Cakrawala

Cambuk Bencana

“Pada saat itu,” begitu beliau memulai cerita, “Saya merasa berada di ketinggian, entah dimana, saya tak tahu persisnya. Yang jelas, jauh, jauh di bawah, saya melihat sebuah ruang yang begitu besar dengan sekian banyak bola kecil, sangat kecil sehingga tak saya kenali ciri-cirinya!”

“Tapi, semakin lama semakin jelas bahwa salah satu bola kecil itu adalah bumi. Dan, kepulauan Jepang-lah yang langsung terlihat, begitu garis dan tekstur bumi mulai jelas. Saat itulah, saya sedang mengamati pulau-pulau itulah, secara bersamaan saya melihat sebuah cambuk raksasa diayunkan di ruang angkasa!” Sampai disini, beliau menarik nafas sebelum melanjutkan kisahnya.

“Cambuk bulat raksasa yang berkilat-kilat, meliuk-liuk dan tampak sedang di arahkan ke bumi. Semula, saya mengira cambuk diarahkan ke Jepang yang saat itu memang sedang saya perhatikan; tapi saya keliru, sangat keliru! Ayunan cambuk ternyata mengarah jauh ke bawah, ke deretan pulau-pulau yang dengan tiba-tiba saja sangat jelas saya kenali sebagai wilayah kepulauan Indonesia!” Beliau terdiam, menundukkan kepalanya. Rona kepedihan tampak terpancar dari wajahnya.

Dengan terbata, beliau lanjutkan kisahnya. “Pada saat itu, saya demikian terkejut, luar biasa terkejut sehingga tanpa sadar berteriak: Jangan kesana! Itu tempat tinggal saya. Saya tidak mungkin diam di sini, sementara disana kesengsaraan bertebaran dimana-mana!”

“Hanya sampai di situ, semua penglihatan saya hilang, saya tersadar! Hal terakhir yang saya ingat, saya merasa sedang bergegas turun. Keadaan di bawah penuh kekacauan, keributan di mana-mana. Suasananya seperti kiamat!”

Sekian waktu lampau, seorang Kyai Sepuh menceritakan visinya ini pada saya. Lama saya simpan kisah ini, karena pesan beliau sendiri. Maksudnya jelas, beliau tidak ingin orang salah menafsirkannya.

Tentu disini saya tak ingin memperdebatkan validitas visi semacam ini. Akan selalu ada sudut pandang yang bisa dipakai untuk mempertanyakannya. Lebih lagi, karena kentalnya unsur ‘subyektivitas’, visi semacam ini sudah pasti dengan mudah bisa dikelirukan dengan ‘gelembung-gelembung imajis’ yang sering mengganggu perjalanan manusia ke pusat kesadarannya.

Tapi, sudahlah, disini bukan tempatnya untuk berdebat. Untuk sementara, taruhlah visi yang dilihat oleh Kyai Sepuh tersebut benar. Dari sini sudah pasti ada beberapa konsekuensi yang bisa ditarik, tentu termasuk penyikapan yang mungkin bisa diambil.

Tapi, sebelumnya ada beberapa posisi dasar yang secara apriori harus diterima dulu. Salah satunya adalah keyakinan para sufi, bahwa selalu ada tabir lembut yang melindungi manusia dari apa saja yang bisa mencelakakannya; baik yang muncul dari sesamanya, dari binatang maupun dari benda-benda. Tabir lembut ini boleh dibayangkan sebagai semacam kapsul, dimana manusia terlindung di dalamnya.

Tabir lembut ini baru akan terbuka bila Tuhan menghendakiNya. Dan bentuk cambuk dalam visi Kyai Sepuh di atas mestinya bisa dipakai untuk mengindikasikan alasan terbukanya kapsul perlindungan bangsa ini.

Kalau boleh menarik sedikit pelajaran, seperti diungkap seorang kawan yang mendengar cerita ini; rasanya tabir itu mulai tersingkap setidaknya sejak 1998. Semakin lama ketersingkapan itu semakin meluas, sehingga menciptakan lubang besar. Lewat lubang yang semakin membesar inilah, atau boleh jadi malah sudah tersingkapnya seluruh tabir; membuat semua elemen ‘jahat’ bebas masuk untuk menciptakan rangkaian bencana yang berpotensi mengaduk-aduk bangsa ini.

Nah sekarang, tergantung kita -terutama para tokoh yang duduk sebagai pemimpin bangsa- untuk menafsirkannya. Hampir pasti, ada ‘akumulasi dosa’ yang sudah lewat ambang batas toleransi. Masalahnya: Akankah kita nekad terus mengabadikannya? Akankah kita memilih untuk terus dicambuki? Sampai lebur tak bersisa lagi?

Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Mulia Indonesia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • 23-april-19972-1024x566
  • hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat