Tasawuf

Belajar Islam Mulai dari Makna dan Hakikat

B.Wiwoho
Written by B.Wiwoho

Ono tangis, layung-layung

tangise wong, wedi mati

gedongono, kuncenono

mongso wurungo wong, mati …………..

(Ada tangis, sayup-sayup, tangis dari orang yang takut mati,

biar dilindungi dalam gedung/benteng kokoh, terkunci rapat,

takkan mungkin manusia menghindar dari kematian:

Penjabaran dari Surat An-Nisa :78)

Almarhumah ibu saya adalah seorang penganut Islam-Kejawen, dalam pengertian bangga hidup sehari-hari sebagai orang Jawa dengan budaya Jawanya, tapi beriman dan beragama Islam. Sebagai orang Jawa yang beragama Islam, maka dalam mengajarkan tentang kematian yang tak mungkin kita hindari, almarhumah senang membuka kedua telapak tangan saya dan berkata : “Lihatlah garis tangan di kedua telapak tangan kita. Huruf apa ini? Huruf M. Singkatan dari Manusia Mesti Mati.” Oleh karena itu menurut ibu kita tidak boleh takut menghadapi kematian. Yang harus kita takuti adalah jika kematian itu secara konyol, tidak bermakna atau bahkan karena kejahatan. Maka hidup haruslah bermakna dan dipenuhi kebaikan, sedangkan kematian yang paling utama adalah secara syahid.

Selanjutnya dengan “sangat merdu” beliau mendendangkan tembang OnoTangis sebagaimana tersebut di atas. Inilah sebuah bait lagu yang paling berkesan yang pertamakali saya ingat, dan alhamdulillah terus saya ingat sampai sekarang. Sebagai orang Jawa Islam, ibu saya mengajarkan bacaan surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas, tidak sebagaimana anak-anak Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) sekarang belajar mengaji, tetapi dengan mendendangkan Kidung Kawedar yang kami percaya sebagai ciptaan Sunan Kalijaga. Sedangkan mengenai bacaan zikir, beliau mengajarkan “Puji Dino (zikir pujian harian)”, yang kemudian hari saya ketahui dari Buya K.H. Endang Bukhorie Ukasyah  (Pesantren Asyrofuddin, Congeang, Sumedang), merupakan ajaran zikir Al-Ghazali, yaitu seperti berikut:

1. Jum’at    : Ya Allaah 1000 x

2. Sabtu: Laa ilaaha illallaah 1000 x

Tiada tuhan yang patut disembah kecuali Gusti Allah.

3.Ahad         : Ya hayyu ya qayyum 1000 x

Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Dengan Sendiri Nya.

4. Senin      :  La haula walaa quwwata illaa billaahil  ‘aliyyil azhiim 1000x

Tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan bantuan Gusti Allah Yang Maha Tinggi Lagi Maha Agung.

5. Selasa     :  Allaahumma shalli ‘ala sayidina Muhammad 1000x

Duh Gusti Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan Kanjeng Nabi Muhammad.

6.  Rabu: Astaghfirullaahal ’azhiim 1000 x

                      Ampunilah hamba Duh Gusti  Yang Maha Agung.

7.  Kamis     : Subhaanallaahil ‘azhiim wa bihamdihi 1000 x

Maha Suci Gusti Allah Yang Maha Agung dan segala puji bagi Paduka.

Yang justru sangat berat bukanlah bagaimana melafalkan zikir tersebut, tetapi mengamalkan hakikat dan maknanya dalam kehidupan, dan yang lebih berat lagi, ibu menyertai dengan sebanyak mungkin puasa sunah dan hanya memakan makanan halal hasil “keringat” sendiri.

Masya Allah laquwwata illa billah(Seri tulisan “Orang Jawa Mencari Gusti Allah”).

About the author

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda