Mutiara

Penguasa Jawa Lama

Written by A.Suryana Sudrajat

Dua kali gagal racuni putra mahkota, Amangkurat I  akhirnya mati diracun sang anak. Kekuasaan, dengan intrik-intriknya yang melampaui batas moral, kerap memperlihatakan wajahnya yang kejam. Apalagi tanpa kontrol – hal yang niscaya di alam demokrasi.  

Awal  tahun 1659 Pangeran Pekik dan keluarganya dibunuh oleh menantunya sendiri yaitu Sunan Amangkurat I. Peristiwa ini meninggalkan kesan yang mendalam pada cucunya, Pangeran Adipati Anom, kelak  menjadi Amangkurat II. Putra Mahkota tidak lain adalah putra Kanjeng Ratu Pangayun, putri Pangeran Pekik dari Surabaya. Ibu putra mahkota ini meninggal, tidak lama setelah ia lahir. Dendam kepada sang ayah ini terus dipupuk, dan direalisasikan dalam berbagai jalinan kompolotan dengan berbagai pihak untuk menggulingkan raja yang kejam itu. Di antaranya dengan Kiai Kajoran dan Raden  Trunojoyo.

Amangkurat sendiri yang merasa kedudukannya terancam, pernah dua kali mencoba membunuh putra mahkota dengan cara meracuninya, Tetapi upaya pembunuan ini gagal.Tanggal 18 Oktober 1663 Residen melaporkan bahwa sudah dua kali Raja mencoba “meracuniipangeran de Patty, putranya yang  tertua, tetapi pangeran ini telah diberi tahu sebelumnya oleh para dayang Sunan.” Para dayang ini kelak akan bernasib nahas, menyusul kematian istrinya yaitu Ratu Malang. Para dayang yang tidak bersalah itu mati dibunuh atas tuduhan membunuh sang permisuri.

Pertengahan tahun 1677 para pemberontak di bawah Raden Trunojoyo, menantu Raden Kajoran, mulai mengepung istana Mataram di Plered. Ini membuat Amangkurat  merasa tidak aman lagi di dalam Keraton. Ia pun pergi di malam hari, tanpa dihalangi oleh siapa pun. Hanya sedikit orang yang mengantarnya: beberapa orang anggota keluarga, yakni putra-putranya, Raden Tapa dan Raden Aria Panular, dan dua orang wanita. Ia membawa serta semua pusaka, kecuali yang berat sekali, seperti meriam keramat Nyai Setomi. Harta kekayaan kerajaan sebanyak 350.000 ringgit terpaksa ditinggalkan.

Sebelum menuju jurusan barat, Sunan menginap satu malam di Imogiri, makam keramat leluhurnya. Menyedihkan sekali ketika ia berpamitan dari putranya yang berusia 12 tahun, Raden “Goude”, yang dalam keadaan sakit parah tidak dapat melanjutkan perjalanan, dan terpaksa tinggal bersama ibunya di Imogiri. Tidak lama kemudian anak itu meninggal, dan ibunya oleh Raden Trunajoyo diambil sebagai istri.

Di Jagabaya Sunan berusaha bergabung dengan putra-putranya yang sudah melarikan terlebih dahulu, yaitu Pangeran Singasari dan Pangeran Puger. Namun,  penerimaan mereka begitu dingin sehingga ia melanjutkan perjalanan seorang diri. Tetapi di Nampudadi dijumpainya putra sulungnya, Pangeran Adipati Anom,  yang kemudian pergi bersama ayahnya. Putra Mahkota rupanya berbalik dan berpihak kepada ayahnya lantaran melihat gelagat Raden Trunojoyo ingin berkuasa, atau tak ingin menyerahkan kekuasaan kepadanya setelah menguasai keraton, merampas semua isinya, dan meninggalkan keraton yang malang itu.

Dalam perjalanan pelaian itu, Sunan  jatuh sakit. Ia tidak dapat makan dan tidur. Di Banyumas terpaksa beristirahat selama tiga hari. Akhirnya ia   meninggal di Wanayasa atau Ajibarang, yang letaknya berdekatan.

Selama perjalanan   yang menyedihkan itu muncul berbagai kisah. Misalnya, di daerah  Karanganyar Raja dan istri-istrinya dirampok, sekalipun ia menyuruh menyebarkan uang untuk mengalihkan perhatian para perampok. Lalu sambil menunjuk pada mereka, ia mengucapkan kutuk, yang menyebabkan para perampok itu segera terjatuh menggelepar atau menjadi lumpuh. Juga diceritakan. sebelum menutup mata untuk selama-lamanya, Sunan menyerahkan beberapa pusaka kerajaan kepada putra yang tetap setia kepadanya, Pangeran Adipati Anom, yakni gong Kiai Bicak dan keris Kiai Balabar.

Sebuah laporan Belanda menyebutkan, untuk mempercepat meninggalnya sang ayah, Putra Mahkota  memberikan sebutir pil. Dalam cerita tutur (Babad Tanah Djawi)  Raja juga menyinggung soal ini  setelah Raden Adipati Anom membuat lubang pada sebuah kelapa yang ditawarkan kepada ayahnya. melihat hal itu, Raja yang sedang menghadapi maut ini meramalkan bahwa kewibawaan Sunan tidak akan menetap dalam kalangan keturunannya. Memang, muncul juga pertanyaan:  Apa untungnya Pangeran Adipati Anom melakukan pembunuhan terhadap orang yang sedang sekarat?

Sunan dimakamkan di sebelah gurunya, Tumenggung Danupaya,  di Tegalwangi, Tegal, sesuai dengan permintaannya. Seperti ayah Raja yang dimakamkan  menjelang dinihari di puncak gunung, Amangkurat pun dimakamkan di atas bukit buatan, dengan tiga anak tangga, dan di puncaknya didirikan cungkup yang sederhana. Sampai sekarang Amangkurat I tetap  beristirahat di Tegalwangi, dan makamnya cukup terawat

Makam Amangkurat I di Tegal

Perilaku kejam dan sewenang-wenang para penguasa, di Tanah Jawa atau di belahan duna mana pun, adalah cerita yang akan terus berulang. Dalam wujud yang berbeda, tentu. Karena itu demokrasi yang sehat memerlukan kontrol yang kuat dai masyarakat. Tapi penguasa yang tidak percaya diri, kerap memperlakukan mereka yang kritis terhadap kekuasaan sebagai lawan yang dihancurkan.***.

Sumber: H.J. de Graaf, Runtuhnya istana Mataram (1987)

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024