Cakrawala

Mazhab Pelupa

Sungguh pahit untuk mengenang, betapa ‘lupa’ secara sadar telah diintegrasikan sebagai bagian penting kesadaran modern. Bahkan, sampai batas tertentu, ‘lupa’ tampaknya begitu diandalkan untuk menjaga kelangsungan peradaban ini.

Kecepatan perubahan tema dan topik informasi, tampaknya sangat membantu kita untuk cekatan memelihara ‘lupa’. Jelas, orang tak mungkin mengakses semua informasi di balik satu peristiwa. Alih-alih peristiwa yang jauh dari jangkauan, bahkan peristiwa yang dekat dengannya pun, belum tentu orang bisa mengaksesnya secara penuh.

Bahkan nyaris bisa dikatakan bahwa tak seorangpun di dunia ini yang bisa secara persis dan presisi mengetahui seluruh sisi dari satu peristiwa, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Masalah jarak, sudut dan cara pandang menyebabkan suatu fakta akan melahirkan beragam rekonstruksi sekaligus versi pembacaan.

Selama ini, orang hanya mengandalkan versi-versi yang disediakan media massa (baik mainstream maupun media sosial). Versi-versi yang disana-sini potensial mengalami distorsi, editing dan sejak awal tak pernah bebas dari unsur tafsir. Tafsir yang bisa muncul dari mana saja, termasuk dari narasumbernya.

Akibatnya, memori kita pada akhirnya cuma akan menyimpan gambar-gambar kabur dengan paket-paket penafsiran yang secara instan sudah disiapkan untuknya.

Berjalannya waktu sekaligus potensial mengubur pertanyaan-pertanyaan kritis yang mungkin sempat melintas. Sehingga akhirnya -mau tak mau- kita terpaksa harus puas dengan sekedar merasa tahu sesuatu yang pada dasarnya kita tidak pernah benar-benar tahu.

Dan, seperti tumpukan peristiwa lainnya, kebenaran faktual tiap peristiwa pada akhirnya kita biarkan hidup di kerajaan lupa.

Di sisi lain, kita pun terlanjur tersugesti untuk selalu membayangkan, bahwa pilihannya cuma ‘lupa’ atau membuka kotak pandora. Padahal, yang terakhir -yang mengandaikan terurainya fakta-fakta dan terungkapnya motif-motif- dianggap potensial meneror konstruksi kesadaran kita. Sesuatu yang tak siap kita tanggung sakitnya, karena dengan telanjang membongkar ketololan-ketololan yang selama ini kita rawat.

Tak heran, bila akhirnya banyak pengetahuan yang konstruksinya kita susun dari lupa ke lupa. Pengetahuan menjadi muara kerajaan lupa kita. Kerajaan yang begitu berkuasa mengarahkan ke mana mata harus memandang dan kaki harus melangkah.

Lupa memang membuat kita potensial -lebih dari keledai- berulang-ulang terperosok di lubang yang sama; dan justru karena itu -langsung tak tak langsung- ia diintegrasikan dalam konstruksi kesadaran peradaban ini.

Lupa selalu dengan mudah menilep fakta dan peristiwa -meski dengan milyaran luka yang masih menganga dan coreng moreng gambar penanganannya- dan membuatnya ketlingsut dalam kesadaran kita, yang terlanjur di-setting hanya untuk terpana oleh aktualitas dan sensasi sesaat saja.

Masalahnya, bisakah lupa mengubur kenangan orang yang secara langsung telah dan akan selalu bermuka-muka dengan kesemrawutan birokrasi, ketidak-adilan hukum, kekerasan aparat, ketidak-ramahan kebijakan atau dengan segala macam kebusukan yang selama ini kita biarkan tersembunyi rapat-rapat di bawah permukaan? Bisakah lupa menghapus ini semua, lebih-lebih bagi mereka yang merasa telah menjadi korbannya?

Bisakah lupa mencoret sakit mereka yang terus termiskinkan, cuma karena versi-versi sejarahnya dikaburkan? Bisakah lupa menghilangkan derita korban penggusuran, cuma karena sebab utamanya selalu dicoba sembunyikan? Bisakah lupa menghapus sakit rakyat yang terus merasa terpinggirkan oleh wacana perebutan kuasa di segenap lini dan sektor?

Lupa menjadi begitu berkuasa karena kita memang telah mengagamakannya. Para pemimpin, birokrat dan sebagian kelas menengah mengagamakannya karena bisa menangguk untung dari sana.

Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda