Tasawuf

Mengungkapkan Firman Allah Dalam Bahasa Rakyat

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Para ulama yang dimotori oleh Wali Songo itu sungguh-sungguh menguasai ilmu komunikasi massa serta berbagai ilmu sosial pendukung lainnya seperti psikologi, sosiologi, ilmu pendidikan, ilmu bahasa dan kebudayaan target sasaran dakwahnya. Mereka kaya perbendaharaan kata-kata dan mampu mengungkapkan firman-firman Tuhan, juga syahadat dan shalawat,  dalam bahasa rakyat secara indah, sehingga menembus hati, serta menggugah perasaan target sasaran dakwahnya. Mereka pandai melukiskan berbagai sifat mulia Allah, mendendangkan dan menceritakan kepada masyarakat secara menawan. Allah dan Islam digambarkan sebagai sesuatu yang penuh pancaran kasih sayang nan mengagumkan. Welas asih, pengampun, dan memiliki kasih sayang yang tak terhingga. Yang Maha Suci dan Maha Kuasa. Yang Maha Tahu dan patut menjadi dambaan setiap insan. Yang tidak pernah tidur lagi Maha Adil.

Pemahaman mengenai Allah yang tidak pernah tidur, menjadi ungkapan “Gusti Ora Sare”, Gusti Allah Tidak Tidur, adalah ungkapan yang luas maknanya, yang disamping memberikan sugesti kesabaran dan ketawakalan, juga sekaligus keadilan, kasih sayang serta kemahakuasaan.

Dalam berdakwah mereka menghindari kata-kata kotor, ancaman dan gambaran-gambaran yang menyeramkan. Tidak ada nuansa pedang dan darah. Tidak ada gambaran siksa kubur dan api neraka seperti sinetron-sinetron televisi pada dasa warsa pertama abad ke-21. Juga tidak ada gambaran tentang jin setan yang menyeramkan, meskipun masyarakat sangat mempercayai keberadaannya. Sebab para wali sudah memberi sugesti dengan mantera-mantera penolak, antara lain ayat Kursi, surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas, yang dikemas dalam tembang-tembang wirid atau kidung, seperti  Kidung Kawedar dan Suluk Singgah-Singgah.

Yang lebih penting lagi, di samping menggunakan media kebudayaan secara baik dan tepat guna, kepribadian para ulama juga sangat mendukung. Mereka memahami bahwa orang Jawa khususnya para priyayi diatur serta menjunjung tinggi ajaran budi pekerti dan tata susila. Oleh sebab itu baik dalam berdakwah maupun kesehariannya, para ulama masa itu mengokohkan dirinya sebagai tokoh teladan, sebagai panutan. Ajaran budi pekerti dan tata susila Jawa diterima dan dijalankan dengan diberi ruh Islam, dengan landasan sifat-sifat mulia Tuhan serta hadis-hadis Baginda Rasul. Masya Allah.

Dengan berbekal itu semua,  para kyai yang arief nan bijak bestari, teguh berdakwah menembus belantara Jawa, yakin akan kebenaran sebuah hadis, keluar dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan taat sehingga bisa sugih tanpa banda, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake : kaya tanpa harta, menyerbu tanpa menggunakan bala tentara serta menang tanpa membuat lawan merasa dikalahkan dan tersakiti hatinya. Mereka tidak merendahkan apalagi mencela agama dan kepercayaan lama masyarakat, juga tidak mengkafirkan siapa yang belum serta tidak mau menerima Islam menjadi agamanya.

Dihitung sejak Islam masuk ke kerajaan Majapahit abad ke-14, jejak langkah dakwah model Kyai Jawa tadi, bahkan dalam hal tradisi dan seni misalkan seni ukir, nampak masih jelas membekas. Namun di bidang metodologi dan keteladanan sekarang ini, rasanya sungguh sangat memprihatinkan. Pada hemat saya sebagai orang awam dan abangan ini, telah terjadi erosi keteladanan dan kemunduran besar dalam berdakwah. Bersyukur, kemajuan teknologi informasi yang luar biasa, membuka peluang bagi para pencari Tuhan untuk dengan cara dan kemauannya sendiri menemukan jalannya.

Berita-berita media massa yang menunjukkan keberingasan dan kekerasan, sinetron-sinetron televisi yang bernuansa kehebatan bangsa jin, cambuk api dan bara neraka serta aneka perilaku yang tak pantas  disandingkan dengan perilaku dan keteladanan para Wali, lebih-lebih perilaku serta keteladanan Kanjeng Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya, seyogyanyalah membuat kita berani melakukan mawasdiri dan koreksi, khususnya dalam berperilaku, berdakwah serta dalam memberikan tuntunan kehidupan kepada masyarakat.

Alhamdulillah, kegalauan sahaya tersebut belakangan ini sedikit terobati dengan merasakan kesejukan yang bagaikan tetesan-tetesan embun dari kyai sepuh yang telah berusia di atas 90 tahun (lahir tahun 1926), Kyai Ali Yafie, yang dengan lantang tanpa jemu menyerukan agar para pemimpin dan ulama memegang teguh azas bersih – sederhana – mengabdi. Azas ini menurut Pak Kyai harus diamalkan dan dipraktekkan dalam pola hidup dan perilaku. Untuk itu segala macam aktivitas yang kita lakukan haruslah dimulai dengan kebersihan jiwa, kebersihan hati dan niat, dikembangkan dalam pola kehidupan serta perilaku kesederhanaan, dengan sasaran pengabdian selaku hamba, selaku pengemban amanah Gusti Allah Yang Maha Agung di muka bumi.

Semoga azas bersih – sederhana – mengabdi ini dapat menjadi kunci pembuka kabut penguasa kegelapan yang meliputi kita dewasa ini.

Bismillahirrahmannirrahiim

Demi masa

Sesungguhnya manusia itu di dalam kerugian

Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh

dan saling nasihat-menasihati untuk mengikuti kebenaran

dan saling nasihat-menasihati untuk menjalankan kesabaran (Al-Ashr). 

(Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda