Tasawuf

Kyai Jawa Berdakwah

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Rahman iku mencaraken eling

eling iku mencaraken makripat

makripat sihing Gusti

Gusti Kang Maha Agung

lire Agung datanpa sami

mokal yen ana madha

Gusti Maha Luhur

kang darbeni sipat jamal

sipat kahar ingkang kapama sekali

pakartine buwana.

Terjemahan bebasnya:

Rahman itu menyebarkan ingat (dalam konsteks ini ingat akan Allah)

ingat itu menyebarkan makrifat

makrifat kasih sayang Gustinya (maksudnya Gusti Allah)

Gusti yang Maha Agung

yakni Agung tanpa ada yang menyamai

mustahil bila ada yang menyamai

Gusti yang Maha Luhur

yang memiliki sifat keindahan

sifat kahar yang sangat mulia

pencipta dunia ini.

(Bait ke 28 dari Serat Nitiprana, tembang Dhandanggula, karangan pujangga Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Yasadipura, 1729 – 1803M, kakek dari pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita).

Meskipun sering risih mendengar orang-orang tua Jawa mengklaim memiliki budaya adiluhung, hati kecil saya terkadang membenarkan juga. Cobalah perhatikan bekas peninggalan Keraton Boko di Prambanan, Jawa Tengah serta ratusan candi lainnya, terutama Candi Prambanan dan Borobudur, yang merupakan bukti kejayaan sebuah peradaban pada sekitar abad ke-8 yang telah diakui dunia. Candi-candi tersebut bukan sekedar bongkahan batu. Tapi batu yang tersentuh peradaban dan teknologi yang amat sempurna. Diangkat dan disusun di daerah perbukitan. Dipahat dan diberi relief nan indah. Melebar, menjulang tinggi tak terperikan mengagumkannya. Ketinggian Candi Prambanan, mencapai 47 meter.

Bukti tentang peradaban yang cukup maju lainnya juga ditemukan melalui berbagai prasasti dan kondisi lapangan, yang menjelaskan mengenai setidaknya  lima sistem irigasi yang tertata baik, yang dibangun pada rentang periode abad 9 sampai dengan 14 di lembah Sungai Brantas, Jawa Timur. (1000 Tahun Nusantara, Kompas 2000)

Jejak-jejak peradaban  menunjukkan pula, pada masa Kerajaan Islam Pertama, yaitu Demak Bintoro sekitar abad 15 sampai awal abad 16, Kesultanan Demak tersebut pernah membangun armada angkatan laut dengan mega proyek galangan kapalnya di Semarang, untuk melawan Portugis yang sudah menguasai Malaka. Tidak tanggung-tanggung, mega proyek tersebut merencanakan dalam tempo lima tahun akan membangun 1000 (seribu) kapal perang masing-masing berkapasitas 400 tentara. Itu berarti sama dengan 400.000 balatentara. Kapal perang yang dibangun mengkombinasikan model jung Jawa dan Cina dengan jung Aceh, guna menghasilkan bentuk kapal yang kokoh seperti jung Jawa dan Cina tapi memiliki laju kecepatan tinggi seperti jung Aceh. Sayang sekali, baru berhasil membuat 100 kapal untuk menyerbu Portugis di Malaka, mega proyek itu dibumihanguskan oleh perang saudara.

Sungguh, lagu anak-anak “Nenek Moyangku Orang Pelaut”, bukanlah  khayalan semata. Mengenai kemampuan nenek moyang kita bangsa Nusantara pada umumnya dan orang Jawa pada khususnya dalam menguasai teknologi perkapalan, banyak fakta sejarah yang membuktikan. Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo, dengan mengutip berbagai sumber tulisan dari Barat, menguraikan betapa pada tahun 70-an Masehi, cengkih dari kepulauan Maluku sudah diperdagangkan di Roma, dan semenjak abad ke-3 Masehi, perahu-perahu dari kepulauan Nusantara telah menyinggahi anak benua India serta pantai timur Afrika, dan sebagian di antaranya bermigrasi ke Madagaskar.

Bukan hanya dari para pencatat perjalanan orang-orang Barat saja, kisah pelayaran tadi juga bisa ditemukan di relief Candi Borobudur. Beberapa tahun yang lalu, ahli-ahli perkapalan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi, juga telah membuktikan kehandalan perahu di relief candi tersebut, dengan membuat tiruannya dan melayarkannya dari Bali ke Madagaskar dengan selamat.

Pencatat sejarah Cina anak buah  Fa Hsien di akhir abad ke-3 dan awal abad ke-4 Masehi menerangkan pula bahwa pelaut-pelaut Nusantara memiliki kapal-kapal besar yang panjangnya 200 kaki ( 65  meter), tingginya 20 – 30 kaki ( 7 – 10 meter), dan mampu dimuati 600 – 700 orang ditambah muatan seberat 10.000 hou.

Sementara pada masa itu, panjang jung Cina terbesar tidak sampai 100 kaki (30 meter) dengan tinggi kurang dari 10 – 20 kaki ( 3 – 7 meter). Catatan yang ditulis dalam Tu Kiu Kie ini telah dikutip oleh banyak ahli yang mempelajari sejarah agama Buddha maupun Asia Tenggara di masa lalu.  Ahli Javanologi Belanda, Van Hien tahun 1920 dalam De Javansche Geestenwereld, yang disadur secara bebas oleh Capt.R.P.Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa, penerbit LkiS Yogyakarta 2007 halamam 12, menerangkan Shi Fa Hian (Fa Hsien) dalam perjalanannya pulang ke China diserang badai dan terdampar di pantai pulau Jawa. Ia berdiam lima bulan di Jawa, menunggu selesainya pembuatan sebuah kapal besar yang sama dengan kapalnya yang rusak dihantam badai ( juga Atlas Walisongo halaman 20).

Gambaran tentang kemampuan nenek moyang kita tadi, dicatat pula oleh pengembara Portugis tahun 1512 – 1515 Tome Pires dalam karyanya yang sangat terkenal dan sering menjadi sumber rujukan sejarah Asia Tenggara, Suma Oriental (dalam Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit , oleh Prof.Dr. Slamet Mulyana, Inti Idayu Press, Jakarta 1983 halaman 282, 283 dan seterusnya). Menurut Tome Pires, Sultan Malaka yang bergelar Raja Muzaffar Syah (1450 – 1458) serta puteranya yaitu Raja Mansyur Syah (1458 – 1477), sebagai raja bawahan Jawa, memiliki hubungan yang baik dengan Jawa. Bahkan untuk keperluan menunaikan ibadah haji ke Mekah, Raja Mansyur Syah memesan jung besar dari Jawa.

Sejarah panjang peradaban Jawa dan juga daerah-daerah lain di Nusantara, banyak dikupas oleh para penulis sejarah asing, yang daftar rincian penulis tersebut sekarang ini bisa dilihat antara lain di buku Atlas Walisongo, yang diterbitkan oleh Pustaka IIman, Trans Pustaka dan  LTN PBNU,  2012.

Dalam halaman 374 buku tadi bahkan digambarkan secara ekstrem kesombongan orang Jawa Majapahit. Diogo Do Couto yang datang ke Jawa tahun 1526, yaitu setahun sebelum balatentara Demak menyerbu  Girindrawardhana di Majapahit, mencatat antara lain sebagai berikut:

“Pulau Jawa melimpah atas segala sesuatu yang terkait dengan kebutuhan hidup manusia. Begitu berlimpahnya sehingga Malaka, Aceh dan semua negeri tetangga memperoleh pasokan kebutuhan dari situ. Penduduk pribuminya disebut orang Jawa (Jaos); mereka orang-orang yang sombong, selalu memandang orang bukan Jawa lebih rendah.”

Kesultanan Demak terpaksa kembali menyerbu Majapahit yang statusnya sudah diturunkan menjadi sebuah kerajaan kecil berkedudukan di Kediri itu, karena secara diam-diam menjalin hubungan dengan orang-orang Portugis yang sudah membuat persetujuan dengan Raja Pasundan, bahkan sudah diijinkan membangun benteng di Sunda Kelapa. Mengutip Tome Pires, Prof.Dr.Slamet Mulyana dalam Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit halaman 342 dan 346 menyatakan, Kerajaan Kediri yang oleh sejumlah ahli sejarah merupakan kelanjutan dari Majapahit, bahkan beberapa kali menyerang Jepara, Demak dan Kudus. Hubungan Kediri dengan Portugis juga dikisahkan oleh Tome Pires pada halaman 282.

Kondisi masyarakat yang bangga dengan peradabannya yang maju seperti itulah, yang dihadapi para kyai atau ustadz khususnya yang dikenal sebagai “Wali Songo” (Wali Sembilan), dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Para feodal dan pemuka masyarakat Jawa berpendapat, tidak ada kelebihan orang Arab atas orang Jawa. Sejalan dengan bunyi sebuah hadis, para ulama menyetujui pandangan tersebut dan melengkapi, demikian pula orang Jawa atas orang Arab. Serta tidak ada kelebihan orang kulit hitam atas orang kulit putih dan sebaliknya, kecuali taqwa. Kita semua berasal dari Adam, dan Adam dari debu. Subhanallah. (Seri tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda