Cakrawala

Makna Intrinsik dan Instrumental Salat (Bagian 3)

Written by Panji Masyarakat

Manusia adalah makhluk yang, sekalipun pada dasarnya baik, juga lemah. Kelemahan ini membuatnya tidak selalu mampu menangkap kebaikan dan kebenaran dalam kaitan nyatanya dengan hidup sehari-hari. Jadi apa yang harus dia lakukan?

Karena itu, salat disyariatkan agar manusia senantiasa memelihara hubungan dengan Allah. Ditegaskan, misalnya, dalam perintah kepada Nabi Musa a.s. saat ia berjumpa dengan Allah di Sinai, “Sesungguhnya Akulah Allah, tiada tuhan selain Aku. Maka sembahlah Daku dan tegakkan salat untuk mengingat-Ku (Q. 20:14).” Dan ingat kepada Allah, yang dapat berarti kelestarian hubungan   yang dekat dengan Allah, juga berarti menginsafkan diri sendiri akan makna terakhir hidup di dunia ini, yaitu bahwa “Sesungguhnya kita berasal dari Allah, an kita akan kembali kepada-Nya (Q. 2:156).” Maka dalam literatur kesufian berbahasa Jawa, Tuhan Yang Maha Esa adalah Sangkan Paraning Hurip (asal dan tujuan idup), bahkan Sangkan Paraning Dumadi (asal dan tujuan semua makhluk).

Keinsafan  terhadap Allah sebagai tujuan hidup tentu akan mendorong seseorang bertindak dan berpekerti sedemikian rupa sehingga kelak akan kembali kepada Allah dengan penuh perkenan dan diperkenankan (radhiyah mardhiyah). Karena manusia mengetahui, baik secara naluri maupun logika, bahwa Allah tidak akan memberi perkenan kepada suatu yang tidak benar dan tidak baik, maka tindakan pekerti yang harus ditempuhnya dalam rangka hidup yang lurus adalah yang asal-muasalnya ditunjukkan dan diterangi hati nurani (nurani, bersifat cahaya, yakni terang dan menerangi), yang merupakan pusat rasa kesucian (fitrah) dan sumber dorongan suci manusia menuju kebenaran (hanif).

Tetapi manusia adalah makhluk yang, sekalipun pada dasarnya baik, juga lemah. Kelemahan ini membuatnya tidak selalu mampu menangkap kebaikan dan kebenaran dalam kaitan nyatanya dengan hidup sehari-hari. Sering kebenaran tak tampak padanya karena terhalang oleh hawa nafsu (hawa an-nafs, kecenderungan diri sendiri) yang subjektif dan egois sebagai akibat dikte dan penguasaan oleh vested interest-nya. Karena dalam usaha dan mencari kebenaran tersebut mutlak diperlukan ketulusan hati dan keikhlasannya, yaitu sikap batin yang murni, yang sanggup melepaskan diri dari dikte dan kecenderungan diri sendiri atau hawa nafsu itu.

Begtulah, dalam salat kita membaca surah Al-Fatihah – yang merupakan bacaan penting dalam ibadat itu – karena kandungan makna surah itu yang terutama harus dihayati benar-benar ialah permohonan kepada Allah agar ditunjuki  jalan yang lurus (ash-shiratal mustaqim). Permohonan itu setelah didahului dengan pernyataan bahwa seluruh perbuatan dirinya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah (basamalah), diteruskan dengan pengakuan dan panjatan pujian kepada-Nya sebagai pemelihara seluruh alam raya (hamdalah), Yang Maha Pengasih (tanpa pilih kasih) di dunia ini – Ar-Rahman, dan Maha Penyayang (kepada kaum beriman di akhirat kelak) – Ar-Rahim.

Lalu dilanjutkan dengan pengakuan kepada Allah sebagai Penguasa Hari Pembalasan, ketika setiap orang akan berdiri mutlak sebagai pribadi di hadapannya selaku Mahahakim, dikukuhkan dengan pernyataan bahwa kita tidak akan menghambakan diri kecuali kepada-Nya, semurni-murninya, dan juga hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan, karena menyadari bahwa kita sendiri tidak mempunyai kemampuan intrinsik untuk menemukan kebenaran.

Dalam peneguhan hati bahwa kita tidak menghambakan diri kecuali kepada Allah, serta dalam penegasan bahwa hanya kepada-Nya kita mohon pertolongan, seperti dikatakan Ibn ‘Athailah  as-Sakandari, kita berusaha mengungkapkan ketulusan kita dalam memohon bimbngan ke arah jalan yang benar. Yaitu ketulusan berbentuk pengakuan bahwa kita tidak dibenarkan mengarahkan hidup ini kepada sesuatu apa pun selain Tuhan, dan ketulusan  berbentuk penglepasan pretensi-pretensi akan kemampuan diri menemukan kebenaran. (Bersambung)

Penulis : Nurcholis Madjid (Panjimas,2003)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda