ‘Ulumiddin karya ulama dan pujangga besar Al-Ghazali, yang menjadi salah satu bacaan wajib di pesantren-pesantren tradisional di pulau Jawa.

Serat Centini adalah judul sebuah kitab “ensiklopedi Jawa” yang disusun oleh tim yang diprakarsai serta dipimpin sendiri oleh Raja Kasunanan Surakarta, yaitu Paku Buwono V, dan selesai ditulis pada tahun 1823.

Centini konon berasal dari kata Cantik yang kemudian diubah lafalnya menjadi Centini agar terasa lebih indah dan enak di telinga. Centini bisa juga disebut sebuah kitab dakwah tentang syariat, tarekat, hakikat dan makrifat yang merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisah satu sama lain, yang disusun dalam bentuk novel roman percintaan antara seorang da’i muda dengan isterinya, yang dikemas dalam bentuk berbagai tembang nan indah, lembut, merdu mendayu-dayu.

Sang Da’i yaitu Syeh Amongraga, mengajarkan pokok-pokok peribadatan dan akhlak mulia terlebih dahulu sebelum menggauli isterinya, agar hubungan suami isterinya diridhoi, diberkahi dan dirahmati Gusti Allah. Agar hubungan suami-isterinya dapat dijalaninya sebagai ibadah.

Terjemahan bebas kedua bait tembang tersebut adalah sebagai berikut:

Begitulah dinda petunjuk Hadis,

barang siapa membenci seorang alim

maka sama dengan membenci Kanjeng Nabi (Muhammad Saw)

dan barang siapa membenci Rasulullah

sama juga dengan membenci Gusti Allah.

Barang siapa membenci Gusti Allah

tempatnya di neraka

barang siapa menghormati seorang alim

maka sama dengan memuliakan Kanjeng Rasul

dan siapa yang memuliakan Rasulullah

maka sama dengan memuliakan Gusti Allah

Begitu indah dan halus perangai serta budi pekerti orang-orang zaman dulu. Pelajaran tentang akhlak pergaulan, tentang nilai penghormatan terhadap orang serta dzat yang dimuliakan, ditanamkan melalui nyanyian-nyanyian merdu yang lembut menembus kalbu. Bukan semata-mata dengan pidato atau ceramah yang bernada menggurui, apalagi secara paksa. Semoga kita, generasi-generasi sekarang dan di masa mendatang, bisa mengambil hikmah yang positif dari pengalaman-pengalaman masa lalu tersebut.

Meskipun demikian kisah Syeh Amongraga yang mengajarkan penyatuan antara sang hamba dengan Tuhan sebagaimana ajaran Al-Hallaj ini menjadi ironis. Karena ajaran tersebut dianggap menyimpang dari ajaran syariat, maka  ia pun harus dihukum mati oleh Sultan Agung dengan ditenggelamkan ke lautan. Seperti halnya Syeh Siti Jenar yang sampai sekarang tidak jelas, apakah ia dan kisahnya benar-benar ada ataukah hanya karangan sebagai simbolisasi Al-Hallaj, demikian pula kisah Syeh Amoraga dalam Serat Centini tersebut.

Wallahualam. 

(Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”)

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda