Tasawuf

Dakwah Tanpa Gambaran Api Neraka

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Dengan Suluk Kidung Kawedar, Sunan Kalijaga mengajak masyarakat Jawa yang senang dengan mantera-mantera gaib, melantunkan tembang-tembang indah yang diberi sugesti kekuatan gaib melalui penyerahan diri kepada Gusti Allah Yang Maha Kuasa. Diberi sugesti dari fadilah, keutamaan, hikmah dan manfaat surat Al-Fatihah, ayat Kursi, surat Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas.

Kidung Kawedar mewedarkan, menguraikan, menjelaskan tentang ajaran Islam. Tentang Nabi-nabi, tentang Kanjeng Nabi Muhammad, para sahabat dan Fatimah anaknya. Tentang manfaat dan keutamaan bagi siapa yang memeluk agama Islam. Tentang beberapa surat dalam Al-Quran. Tiada ancaman, tiada momok yang menakutkan, tiada cambuk api di tangan kiri dan bara neraka di tangan kanan dalam mereka berdakwah. Selain Kidung Kawedar yang meditatif-kontemplatif, diciptakan pula berbagai tembang lainnya, ada yang juga meditatif-kontemplatif, ada yang berupa tembang dolanan yaitu tembang untuk mengiringi permainan anak-anak agar bermain gembira ria, namun penuh sugesti untuk menyongsong kemuliaan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.

Memang sempat pula para wali dan pengikutnya berperang mengangkat senjata menyerbu kerajaan Majapahit. Tetapi hal itu bukan karena perang agama, melainkan masalah perebutan kekuasaan diantara sesama keturunan Raja Majapahit (Masa Akhir Majapahit, Hasan Djafar, penerbit Komuniatas Bambu 2009 halaman  46). Di kancah perang saudara itulah kemudian Raden Fatah yang didukung para wali berhasil memenangkan peperangan pada tahun 1478M. Selanjutnya pusat kekuasaan dipindahkan ke Demak, dan Majapahit diturunkan statusnya menjadi sebuah kerajaan kecil yang dipimpin oleh ipar Raden Fatah yaitu Girindrawardhana, dan berkedudukan di Kediri.

Pada tahun 1527, Majapahit kembali diserang bahkan dihancurkan oleh Demak, karena diketahui menjalin hubungan rahasia dengan Portugis, padahal sementara itu Demak sedang berperang mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Di bagian depan sudah penulis kemukakan, mengutip Tome Pires, Prof.Dr.Slamet Mulyana dalam Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit halaman 342 dan 346 menyatakan, Kerajaan Kediri yang oleh sejumlah ahli sejarah merupakan kelanjutan dari Majapahit itu, bahkan beberapa kali menyerang Jepara, Demak dan Kudus. Hubungan Kediri dengan Portugis juga dikisahkan oleh Tome Pires pada halaman 282.

Sementara itu mengenai kehidupan beragama di masa akhir Majapahit sebagaimana digambarkan oleh Ma Huan di bagian depan, berlangsung cukup baik. Gambaran tersebut diperkuat dengan temuan-temuan arkeologi berupa tempat pemakaman Islam kuno, yang letaknya tidak jauh dari tempat yang oleh masyarakat luas diduga merupakan kompleks bekas Kedaton Majapahit. Menurut arkeolog Hasan Djafar (Masa Akhir Majapahit halaman 78),  pemakaman di desa Tralaya, Trawulan, Mojokerto, memiliki angka tahun yang terpahat pada batu-batu nisan, menunjuk kepada tahun-tahun antara 1203 dan 1533 Saka atau antara 1281 dan 1611 Masehi. Sebuah di antaranya berangka tahun 874 Hijriah atau 1469 Masehi. Dari temuan-temuan tersebut dapat disimpulkan,  agama Islam telah dianut oleh penduduk Majapahit pada zaman pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Kompleks makam tersebut menunjukkan pula bahwa keluarga-keluarga raja telah ada yang beragama Islam.

Seperti tokoh sufi dari Bagdad di akhir abad ke-9, Al-Junayd, para Kyai Jawa juga menggabungkan ilmu tasawuf dengan keyakinan ahlusunah. Dengan metode dakwah yang luwes, dan transformatif seperti itu, para Wali telah sukses mengislamkan pulau Jawa. Tentu tidak semuanya berlangsung mulus. Ada onak dan duri. Ada gunung terjal yang harus didaki. Ada lembah dan jurang yang harus diseberangi. Ada aliran mistis Kejawen yang mengarus kuat dan bergabung dengan faham “wahdatul wujudhulul dan ittihad”.

Wahdatul wujud yang diajarkan oleh Ibnu Arabi meyakini Allah adalah satu-satunya wujud yang nyata, dan alam semesta hanya bayang-bayang-Nya. Semua yang ada di alam semesta merupakan aspek lahir dari satu hakikat yang tunggal yaitu Tuhan. Pada hematnya, Allah adalah cermin bagi manusia bisa merenung, sementara manusia adalah cermin bagi Allah untuk merenungkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Maka sebagaimana yang kuranglebih  sama dengan yang digambarkan dalam Serat Wirid Hidayat Jati, “Melalui Diri-Nya Dia melihat Diri-Nya. Tidak seorang pun melihat-Nya kecuali Dia, tidak ada nabi yang diutus, tidak ada wali yang menyempurnakan, atau malaikat yang mendekatkan untuk mengenal-Nya. Nabi-Nya adalah Dia, dan yang diutusnya adalah Dia, kata-katanya adalah Dia. Ia mengutus Diri-Nya dengan Diri-Nya untuk diri-Nya.” (Schimmel dalam The Mystical Dimension of Islam, dalam Mark R.Woodward, Islam Jawa, LKiS,1999).

Sementara itu hulul yang diajarkan oleh “penghulu gerakan sufi di Baghdad”, Mansur al-Hallaj, awal abad ke-10, juga meyakini peleburan antara Tuhan dan manusia. Dalam hulul, Tuhan turun dan melebur ke diri manusia. Sedangkan dalam ittihad yang diajarkan  oleh Abu Yazid al-Bustami, manusialah yang naik dan melebur dalam diri Tuhan. Ketiga aliran ini masuk ke Jawa dan bercampuraduk, menjadi ajaran Islam Kejawen yang mengajarkan paham kesatuan manusia dengan Tuhan, atau manunggaling kawulo – Gusti, dan apabila sudah berhasil menyatu maka sang kawulo bisa mengaku sebagai Tuhan. 

Di Jawa, faham tersebut pada masa Kesultanan Demak disebarkan oleh Syeh Siti Jenar dan didukung oleh Ki Ageng Pengging atau Kebo Kenanga, pangeran darah biru trah Majapahit. Pada masa Kesultanan Pajang disebarkan oleh Ki Babeluk dan pada masa Sultan Agung dikisahkan dalam Serat Centini, disebarkan oleh Syeh Amongraga (Simuh dalam Mistik Islam Kejawen, UI-Press, 1988).  Ketiga aliran tasawuf tersebut segara memperoleh simpati besar dari penganut mistis kejawen pra Islam, dan dianggap menggangu metode dakwah Wali Songo, yang sedang membangun masjid Demak, dan secara pelan-pelan serta halus baru mulai mengajarkan syariat Islam.

Seperti Al-Hallaj, akhirnya Syeh Siti Jenar dan Kebo Kenanga juga dihukum mati oleh Sultan Demak Raden Fatah dan para wali. Namun di kemudian hari putera Kebo Kenanga, Jaka Tingkir yang pada saat itu baru lahir, berhasil mempersunting puteri Sultan Demak Pangeran Trenggono, dan selanjutnya menduduki tahta menggantikan mertuanya. Menurut legenda, Syeh Siti Jenar dan Kebo Kenanga membunuh dirinya sendiri dengan cara meditasi menutup jalan nafas.

Di tangan Jaka Tingkir yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya, pusat kerajaan dipindah ke pedalaman di Pajang, Surakarta. Perpindahan ini membawa dampak besar. Pertama, kejayaan sebagai negara maritim hancur dan berganti dengan negara agraris. Kedua, aliran mistis kejawen memperoleh pengaruh yang lebih besar di pusat kerajaan. Walaupun  demikian syiar Islam para wali tidak terhenti, terutama di daerah-daerah pesisir, di Jawa Barat, Jawa Timur dan Indonesia Timur. Bahkan dari pusat Kerajaan Mataram (Yogya dan Solo), kemudian lahir karya-karya sastra tulis dengan ruh keislaman yang cukup indah, namun juga sarat dengan ajaran-ajaran mistis.

Bagaimana dan mengapa para ulama, para kyai, para wali berhasil mengislamkan Pulau Jawa? Tentu banyak jawabannya. Dari segi politik pemerintahan misalnya, agama Islam mulai berkembang dibawa oleh para pedagang Persi, Gujarat, Malabar, Campa dan Cina di ibukota Kerajaan Majapahit, tatkala masa kejayaan Majapahit mulai menurun akibat konflik – konflik internal para bangsawannya.

Namun saya tidaklah hendak menulis mengenai hal itu. Sebagai santri abangan yang menjadi wartawan dan praktisi komunikasi massa, saya lebih tertarik mengkaji cara berdakwah para kyai sebagaimana saya uraikan di depan. 

(Seri Tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda