Mutiara

Tokoh Kontroversial dalam Sejarah Islam

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Revolusi memakan anaknya sendiri: kisah Abu Muslim Al-Khurasani, panglima perang Abbasiyah yang ditakuti dan dicintairakyat.  

Ketika mulai melancarkan revolusi untuk menggulingkan kekuasaan Dinasti  Umaiyah, Bani Abbasiyah punya jagoan lapangan bernama Abu Muslim Al-Khurasani. Ibrahim Al-Imam, salah seorang pemimpin Abbasiyah, telah memberi perintah kepadanya untuk membunuh semua orang yang dia ragukan. Berbekal instruksi Al-Imam, menurut Ibnu Atsir,  Abu Muslim menghabisi 600.000 orang tanpa perang, dalam 3-9 tahun.

Angka yang disodorkan Ibnu  Atsir itu memang tergolong fantastis, dan tentu kita  boleh kritis terhadap angka tersebut. Katakanlah, jika pembunuhan itu dilakukan dalam waktu enam tahun. Maka, itu berarti 100.000 orang dibunuh dalam setahun. Itu sama dengan katakan saja 8.333 orang sebulan, atau sebutlah 277 orang sehari. Jika itu dilakukan dalam perang, orang masih menganggapnya lumrah. Tapi bagaimana jika itu dilakukan tanpa  perang, tanpa perlawanan seperti dsinyalir Ibnu Atsir?

Al-Atsir sendiri dikenal dengan terkadang keterusan alias lebay, termasuk mengenai  tokoh yang sebenarnya kontroversial ini.

Namun demkian, tidak  bisa disangkal banyaknya pembunuhan itu menimbulkan rasa muak di kalangan rakyat.  Tak heran bila kemudian muncul kemarahan di kalangan pendukung Bani Abbas sendiri. “Bukan untuk ini kami memihak Keluarga Muhammad: menumpahkan darah, dan bertindak di luar kebenaran!” Seruan-seruan itu berhasil menghimpun 30.000 orang. Tak jelas, adakah hubungan jumlah ini dengan yang konon 600.000 tadi . Yang jelas, Abu Muslim mengirimkan  bala tentara untuk mengabisi mereka.

Abu Muslim memang luar biasa dan sekligus kontroversial. Tak diketahui pasti kota kelahirannya. Semula ia dikenal  seorang pemimpin gerakan agama yang sangat muda, yang mencampurkan ke dalam Islam beberapa kepercayaan lokal, termasuk reinkarnasi.  Dengan kharisma luar biasa dan kecintaan rakyat (di sinilah kontroversinya) ia mampu menggabungkan 60 desa menjadi pengikutnya hanya dalam sehari. Ia mengalahkan tentara Cina di dekat Sungai Thiraz, 133 H (571 M). Ia juga penguasa yang baik untuk wilayah luas Khurasan. Ia mendirikan masjid di Merv dan Samarkand, termasuk benteng besar sekeliling Samarkand.

Melihat pengaruh dan kekuasaannya yang besar itu, tak urung membuat Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur cemas. Ia pun  mengundangnya ke Kufah. Abu Muslim masuk penuh kehormatan. Menyerahkan senjata, menurut aturan. Lalu pembicaraan dengan Khalifah berkembang,  dari basa-basi menjadi serius, dari serius ke kritik, dan dari sini cercaan dan kemudian makian.

Di puncak pertengkaran, Al-Manshur bertepuk. Maka berlompatlah pria-pria bersenjata dari balik tirai-tirai, langsung menhunjami tubuh si panglima. Abu Muslim rubuh. Khalifah lalu memerintahkan menggulung mayatnya dengan karpet. Kemudian menyuruh panggil orang-orang khususnya. Mereka dimintai pendapat, bagaimana kalau Abu Muslim dibunuh. Ada yang menjawab: “Kalau Anda sudah mencabut sehelai rambutnya, lebih baik Anda bunuh dia lalu Anda bunuh dia (sebab ia akan sangat berbahaya;).”

Manshur menunjuk gulungan karpet. Ketika mereka tahu sang pahlawan sudah pergi ke alam baka,  mereka berkata: “Anggaplah hari ini sebagai hari pertama pemerintahan Anda.”

Peristiwa itu terjadi di bulan Sya’ban 137, Januari atau Febuari 755

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda