Mutiara

Yang Mewarisi dan Mewariskan

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kiai Bisri Mustofa adalah ulama-penulis yang produktif, dan tanpa meninggalkan Gelanggang  politik dalam tiga zaman. Bagaimnaa dia menginterpretasikan teks-teks keagamaan seperti dalil-dalil  Alquran dan hadis, serta karya ulama terdahulu?

Inilah ulama yang  berkiprah dalam kehidupan politik tiga zaman, namun tetap produktif menulis, dan sukses mendidik putra-putrinya. Dia adalah K.H. Bisri Mustofa, yang di zaman revolusi ikut bertempur pada 10 November 1945 bersama Kiai Abbas Buntet, Cirebon, menjadi anggota Konstituante, terlibat dalam proses suksesi kepemimpinan nasional dari Soekarno ke Soeharto, dan menjadi bagian penting dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai hasil fusi partai-partai Islam.

Meski begitu, orang mengenang Kiai Bisri Mustofa sebagai  ulama-tafsir, pengasuh pondok pesantren Roudlatul Mujtahiddin Rembang. Ia dilahirkan di Kampung Sawahan,  Gang Palen, Rembang, Jawa Tengah pada tahun 1915, putra pertama dari empat bersaudara pasangan H. Zaenal Mustofa dengan istri keduanya yang bernama Hj. Khadijah.

Semula  Bisri bernama Mashadi.  Kemudian ia mengganti namanya menjadi Bisri Mustofa setelah menunaikan ibadah haji (1923). Ia sudah menjadi yatim sejak usia delapan tahun. Di usianya yang ke-20  ia dinikahkan oleh gurunya, Kiai Cholil, dengan Ma’rufah, yang tidak lain adalah putri Kiai Cholil sendiri. Dari perkawinan ini ia dianugerahi delapan anak, dua di antaranya yaitu K.H. Cholil Bisri dan K.H. Mustofa Bisri merupakan tokoh NU terkemuka yang kerap tampil di pentas nasional.

Pulang dari Tanah Suci,, Bisri Mustofa kemudian melanjutkan sekolahnya di sekolah HIS (Hollands Inlands School) atas dorongan H. Zuhdi pamannya. Namun tak lama kemudian, ia dipaksa keluar oleh Kiai  Cholil dengan alasan sekolah tersebut milik Belanda. Kiai Cholil khawatir Bisri akan mempunyai watak seperti penjajah jika sekolah di H.I.S. Kiai Cholil kemudian memasukannya kembali ke sekolah ongko loro atau sekolah desa.

Pada 1926, setelah lulus dari Ongko Loro, Bisri Mustofa melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Kajen,  Pati, dan Pesantren Kasingan. Setelah itu ia meneruskan studinya ke Mekah. Tahun 1939 Kiai Cholil meninggal dunia, dan kepemimpinan pesantren dialihkan ke menantunya, Bisri Mustofa. Dan sejak itulah gelar kiai   melekat kepada diri Bisri Mustofa.

Di samping kegiatan mengajar di pesantren, Bisri Mustofa juga aktif pula mengisi ceramah-ceramah (pengajian) keagamaan. Ia dikenal seorang orator ulung, sehingga ia sering diundang untuk mengisi ceramah dalam berbagai kesempatan di luar daerah Rembang, seperti Kudus, Demak, Lasem, Kendal, Pati, Pekalongan, Blora dan daerah-daerah lain di Jawa Tengah.

Bisri Mustofa dikenal sebagai ulama yang produktif  menulis. Hari-harinya tidak dilewatkannya dengan tanpa menulis. Dalam menginterpretasikan teks-teks keagamaan baik itu dalil Alquran dan hadis ataupun naskah-naskah karya ulama terdahulu, ia  tidak hanya menerjemahkan apa adanya, tetapi juga menyertakan pendapat, argumentasi dan pemikirannya dalam menjelaskan suatu teks tersebut. Di antara karya-karyanya adalah berupa syarah atas kitab-kitab  antara lain Jurumiyah, Nadham ‘Imrithi, Alfiyah ibn Malik, Nadham al-Maqshud, dan Syarah Jauhar Maknun yang dijadikan panduan bagi santri untuk mempelajari Bahasa Arab. Di bidang akhlak, Bisri Mustofa mengarang kitab berbahasa Jawa Washoya Abaa lil-Abna,  dimana dia menyampaikan nasihat-nasihatnya kepada generasi muda. Sementara dalam karya yang berbentuk syair Jawa, ia mengarang kitab Ngudi Susila dan Mitra Sejati, dan lain-lain. Karya monumentalnya tentu saja Tafsir Al-Ibrîz li Ma’rifat Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azîz yang selesai ditulis pada tahun 1960 dengan jumlah halaman setebal 2270 yang terbagi ke dalam tiga jilid. Tafsir Al-Ibriz adalah kitab tafsir Bahasa Jawa. Selain itu ia juga menyusun kitab Tafsir Surah Yasin. Tafsir ini bersifat praktis dan sangat singkat dapat digunakan sebagai pedoman oleh para santri dan dai di pedesaan untuk membaca dan mengamalkannya.

Bisri Mustofa juga mengarang Kitab al-Iksier yang berarti Pengantar Ilmu Tafsir sengaja yang ditulis untuk para santri yang sedang mempelajari ilmu tafsir. Dalam bidang hadis, ia menyusun kitab hadis yang berjudul Sullamul Afham, terdiri atas empat ilid, yang didalamnya memuat hadis hukum syara’ secara lengkap dengan terjemahan dan keterangan secara sederhana. Kemudian ia menyusun dua kitab hadis yang dijadikan panduan bagi para santri di pesantren, yaitu kitab Al-Azwad al-Mustofawiyah, berisi tafsiran Hadits Arba’in an-Nawawiy dan Al-Mandhomatul Baiquny, berisi ilmu Musthalah al-Hadits yang berbentuk nadham. Dengan begitu, sebagai ulama, yang notabene adalah waratsatul anbiya, Bisri Mustofa tidak mewarisi semangat perjuangan para nabi, tetapi ia juga meninggalkan berbagai warisan yang berharga untuk generasi sekarang.

KH Bsri Mustofa wafat pada 17 Februari 1977

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • hamka