Cakrawala

Makna Intrinsik dan Instrumental Salat (Bagian 5)

Written by Panji Masyarakat

Dari salat, yang harus kita kerjakan setiap saat sepanjang hayat itu, kita diajar untuk tidak berhenti mencari kebenaran, dan tidak kalah oleh situasi yang kebetulan tidak mendukung.

Sebagai kewajiban pada hampir setiap saat, salat juga mengisyaratkan bahwa usaha menemukan jalan hidup yang benar juga harus dilakukan setiap saat, dan harus dipandang sebagai proses tanpa henti. Karena itu memang digunakan metafor ‘jalan’, seperti juga dalam nomenklatur Islam, yaitu shirat, thariqah, sabil, minhaj, dalam pengertian ‘jalan’ itu dengan sendirinya terkait erat dengan gerak dan dinamika. Maka dalam sistem ajaran agama, manusia didorong untuk selalu bergerak secara dinamis sedemikian rupa sehinga seseorang tidak diterima untuk  menjadikan keadaannya tertindas di suatu negeri padahal sebenarnya dapat pergi, pindah, atau bergerak meninggalkan negeri atau tempat itu ke tempat lain di bumi Tuhan yang luas ini (Q. 4:97).

Dengan kata lain, dari salat, yang harus kita kerjakan setiap saat sepanjang hayat itu, kita diajar untuk tidak berhenti mencari kebenaran, dan tidak kalah oleh situasi yang kebetulan tidak mendukung. Sekali kita berhenti, karena merasa telah ‘sampai’ pada suatu kebenaran, itu mengandung makna suatu kesombongan, dan akan menyangkut suatu kontradiksi dalam terminologi, yaitu adanya kita yang nisbi dapat mencapai kebenaran final yang mutlak. Dan hal itu, pada urutanya sendiri, akan berarti salah satu dari dua kemungkinan: apakah kita yang menjadi mutlak, sehingga “bertemu” dengan yang final itu, ataukah yang final itu telah menjadi nisbi, sehingga terjangkau oleh kita.

Mana pun dari dua kemungkinan itu, jelas menyalahi jiwa faham Tauhid yang mengajarkan tentang Tuhan, Kebenaran Final (Al-Haqq), sebagai Wujud yang “tidak sebanding dengan  suatu apa pun juga, dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Yang Maha Melihat” (Q. 42: 11). Jadi, Tuhan tidak analog dengan suatu apa pun. Karena Tuhan juga tidak mungkin terjangkau akal manusia yang nisbi. Ini dilukiskan dalam Kitab Suci: “Itulah Allah, Tuhanmu sekalian, tiada tuhan selain Dia, pencipta segala. Pandangan tidak menangkap-Nya, dan Dia menangkap semua pandangan. Dia Mahalembut, dan Mahateliti.” (Q. 6:102).

Begitulah, kurang lebih, sebagian dari makna surah Al-Fatihah, yang sebagai bacaan dalam salat dengan sendirinya menjiwai makna salat itu. Adalah untuk doa kita yang kita panjatkan dengan harap-harap cemas agar ditunjukkan ke jalan yang lurus itu maka pada akhir surah Al-Fatihah kita ucapkan dengan  syahdu lafal ‘amin’, yang artinya “semoga Allah mengabulkan permohonan ini”. (Bersambung)

Penulis: Nurcholish Madjid (Sumber: Panjimas, Oktober 2003)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda