Hamka

Tausiyah Buya Hamka: Jiwa Bebas dengan Tauhid (1)

Written by Panji Masyarakat

Selama beabad-abad Indonesia diliputi berbagai kepercayaan peninggalan nenek moyang, yang penuh dengan takhayul, dan berbagai kepercayaan yang tak masuk akal. Seorang raja diagung-agungkan dan dipercaya sebagai titisan dewa, dibuatkan patungnya untuk disembah. Kepercayaan seperti itu merata di seluruh dunia sampai datangnya agama Islam.

Ajaran nabi Muhammad s.a.w. yang pertama ialah mengajarkn bahwa Tuhan itu hanya yang satu itu saja, yang telah kamu akui adanya, yaitu Allah. Allah itu bukan benda, sedangkan segala yang kamu puja sembah itu benda belaka. Tempat kamu menyembah hanya Allah dan tempat kamu memohonkan pertolongan hanya Dia, kamu tidak boleh mempersekutukan yang lain dengan Dia, sebab yag lain itu tidak akanada, kalau tidak Dia yang mengadakan.

Semua orang telah tahu bahwa Allah memang ada, tetapi hanya sekadar tahu itu saja. Tidak ada tujuan pasti antara manusia dengan Tuhan; masih samar sehingga penyembahan berhala yang timbul.  Maka Nabi menjelaskan siapa sebenarnya Allah itu, bagaimana sifat-sifat-Nya. Nabi mengajarkan buat melihat Allah, lihatlah alam di sekelilingmu; pelajari alam itu dengan segala upaya yang ada padamu. Lihat langit, matahari, bulan, bintang;  lihat awan yang berarak; lihat lautan yang luas dengan kapal-kapal yang berlayar di dalamnya. Bahkan perhatikan angin dengan hembusannya, dengan topan halim-bubunya, ataupun angin sepoi berhembus sejuk; atau angin yang membawa hujan, baik hujan penyubur bumi atau hujan pembawa bala-bencana banjir. Lihatlah kayu-kayuan, binatang ternak, bahkan lihat dan perhatikan lebah membuat sarang dan menghasilkan madu yang manis. Setelah engkau perhatikan pergantian siang dan malam, dan kejadian matahari dan bulan, janganlah matahari dan bulan i itu disembah, melainkan sembahlah yang menjadikan semua itu.

Alam kamu lihat pada perbilangan dan berbagai warnanya, tetapi penglihatan kepada yang berbilang akan menyampaikan engkau selalu kepada Yang Satu.

Kelahiran yang bermacam-macam, hakikat asal hanya Esa. Dalam dirimu sendiri selalu cenderung kepada segala kesempurnaan, keindahan, kemuliaan, kasih sayang, cinta, dan santun. Dalam dirimu sendiri akan terasa adanya kekuasaan Yang Maha Besar itu, Pendukung, Pemelihara, Pendidik, dan Pengasuh. Itu semuanya benar ada, walaupun zat-Nya tidak engkau lihat. Itu semuanya hanyalah sifat dari Dia: Al-Maliku (Maharaja), AlQuddus (Mahasuci), As-Salam (Sentosa). Al-Mu’min (Yang Memelihara Keamanan), Al-Muhaimin (Yang Mengasuh-Membelai), Al-‘Aziz (Mahaperkasa), Al-Jabbar (Gagah), Al-mutakkabir (Yang Berhak Membanggakan Diri), dan lain-lain sampai 99 sifat.

Oleh sebab itu, janganlah jiwamu terpesona oleh nikmat yang diberikan, melainkan langsunglah kepada yang memberikan nikmat. Jangan jiwamu itu didindingi (dihalangi) oleh alam, melainkanlangsunglah kepada yang menipta alam. (Bersambung).          

Penulis: Hamka (Sumber: Dari Hati Ke Hati, 2002).

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda