Tasawuf

Simbol Tarekat Dalam Arsitektur Masjid Jawa

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Dalam membangun masjid, para ulama mengembangkan pola arsitektur Jawa yaitu atap limasan, namun dibuat tiga tingkat dan di atasnya dipasang mahkota utama yang disebut mustaka atau kepala. Limasan tiga tingkat dimaksudkan sebagai simbol syariat, tarekat dan hakikat. Sedangkan mustaka adalah  makrifat. Keempatnya harus menjadi satu dan tidak boleh dipisah-pisah.

Yang juga unik, masjid ini diberi pagar dan di tengah-tengahnya dibangun pintu gerbang yang disebut gapura, yang kemudian juga diberi makna baru yang berasal dari kata ghafur , yang memberi ampun sekaligus juga bermakna pertobatan, permohonan ampun.

Di bangunan tambahan di samping mesjid, para wali meletakkan gamelan yang bernada khas pula, dibunyikan beberapa hari menjelang peringatan kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad. Masyarakat yang tertarik mendengar bunyi gamelan tersebut diwajibkan masuk melalui gapura. Di sini masyarakat mulai dibimbing untuk beristighfar. Bimbingan berikutnya adalah harus melalui kolam untuk berwudu, baru sesudah itu diajak melihat dari dekat gamelan yang bunyinya unik tapi enak didengar. Mereka diperkenalkan dengan dua kalimat syahadat. Selanjutnya diajak masuk ke dalam masjid sambil mencicipi beberapa hidangan antara lain telur asin yang dalam bahasa Jawa disebut kamal. Dimaksudkan agar apa yang sudah didengar dan diketahui segera diamalkan.

Di dalam masjid, bahkan di mihrab ditunjukkan gambar bulus. Islam masuk secara halus. Tiada paksaan dalam memeluk Islam. Pulangnya mereka diberi oleh-oleh berupa cambuk yang bermakna mereka harus bergegas mencambuk diri, lari menyongsong seruan suci.

Seluruh prosesi itu sekarang dikenal sebagai acara Sekatenan, dari asal kata “Syahadaten” pengucapan dua Kalimat Syahadat, yang setiap tahun diselenggarakan di Keraton Yogyakarta dan Surakarta, sementara di Keraton Cirebon diberi nama “Panjang Jimat”.

Dengan interpretasi dan transformasi ruh Islam ke dalam bahasa dan budaya Jawa yang halus, lembut, dan penuh nuansa, maka ajaran Islam mampu berbicara pada hati orang-orang Jawa, dan dengan segera merebut hati mereka.

Akan halnya arsitektur masjid  Mark R.Woodward dalam Islam Jawa, Kesalehan Normatif Versus Kebatinan, menulis  masjid di Jawa dan Lombok memiliki kesamaan arsitektur dengan masjid di Kerala dan Mappila di India Barat Daya, yaitu lebih banyak terbuat dari kayu dibanding batu atau bata, serta memiliki atap yang bersusun tiga.

Subhaanallaah. 

(Seri tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”)

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka